Jadilah Santri Sejati

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Dalam hazanah keislaman nasional kita, kata ‘santri’ merupakan sebuah istilah yang sudah dikenal sejak zaman perjuangan, dalam upaya mengusir penjajah kafir dari bumi pertiwi Indonesia tercinta. Diantara kaum santri yang terlibat langsung memimpin jihad peperangan tersebut adalah Teungku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Dipenogoro, Sultan Hasanuddin dan lain-lain. Bahkan Panglima besar Jendral Sudirman, yang memimpin perang Gerilya dari atas tandu. Konon, dipanggil ‘kajine’ oleh para pengikutnya sebagai ungkapan penghormatan, meskipun beliau sendiri belum dapat menunaikan ibadah Rukun Islam kelima tersebut. Di sisi pergerakan juga terdapat nama-nama seperti KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya, Haji Samanhudi dan HOS Cokroaminoto dengan Syarekat Islamnya, yang sudah lebih dahulu mengenalkan ‘nasionalisme dan Perjuangan bercorak Modern’. Sebelumnya ada Budi Utomo 1908. Kita juga masih terngiang-ngiang dengan semangat juang Bung Tomo yang membakar ghirah jihad arek-arek Suroboyo dengan pekikan takbirnya, Allahu Akbar!

Diawal kemerdekaan Indonesia, kaum santri juga terlibat langsung dalam merumuskan dasar Negara Republik ini, mereka antara lain; KH. Agus Salim, KH. Hasyim As’ari, KH. Muhammad Natsir, A. Hasan Bandung, Buya Hamka dan lain-lain. Dan pada Era sekarang pun, peran kaum santri dalam membangun Negeri umat muslim terbesar di dunia ini, juga tidak dapat dinafikan dan dipandang sebelah mata, sekedar untuk contoh, dapat kita sebutkan beberapa nama mereka, seperti; KH. Hasyim Muzadi, Prof Dr. Din Syamsuddin, Dr. Nur Hidayat wahid, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya. Pendek kata kita dapat menyimpulkan bahwa nasionalisme kaum santri sebagai pengejewantahan ‘hubbul wathan minal Iman’ merupakan sebuah aksioma yang tak terbantahkan. Bahkan, SANTRI akan selalu Siap Amankan Negara Tercinta Republik Indonesia (SANTRI) suka atau tidak suka, eksistensi Indonesia tidak akan dapat dipisahkan dari kaum Santri.

Picture 025Berpijak dari fakta tersebut, hendaknya kita jangan menjadi NATO (No Action Talk Only), yang sangat penting bagi kita, marilah kita kembali self steem/menilai diri sendiri. Sudahkah kita memiliki kepribadian santri sejati? Kepribadian santri sejati merupakan keperibadian seorang muslim multazim. Muslim Multazim artinya seorang Muslim yang konsekuen dan konsisten dengan keislamannya. Jika belum, mudah-mudahan kita dapat menemukan formula untuk menjadi santri sejati, amien.

Kata SANTRI jika ‘dipaksakan’ untuk ditulis menggunakan huruf Hijaiyyah maka akan terdiri dari 4 huruf yaitu, Sin, Nun, Ta dan Ra. Yang Pertama, Sin adalah Salimul Aqidah. Seorang santri harus memiliki aqidah yang selamat nan kuat tanpa keraguan. Terhindar dari syirik yang akan menjadikan segala amal shaleh hancur-lebur tidak bernilai. Tidak terjebak pada Takhayyul, Bid’ah dan Khurafat. Seorang santri juga harus memiliki sikap walla/loyalitas yang tinggi terhadap saudara seiman, layaknya satu tubuh yang selalu kompak dan seperti satu bangunan yang saling menguatkan dan membutuhkan. Disisi lain, seorang santri sejati harus berani barra/berlepas diri dari ketergantungan dan penjajahan orang-orang non muslim, dalam segala bentuknya. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath ayat 29, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih-sayang terhadap sesame mereka”.

Dengan walla wal Barra proporsional, maka kita dapat bertasamuh/bertoleransi dengan orang-orang non muslim dengan elegan, tanpa harus merasa kikuk, canggung, rendah diri, apalagi kehilangan kepribadian santri sejati (Split Personality). Seorang santri juga tidak boleh ghuluw atau berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran agama Islam, tanpa ada perintah dari Allah dan contoh dalam Sunnah Rasulullah saw. Dengan aqidah Islamiyah yang benar akan menjadi dasar pembangunan masyarakat yang damai dan bahagia, jauh dari kriminalitas. Aqidah yang benar juga akan menjadikan seseorang muslim konsisten dalam pikiran, ucapan dan tindakan keseharian. Dengan aqidah yang kuat juga akan menjaga kehormatan harta, jiwa dan raga, amal-amal shaleh akan diterima dan akhirnya masuk ke dalam syurga dan selamat dari siksa api neraka, amien..

Kedua, adalah huruf Nun yaitu Nurul Ummah, artinya cahaya untuk umat. Seorang santri harus memiliki kepribadian cinta Ilmu, sebagai bekal menjadi da’i, baik untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, bangsa bahkan untuk seluruh dunia. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah ayat 122; “Tidak sepatutnya bagi orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinyaí”.

Mari kita bandingkan! Jika saudara-saudara kita di Palestina, Iraq, Afganistan, Kashmir, Moro di Filiphina Selatan, juga di Ambon harus berjihad dengan berdarah-darah, mengorbankan harta, jiwa raga dan keluarga. Tidakkah kita merasa sangat malu jika masih terjebak, terpedaya dan belum mampu berjihad melawan kenikmatan temporer, kemalasan, rasa kantuk dan kelelahan untuk beribadah? Didalam surat At-Tahrim ayat 6, Allah juga mewajibkan kita untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka, yang notabene bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan, sementara para malaikat penjaganya pun sangat kasar, keras dan tidak kenal kompromi.

