Ada Kebaikan yang Datang dari Orang yang Tidak Kita Kenal — Pelajaran yang Cuma Bisa Dialami, Bukan Dibaca

Ada Kebaikan yang Datang dari Orang yang Tidak Kita Kenal — Pelajaran yang Cuma Bisa Dialami, Bukan Dibaca

Ada satu jenis pengalaman yang diam-diam membentuk cara seseorang memandang dunia — ketika seseorang yang belum pernah ditemui tiba-tiba berbuat baik tanpa alasan. Pengalaman yang mungkin terdengar sepele, tapi meninggalkan jejak di ingatan seumur hidup. Dan yang menarik, pengalaman ini makin langka di dunia yang makin terhubung tapi makin berjarak.

Kenapa pengalaman kebaikan dari orang asing begitu menentukan?

Karena ia meletakkan dasar untuk keyakinan tentang dunia yang sering kita sebut kepercayaan dasar.

Anak yang pernah mengalami seseorang yang tidak dikenal menolong dia tanpa pamrih — entah menunjukkan jalan saat tersesat, membagi makanan saat dia lapar di perjalanan, menemani saat dia takut di tempat asing — tumbuh dengan keyakinan bawah sadar bahwa dunia ini pada dasarnya baik. Keyakinan ini bukan naif. Ia adalah fondasi yang membuat seseorang berani terbuka pada kesempatan, berani percaya pada orang baru, berani keluar dari zona nyaman.

Sebaliknya, anak yang hampir tidak pernah mengalami kebaikan dari orang luar, cenderung tumbuh dengan kewaspadaan berlebih. Setiap orang baru dicurigai. Setiap tawaran dipandang sebagai jebakan. Dunia diperlakukan sebagai tempat yang penuh ancaman, bukan tempat yang bisa dieksplorasi dengan aman.

Perbedaan dua cara pandang ini terlihat kecil di hari biasa. Tapi di keputusan-keputusan besar hidup — apakah berani merantau, apakah berani membuka usaha, apakah berani berinteraksi dengan komunitas baru — dampaknya sangat terasa.

Kenapa pengalaman ini makin langka di zaman sekarang?

Karena anak-anak zaman sekarang semakin jarang berada di situasi di mana mereka berinteraksi dengan orang asing dengan cara yang bermakna.

Di rumah, semua orang yang masuk biasanya sudah dikenal. Tetangga yang itu-itu saja. Tamu yang sudah lama datang. Pengirim paket yang sama dari aplikasi.

Di perjalanan, anak biasanya di dalam mobil bersama orang tua. Interaksi dengan dunia luar minimal. Kalau berhenti di tempat publik, supir sudah ada, petugas sudah ada — semuanya sudah terstruktur dan terbayar.

Di sekolah, teman-temannya sudah dikenal dari kelas ke kelas. Guru-gurunya sudah dikenal bertahun-tahun.

Di media sosial, yang dilihat biasanya berita yang menakutkan tentang orang asing — penipuan, kejahatan, penculikan. Cerita tentang kebaikan dari orang asing jarang viral.

Kombinasi semua ini membentuk anak yang tumbuh dengan cerita dominan — dunia di luar keluarga dan orang yang sudah dikenal, penuh risiko dan tidak bisa dipercaya.

Seperti apa lingkungan yang masih menghadirkan pengalaman kebaikan dari orang asing secara rutin?

Lingkungan komunitas yang besar dan lintas generasi. Tempat di mana anak setiap hari bertemu orang yang sebelumnya belum dikenalnya, dalam konteks yang memungkinkan kebaikan kecil terjadi alami.

Pesantren adalah salah satu contoh.

Bayangkan seorang santri baru di minggu pertama. Ia tidak mengenal siapa pun. Tapi di hari pertama, ada kakak kelas yang datang menawarkan bantuan merapikan lemari. Ada teman sekamar yang menawarkan pinjaman buku catatan karena ia belum beli. Ada ustadz yang bertanya apakah ia sudah makan. Ada alumni yang kebetulan berkunjung dan mengajak ngobrol untuk menenangkan.

