Wardan [30/08/2013]. Untuk menghidupkan tradisi Jum’at pagi, kembali Bapak Pimpinan Pesantren awali pengajian dengan membaca kalimat-kalimat tayyibah sebelum pengajian.
Informasi faktual yang disampaikan pada pagi hari ini adalah, Pembukaan Perdana perkuliahan Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA), Jum’at, 30 Agustus 2013 di Aula Kampus 3 Pesantren Darunnajah Cipining, pukul 08.30 WIB, akan dihadiri pengurus dari Yayasan Darunnajah.
Di samping pembukaan perkuliahan, juga mensikapi kegiatan pokok dan wajib, PORSEKA XXVI, insya Allah pembukaan diselenggarakan, Sabtu, 31 Agustus 2013 di Bumi Perkemahan Kampus 2 Darunnajah Cipining dengan mengundang Menteri Negara Pemuda dan Olahraga R.I., Kwarcab Bogor, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kab. Bogor, unsur Yayasan, serta undangan lain.
Dalam kesempatan, Jum’at, 30 Agustus 2013, Pimpinan sampaikan tausiyah dengan tema “Memanfaatkan Waktu Sebaik-baiknya, Diisi Dengan Berbagai Aktifitas.”
“Waidza Faroghta Fanshob.” Dalam hidup kita harus padat dengan kegiatan-kegiatan educative dan bermanfaat. Hidup ini sesaat, apabila satu kegiatan telah usai ditunaikan, maka ganti dengan kegiatan baru dan beranfaat serta meningkatkan lebih baik.
Kehidupan mendatang, yang menentukan pada hakikatnya adalah kita sendiri. Jika ingin sa’adah di hari pembalasan, pandai-pandailah kita memanfaatkan waktu di dunia untuk mengumpulkan pundi-pundi amal.
Tetapi jika ingin fasil, celaka, maka terasa seperti orang bodoh, ingin diberikan kebaikan, namun tidak sadar, larut dengan waktu, terbuang sia-sia sehingga tidak bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk memprogramkan dan menjalankan kebaikan-kebaikan.
Kita dikaruniai Allah SWT. Dengan akal sehat, harus bisa menggunakan waktu seefektif mungkin, sehingga program-programnya tidak mencakup duniawi saja, namun harus mencakup kegiatan ukhrowi.
Demikianlah pada hakikatnya kegiatan atau program Pesantren yang senantiasa beroireintasi kepada program ukhrowi. Kegiatan sekecil apapun bertolok ukur, ditimbang untuk agama.
Bukan berarti mengesampingkan keduniaan, tetapi keduanya senantiasa dijalankan, pada akhirnya balasan-balasan atau imbalan-imbalan, baik dunia ataupun akhirat akan tergapai.
Mendapat penghargaan dari manusia, juga mendapat penghargaan dari Allah dengan lipatan jauh lebih banyak dan besar, serta tidak mengecewakan. Tidak seperti manusia, senantiasa mengecewakan dan dikecewakan.
Setiap santri wajib melakukan setiap kegiatan di pesantren sekecil apapun dengan ikhlas, optimis, penuh gairah, semangat juang, tidak loyo mengharap kekuatan dari sang Pencipta.
Hakikatnya, kegiatan PORSEKA XXVI, sebentar lagi akan dilaksankan, Sabtu, 31 Agustus 2013, jangan dimaknai dan dipandang sepele, hanya begitu-begitu saja.
PORSEKA merupakan kegiatan pokok sebagaimana pendidikan formal di kelas. Harus dijalankan dengan penuh penghayatan dan sportifitas, niatkan karena Allah.
Kegiatan ini bisa menjadikan diri kita sebagai kegiatan ukhrowi, bila diniatkan dengan tulus ikhlas karena harapan dan dambaan ridho Allah.
Dari segi persaingan pada setiap lomba, melatih kita untuk mempunyai sikap daya juang, gigih, pantang menyerah, sportif, dan dengan spirit “Fastabiqul Khairat.”
Para peserta lomba mentaati segala peraturan dalam kegiatan, mengajarkan pada untuk taat kepada pemimpin, berdisiplin waktu, mengerti akan banyaknya dan padatnya kegiatan sehingga bisa membagi waktu atau mengaturnya.
