Ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang langsung bisa menandai seseorang sebagai alumni pesantren meskipun dia tidak pernah mengatakannya secara eksplisit. Kebiasaan yang terbentuk dari bertahun-tahun hidup di lingkungan pesantren dan melekat begitu kuat sampai tidak bisa dihapus oleh berapa pun lama waktu yang berlalu setelah lulus. Kebiasaan-kebiasaan itu positif, unik, dan eksklusif hanya dimiliki oleh orang yang pernah mondok.
Kebiasaan pertama adalah bangun sebelum subuh tanpa alarm. Tubuh yang sudah bertahun-tahun terlatih untuk terjaga di jam tiga atau empat pagi tidak bisa direset meskipun sudah puluhan tahun tidak mondok. Alumni pesantren yang sudah bekerja, berkeluarga, dan tinggal di kota besar masih terjaga di jam yang sama setiap hari. Bukan karena insomnia. Karena jam biologis yang sudah terbentuk terlalu kuat untuk diubah.
Kebiasaan kedua adalah langsung merapikan tempat tidur setelah bangun. Bukan pilihan sadar setiap pagi. Sudah menjadi gerakan otomatis yang terjadi tanpa berpikir. Kaki turun dari kasur, tangan langsung menarik selimut dan merapikan bantal. Pasangan yang tidak pernah mondok kadang heran melihat tempat tidur sudah rapi sebelum sarapan selesai.
Kebiasaan ketiga adalah refleks berdoa sebelum melakukan apapun. Sebelum makan, sebelum perjalanan, sebelum rapat, sebelum tidur. Bibir bergerak mengucapkan doa yang sudah sangat hafal tanpa perlu mengingat-ingat. Kebiasaan ini menjadi momen jeda spiritual yang sangat berharga di tengah kesibukan hari.
Kebiasaan keempat adalah makan dengan cepat dan efisien tanpa membuang makanan. Alumni pesantren yang terbiasa makan di kantin yang waktunya terbatas membawa kebiasaan makan yang efisien ke kehidupan setelahnya. Piring selalu bersih. Tidak ada makanan yang terbuang. Tidak ada waktu yang dihabiskan terlalu lama di meja makan.
Kebiasaan kelima adalah menyelipkan kata-kata Arab ke dalam percakapan sehari-hari tanpa sadar. Syukron saat berterima kasih. Afwan saat meminta maaf. Jazakallah saat mendoakan kebaikan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dan baru disadari saat lawan bicara memberikan tatapan bingung.
Kebiasaan keenam adalah langsung salim saat bertemu orang yang lebih tua. Tangan terulur dan kepala sedikit menunduk secara refleks. Gerakan yang di zaman modern mungkin terasa kuno tapi justru karena kelangkaannya menjadi sangat berkesan bagi orang yang menerimanya.
Di Darunnajah 2 Cipining, kebiasaan-kebiasaan ini terbentuk dari kehidupan sehari-hari yang konsisten selama bertahun-tahun. Setiap alumni membawa kebiasaan yang sama ke mana pun mereka pergi setelah lulus, menjadi identitas diam yang langsung dikenali oleh sesama alumni.
Kebiasaan positif memang tidak bisa dibeli atau diinstall seperti aplikasi. Harus dibentuk dari pengulangan yang konsisten selama waktu yang cukup lama. Dan pesantren memberikan waktu itu dengan sangat murah hati.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.