Semua ini terjadi tanpa direncanakan. Tanpa disuruh. Itu hanya bagian dari kultur pesantren — di mana orang yang baru datang diperlakukan sebagai saudara yang baru bergabung, bukan sebagai orang asing yang harus dicurigai.

Di Darunnajah 2 Cipining, dengan banyak santri dari berbagai daerah Indonesia, setiap santri baru akan otomatis masuk ke jaringan yang sangat luas. Bukan hanya kenal teman di kamarnya. Tapi perlahan kenal teman seangkatan dari berbagai kelas. Kakak kelas dari angkatan lebih tinggi. Alumni yang kebetulan datang. Ustadz dan ustadzah yang mengajar. Pengurus pesantren. Bahkan orang-orang dari dapur, petugas kebersihan, tukang kebun — semuanya jadi bagian dari ekosistem.

Apa yang perlahan tumbuh dari pengalaman seperti ini?

Kepercayaan pada manusia yang bukan dari suku, daerah, atau latar belakang yang sama. Ini tidak bisa dibentuk dari nasihat. Harus dari pengalaman berulang bahwa orang yang berbeda bisa sama-sama baik.

Kemampuan berinteraksi dengan orang baru dengan tenang. Anak yang di masa remajanya sudah bertemu ratusan orang berbeda dan mengalami berbagai bentuk kebaikan, saat dewasa tidak gugup di situasi sosial baru. Tidak takut masuk komunitas baru. Tidak canggung berkenalan dengan orang yang belum pernah ditemui.

Kemampuan menerima bantuan dengan anggun. Ada orang yang begitu mandiri sampai tidak bisa menerima pertolongan. Ini sebenarnya masalah — karena di hidup, akan ada saat kita butuh bantuan. Anak yang pernah mengalami dibantu orang asing tahu bahwa menerima tolongan tidak memalukan. Ia tahu cara berterima kasih dengan tulus.

Kemampuan memberi tanpa pamrih. Karena pernah merasakan diberi tanpa pamrih, anak belajar bahwa bentuk kebaikan ini nyata. Ia kemudian mengulang pola yang sama ke orang lain. Tanpa pernah diajari secara langsung.

Rasa terhubung dengan kemanusiaan secara umum. Anak tidak merasa dirinya hanya bagian dari keluarga kecilnya. Ia merasa dirinya bagian dari manusia yang lebih luas. Rasa terhubung ini jadi fondasi untuk empati yang dalam di kemudian hari.

Apa hubungan ini dengan visi pendidikan pesantren yang lebih luas?

Pesantren punya motto yang menarik — berdiri di atas dan untuk semua golongan. Prinsip ini tidak sekadar jargon. Ia hidup dalam praktik sehari-hari.

Santri dari berbagai latar keluarga, daerah, dan budaya sengaja ditempatkan bersama. Tidak ada pemisahan berdasarkan kelas ekonomi. Tidak ada pembedaan berdasarkan asal daerah. Semua santri makan di dapur yang sama, tidur di asrama dengan standar yang sama, belajar di kelas yang sama.

Dari praktik ini, anak belajar bahwa kebaikan tidak terbatas pada orang yang mirip dengan dirinya. Bahwa perbedaan latar belakang bukan penghalang untuk saling membantu. Bahwa manusia yang paling layak dipercaya bukan selalu yang paling mirip dengan kita.

Pelajaran ini jauh lebih kuat ditanamkan lewat pengalaman langsung selama bertahun-tahun dibanding lewat teori.

Bagaimana kalau ingin mengenal lebih jauh?

Suasana kebersamaan di pesantren sering lebih baik dirasakan dengan hadir langsung atau ngobrol dengan orang yang pernah di sana. Tim penerimaan santri baru di Pesantren Darunnajah 2 Cipining siap dihubungi kapan saja di wa.me/62812111180.

Bisa dimulai dari pertanyaan yang sederhana — bagaimana santri baru biasanya disambut, siapa saja yang membantu mereka di minggu-minggu pertama, atau cerita alumni tentang momen kebaikan dari orang yang tidak dikenal yang paling berkesan.

Dari obrolan seperti itu, orang tua bisa merasakan karakter komunitas yang akan menyambut anaknya — kalau memang memilih jalan ini.