Wardan, [21/07/13]. Setelah melalui perjalanan panjang, terjal, dan berliku, ada yang sudah enam tahun, empat tahun atau kurang dari itu, akhirnya anak-anak dipersatukan dalam bingkai kelas nihai.
Berbagai program dan kegiatan pengembangan diri mereka pelajari dan praktikkan, baik dengan rasa berat atau ringan, rasa sedih atau gembira, namun pada kenyataannya sampai jua mereka di penghujung cerita. Cerita mesantren di Darunnajah Cipining.
Salah satu program menarik, sebagai suatu warisan turun-temurun, Sunnatan Hasanatan, dari pendahulu-pendahulunya yaitu Khitanan Massal yang ditasbihkan pelaksanaannya pada tahun 2005 dan Santunan Sosial pada tahun 2003.
Dua kegiatan ini dalam kurun waktu terakhir menjadi kegiatan favorit bagi santri kelas akhir, hingga mereka berlomba-lomba “Fastabiqul khairat”, untuk melaksanakannya dengan sebaik dan maksimal mungkin.
Mereka saling belajar dari pelaksanaan kegiatan sebelumnya, untuk diperbaiki dan lebih dioptimalkan. Program demi program disusun demi terselenggaranya acara, tentunya jauh dari itu untuk meraih kesuksesan gemilang.
Pada momen Ramadhan 1434 H. ini, saat yang tepat untuk saling berbagi, berkasih sayang terhadap sesama khususnya kepada mereka kaum lemah, kurang berkecukupan.
Dengan usaha maksimal, semua santri kelas Nihai bergerak, akhirnya mereka menuai hasilnya. Jerih payah mereka, pengorbanan dan perjuangannya terbayar.
Ahad, 21 Juli 2013 atau puasa ke dua belas Ramadhan 1434 H. mereka mampu melaksanakan kegiatan rutin, dengan menghadirkan lautan manusia memasuki kampus tiga, sehingga terasa penuh sesak. Diperkirakan jumlah yang hadir sebanyak 2.650 orang, terdiri dari tamu undangan, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur pemerintahan, karyawan, guru, santri dan peserta santunan.
Dana terkumpul untuk kegiatan ini sebesar Rp. 80.637.000,- (delapan puluh juta enam ratus tiga puluh tujuh ribu rupiah), yang diterima dari para muhisinin.
Di samping kegiatan terselenggara di pesantren, mereka juga berencana adakan kegiatan serupa di Kampung Toge dan Kampung Tipar.
Mudah-mudahan ini merupakan kado indah untuk Darunnajah persembahan santri kelas Nihai, sebagai wujud pendidikan yang diselenggarakan di pesantren selama ini.
Semoga dengan kegiatan dimaksud menjadi budaya dan karakter yang baik, sebagai wujud akhlak mulia bagi generasi setelahnya secara turun menurun. [Mr. Song]