Sabda Rasul “Wallahu fi ‘Aunil ‘Abdi, ma Kana ‘Abdu fi ‘Aunin Akhihi” Budaya saling tolong menolong, dilukiskan dalam materi lomba yang sifatnya bersama-sama, saling bahu-membahu dalam menggapainya, tidak egois, semangat kebersamaan, tolong menolong, mengerti kesusahan orang lain dan melengkapinya.
Kegiatan sekecil apapun dilakukan dengan niatan khusus kecintaan terhadap Allah mendapatkan double degree, dari manusia dan sang kasaulitas tertinggi, Allah, sehingga tidak memandang dan mengerjakan perbuatan dimaksud sia-sia belaka.
Dalam pelaksanaan PORSEKA XXVI semua unsur santri terlibat, tidak ada satupun hanya sekedar sebagai penonton, masing-masing turut ambil bagian.
Harapan Pimpinan, ketika ada kegiatan-kegiatan penampilan kreatifitas santri, dapat dilihat dan disaksikan wali-wali santri. Dengan demikian, mereka melihat bakat, potensi yang dimiliki putra-putrinya.
Barangkali, bila menampilkan sesuatu bakat dan potensinya dihadapan langsung orangtuanya, tidak dengan cara seperti ini, akan canggung, atau bahkan dimarahi, karena orangtua tidak sempat secara langsung meluangkan waktu untuk memperhatikan.
Namun demikian, bila diadakan suatu acara secara khusus dan menampilkan berbagai aktifitas dan kreatifitas, menghadirkan orangtua untuk menyaksikannya, niscaya mereka akan terharu, bangga serta berikan apresiasi.
Bila panitia pada kesempatan kegiatan PORSEKA XXVI kali ini, tidak mengundang orangtua wali murid, maka dengan tekhnologi berada, mudah, sebaiknya setiap santri hubungi orangtua masing-masing untuk berkenan hadir.
Rapor santri Darunnajah, tidak hanya semata bisa dilihat dari buku kecil, atau lembaran kecil yang sangat terbatas, berdasar nilai-nilai formatif dan membandingkan pula terhadap santri lain yang lebih baik dan bagus nilainya.
Tetapi setiap personal, insan memiliki kelebihan berbeda-beda, harus diupgrade dan dimunculkan, dikembangkan, sehingga menjadi emas, yang mungkin selama ini perak atau perunggu.
Orangtua dan guru jangan memandang santri dari segi intelegntnya saja, tetapi lihatlah sisi-sisi lain, bakat, minat, karya lainnya. Kalau boleh ambil dalam istilah mahfudzat dari judul “al-Asadu wal Fa ru”, “La tahtakir man Dunaka, fa Likulli Syaiin Maziyyatun.” Janganlah kamu sepelekan orang lain, karena pada setiap individu mempunyai kelebihan masing-masing.”
Dalam pembukaan PORSEKA XXVI, ada tamu-tamu dari luar, bahkan panitia juga mengundang Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (bila ada manfaat untuk kebaikan dan perkembangan pesantren), kita doakan kedatangannya.
Mensikapi hal demikian, setiap santri wajib menjaga kebersihan lingkungannya, setiap langkah kita harus senantiasa memperhatikan sampah-sampah berserakan untuk dipungut dan dibuang ke tempatnya.
Amal khair, bukan sekedar ada di masjid, tidak sekedar di majlis ta’lim dan di tempat-tempat ibadah atau rumah, di jalananpun ada, membuang sampah, menyisihkan kesusahan tidak sedap di mata. “Imamthotul adza ‘ani Thoriq”.
Bila lingkungan pesantren bersih, akan terjaga dari penyakit-penyakit, santri menjadi sehat, lingkuang menjadi bersih, nyaman, kondusif untuk belajar dan melakukan banyak hal baik.
Sebaiknya santri menjaga kebersihan, mencegah penyakit bukan setelah ada dampak baru mengobatinya atau mengahalaunya, “Al wiqoyatu, Khairum Minal ‘Ilaj.”
Waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, kegiatan sebanyak-banyaknya dengan niatan tulus ikhlas karena untuk menggapai Keridloaan Allah SWT, untuk membangun diri di kehidupan masa datang, sehingga akan selamat “Fi Daraini”, di dunia sejahtera dan di akhirat bahagia. [Mr. Song]
