Sejarah & Pendidikan
Kartini dan Pesantren: Dua Nafas dalam Satu Perjuangan
Semangat emansipasi R.A. Kartini ternyata menemukan resonansinya di dalam dinding-dinding pesantren — sebuah pertemuan yang melampaui batas zaman.
21 April 2026·Artikel Opini & Sejarah
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini — hari yang didedikasikan untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, perempuan kelahiran Jepara 1879 yang berani bermimpi tentang kesetaraan di tengah belenggu adat dan kolonialisme. Namun, di balik seragam kebaya dan senyum anggun yang selalu identik dengan peringatan ini, tersimpan sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: apa hubungan Kartini dengan pesantren?
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia menyentuh akar pergulatan intelektual yang lebih dalam — tentang bagaimana Islam, pendidikan, dan pembebasan perempuan berjalin erat dalam sejarah Nusantara.
Kartini dan Islam: Lebih dari Sekadar Agama Formal
Banyak yang tidak menyadari bahwa Kartini adalah seorang muslimah yang bergulat serius dengan pemahaman agamanya. Melalui surat-suratnya kepada sahabat penanya di Belanda, ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap tafsir agama yang membelenggu perempuan — namun ia juga menyimpan keyakinan mendalam terhadap nilai-nilai Islam yang sejati.
“Ingin benar saya menggunakan gelar ‘Muslim’ itu. Tapi hukum Islam menetapkan hak-hak laki-laki dan perempuan yang tidak sama.”— R.A. Kartini, dalam salah satu suratnya kepada Stella Zeehandelaar
Kegalauan Kartini inilah yang membawanya bertemu dengan K.H. Muhammad Sholeh Darat al-Samarani, seorang ulama besar dari Semarang. Pertemuan itu mengubah pandangannya. Kyai Sholeh Darat menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa — sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya secara sistematis — agar perempuan dan rakyat awam bisa memahami firman Tuhan secara langsung.
Dari sanalah Kartini memperoleh pencerahan: Islam yang sesungguhnya tidak merendahkan perempuan. Yang merendahkan adalah tafsir yang keliru dan tradisi yang mengatasnamakan agama.
Pesantren: Lembaga yang Mendahului Kartini?
Jauh sebelum Kartini lahir, pesantren sudah menjadi pusat pendidikan bagi masyarakat Nusantara. Di lembaga inilah, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kepemimpinan ditempa. Yang sering luput dari perhatian adalah fakta bahwa banyak pesantren — terutama di Jawa — telah mendidik santri perempuan (santriwati) sejak berabad-abad silam.
Peran pesantren dalam pendidikan perempuan
- Pesantren menjadi salah satu institusi pertama yang membuka akses pendidikan bagi perempuan di Nusantara
- Tradisi pengajaran kitab kuning tidak memandang gender sebagai penghalang ilmu
- Banyak ulama perempuan (nyai) yang memegang peran sentral dalam pengelolaan pesantren
- Pesantren melatih kemandirian, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial bagi santriwati
Figur Nyai — istri atau putri kiai — adalah bukti nyata bahwa pesantren tidak pernah sepenuhnya menutup ruang bagi perempuan. Mereka mengajar, memimpin, dan mengelola lembaga pendidikan. Dalam konteks ini, semangat Kartini tentang kesetaraan pendidikan perempuan bukan sesuatu yang asing bagi tradisi pesantren — ia adalah resonansi yang mungkin sudah lama berdenyut di sana.
Warisan yang Bertemu: Kartini dan Pesantren Masa Kini
Di era modern, pesantren telah mengalami transformasi luar biasa. Ribuan pesantren kini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga sains, teknologi, kewirausahaan, dan literasi digital. Dan di banyak pesantren itu, santriwati berdiri sejajar dengan santriwan — belajar, berdebat, berorganisasi, dan bermimpi besar.
Maka, jika kita mau jujur membaca sejarah, Kartini dan pesantren bukan dua dunia yang berlawanan. Mereka adalah dua arus yang mengalir dari sumber yang sama: keyakinan bahwa setiap manusia — tanpa memandang jenis kelamin — berhak atas cahaya ilmu pengetahuan.
Kartini bermimpi tentang perempuan yang bebas dan terdidik. Pesantren menyediakan jalan bagi mimpi itu untuk menjadi kenyataan — bukan dengan mengingkari tradisi, tetapi dengan memperbarui maknanya.
Merayakan Hari Kartini di Pesantren
Tidak mengherankan jika kini semakin banyak pesantren yang merayakan Hari Kartini dengan penuh makna. Diskusi, lomba pidato, dan seminar tentang peran perempuan dalam Islam menjadi bagian dari peringatan. Para santriwati didorong untuk mengenal Kartini bukan sekadar sebagai ikon nasional, melainkan sebagai cermin perjuangan yang relevan dengan kehidupan mereka.
Di sinilah warisan Kartini menemukan rumahnya yang sesungguhnya: bukan hanya di kebaya dan bunga melati, tetapi di setiap buku yang dibuka oleh santriwati, di setiap pelajaran yang diserap dengan tekun, dan di setiap mimpi yang berani dikemukakan dengan lantang.
Kartini pernah menulis, “Habis gelap terbitlah terang.” Di pesantren-pesantren seluruh Indonesia, terang itu terus dinyalakan — oleh tangan-tangan perempuan yang mewarisi semangat yang sama.
