Disergap Satpam

Tut…..tut……..tut…….,bunyi kereta api terngiang dibenakku. Ini untuk kali kedua kami menaiki kereta api.Tapi ada hal yang berbeda pada perjalanan saat ini. Hati gelisah,perut laper dan keletihan menghantui setiap laju kereta.Suasana gaduh di dalam kereta menambah rasa kekhawatiranku. Ku tengok kanan dan kiri.Beberapa pengamen menunjukkan aksinya. Ku lirik kaca kereta ternyata diluar hujan meneteskan butiran-butiran air. Mungkin alam tahu apa yang aku rasakan,bagai butiran air yang terhempas angin. Hilir mudik berganti,rasa khawatir ini tak kunjung berhenti…
Seorang emak menitipkan barang dagangannya dibawah tempat dudukku.Kemudian duduk disamping kawanku.Tidak begitu lama dari perjalanan sekelompok pemuda mendekat dan mengambil barang dagangan milik emak.Tanpa basa-basi mereka mengambil dan memakannya.Sebagian lagi membawa makanan ketempat yang agak jauh dari gerbong kereta yang kami naiki.Bahkan beberapa penumpang ikut mendekat dan membeli barang dagangan emak.
Ada yang membeli nasi bungkus,gorengan,kopi,rokok,dll.Melihat hal seperti itu,mengingatkan kehendak perutku yang semakin keroncongan. Akhirnya kuputuskan untuk membeli sebungkus nasi dan gorengan untuk mengganjal perutku,begitu pula temanku.Seusai makan temanku bertanya kepada emak,”mengapa muka emak pucat pas.i?”apa emak sakit….?.”
Enggak, Emak takut kalau ketahuan pak polisi keamanan kereta,nanti emak bisa diturunin dijalan atau didenda,”ucap emak dalam bisikan.
Kawanku kembali bertanya,”bukankah emak beruntung karena dagangannya laris”.Emak bukannya senang banyak pembeli,justru bersedih hati dan agak kesal. Ternyata banyak sekali dari kelompok pemuda tadi tidak membayar barang dagangan milik emak.Dan yang lebih parahnya lagi,hal seperti ini sering dialami olehnya.Lalu dengan segera ku bayar nasi dan gorengan yang kami beli. Jadi berapa mak..?,tiga bungkus nasi beserta gorengannya”.Sepuluh ribu aja”,jawab emak dengan singkat.
Tibalah di stasiun Kebayoran lama,dengan segera emak bergegas turun dari kereta api.Aku beserta kedua kawanku,berdiskusi ingin turun di stasiun yang mana…?Ku buka kartu karcis kereta,tertulis Rangkas Bitung sampai Pondok Ranji.Kutatap muka kawanku,tergambar kepanikan serta kegelisahan.Karena baru kali yang kedua,kami agak bimbang,sambil bertanya kepada penumpang yang lain.Ternyata kegundahan itupun terjawab juga.Kami sudah melewati dua stasiun kereta,sedangkan Stasiun Pondok Ranji sudah terlewat cukup jauh. Dengan sigap kami bertiga turun dari kereta api.Stasiun Palmerah,sebuah papan nama terpampang jelas didepan mataku dan kawanku.Inilah awal petaka yang kami alami.
Kami putuskan bertanya kepada satpam keamanan kereta untuk menanyakan arah. Jantung berdetak lebih kencang,karena khawatir tersesat di ibukota Negara dengan uang dikantong yang sudah menipis.Bukan memberikan solusi malah menambah permasalahan baru. Pak Satpam mengecek kartu karcis kami,kemudian mengintrokpeksi kami.Mukanya memerah dan nada bicaranya meninggi.
“Kalian melanggar aturan,sini masuk ke kantor “.kata satpam dengan muka garang.Kami disekap dalam sebuah ruangan dan diancam. Kami dituduh melanggar aturan dan harus bayar denda sebesar 50 ribu perorang. Dengan emosi pak satpam meminta uang dan menunjuk-nunjuk tulisan peraturan yang terpampang didinding ruangan.Aku beranikan diri membalas ucapan satpam,karena sudah jenuh mendengarkan ocehannya.Temanku ikut ambil suara untuk membela diri.Perdebatan semakin memanas.Apalagi Pak Satpam merasa lebih berkuasa di wilayahnya.Berapa kali kami bilang kalau kami tidak sengaja kelewatan turun di stasiun yang salah dan belum tahu arah.Tapi,alasan kami tidak digubrisnya.Pokoknya pak Satpam tersebut memaksa kami untuk membayar denda.
Aku berdua dengan kawan meminta ijin untuk ke toilet.Sebelum ke toilet barang dan tas kami disita olehnya.Sambil berjalan menuju toilet aku berdiskusi memikirkan solusi yang terbaik.Beberapa kali kami mondar-mandir diarea stasiun Palmerah.Terlintas didepan kami sebuah ruangan yang bertuliskan Ruang Kepala Staf Kereta Api.Di dalamnya terdapat delapan orang berbadan besar,berpakaian ABRI,dan beberapa orang berpakaian dinas.
Kami beranikan diri masuk dan mengadukan permasalahan kami. Alhamdulillah mereka merespon dengan baik,bahkan menyarankan kami untuk diantar ke tempat tujuan semula. Kamipun kembali memasuki ruangan,tempat semula kami disergap. Dengan didampingi salah satu staf kepala kereta api.Ternyata dengan musyawarah terbacalah tujuan pak satpam. Karena kita beri uang sepuluh ribu rupiah sebagai syarat perdamaian.Sebenarnya cukup berat untuk mengeluarkan uang tersebut dari kantongku,mengingat jauhnya perjalanan yang akan kami lalui.Tapi Alhamdulillah ,pak satpam tadi dapat kami jinakkan dengan uang sepuluh ribu aja.sehingga kami dapat melanjutkanperjalanan kembali…