Sebagai salah seorang SANTRI yang dipilih oleh Allah untuk Tafaqquh Fiddin, kita harus lebih bertanggungjawab terhadap keislaman keluarga besar kita masing-masing. Sebagai contoh, jika ada diantara kakek, ayah, paman, anak, kakak, adik dan saudara-saudara laki-laki kita yang belum mau dan mampu mendawamkan shalat berjama’ah di Masjid. Atau juga nenek, ibu, bibi, anak, kakak, adik dan saudara-saudara perempuan kita yang belum mau dan mampu menutupDSC_0326 aurat dengan sempurna. Maka kita harus mempunyai kerisauan yang mendalam dan sungguh-sungguh, untuk berdakwah kepada mereka secara baik dan bijak. Yang juga tidak kalah penting, dalam setiap do’a kita, bayangkan wajah-wajah mereka, sebut namanya satu-persatu dan do’akanlah mereka, semoga Allah berkenan menyinari hati kita dan keluarga besar kita dengan cahaya hidayah iman, yang akan menyelamatkan dari siksa panasnya api neraka yang tak terperikan.

Yang Ketiga, huruf Ya yaitu Tarkul Ma’shiyah, seorang santri harus terus menerus berupaya untuk sebisa mungkin menjauhi maksiat. Baik maksiat mata, telinga, lisan, tangan, kaki, pikiran dan hati. Setiap maksiat yang kita lakukan akan meninggalkan titik hitam dihati sanubari kita. Dan ketika titik-titik hitam tersebut semakin penuh dan pekat, maka hati pun sulit untuk menerima hidayah dan nasehat kebenaran. Tak ubahnya kaca yang berdebu tebal, maka akan sangat sukar ditembus sinar senter, ataupun cahaya lampu.

Kemajuan media teknologi dan informasi seperti computer, internet dan Hand phone, disamping membawa dampak positif seperti mempermudah akses informasi, pengembangan Ilmu Pengetahuan dan wahana dakwah yang melampaui sekat ruang dan waktu. Di sisi lain juga menimbulkan ekses negative seperti Pornografi , ghazwul fikri/perang pemikiran, manipulasi informasi, black campaign, dan lain sebagainya. Maka sangat penting bagi kita semua untuk membentengi dengan iman dan do’a, “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar adanya, dan berilah kami kekuatan (lahir batin) untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah adanya, dan berilah kami kekuatan (lahir dan batin) untuk menjauhinya”. Disinilah kita menemukan kalimatul ‘izzah; “Tiada daya untuk melakukan ketaatan dan tiada kekuatan untuk menjauhi kemaksiatan keuali atas pertolongan Allah semata”.

Yang terakhir, adalah huruf Ra yaitu Raajin Biliqaaillah, berharap berjumpa dengan Allah di surge kelak. Dengan aqidah yang kuat, terus berdakwah dengan segala potensi yang ada, serta berupaya dengan optimal dalam mengeliminir perbuatan maksiat, barulah kita pantas untuk berharap bias jumpa dengan sang kekasih sejati, sang Maha Sempurna, Allah swt. Sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 110; “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 22-23 Allah berfirman, “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”.

Al-Mughirah bin Syu’bah ra menceritakan sabda Nabi saw “sesungguhnya Musa pernah bertanya kepada Rabbnya, ‘apakah serendah-rendah kedudukan ahli surga?’ maka dijawab; ‘seorang yang datang setelah ahli surga masuk kedalam surga’ ia bertanya; ‘Wahai Rabbku, bagaimana mungkin sementara manusia telah menempati rumah mereka masing-masing dan mengambil bagian mereka?’ dikatakan kepadanya; ‘apakah kamu rela memiliki sebagaimana yang dimiliki oleh seorang raja di dunia?’ ia menjawab; ‘aku rela’. Maka Allah berfirman; ‘itu untukmu dan yang semisalnya, semisalnya, semisalnya dan semisalnya. Lalu dikatakan yang kelima kalinya, ‘aku rela, wahai Rabbku’. Musa bertanya; Ya Rabbku, lalu siapakah yang paling tinggi kedudukannya?’ Allah menjawab; ‘Mereka itulah oreng-orang yang aku kehendaki. Aku tanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku menentukan atas mereka, sekalipun mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum terlintas di hati manusia”. (HR Muslim).

Marilah kita bermuhasabah menelusuri masa lalu sebagai kenangan, jadikanlah ia sebagai pelajaran dalam menghadapi hari ini dengan semangat perjuangan, jadikanlah ia sebagai pelajaran dalam menghadapi hari ini dengansemangat perjuangan, untuk menapaki masa depan nan penuh harapan. Jika kita jujur dengan diri kita sendiri, sebenarnya kitapun akan merasakan kegundahan seorang Abu Nuwwas yang hidup pada masa Kholifah Harun Ar-Rasyid. Tokoh yang terkenal jenaka namun juga jenius tersebut, mengungkapkan perpaduan raja’ dan khauf dalam syairnya; “Ya Allah Ya Tuhanku, hamba-Mu ini tidak layak menjadi penghuni syurga Firdaus, namun juga tidak kuat menahan pedihnya azab neraka jahannam”. Jadi, jika kita memang belum pantas masuk syurga karena rendahnya kualitas amal kita dan banyaknya maksiat yang kita lakukan,maka kita berharap agar dimasukkan oleh Allah swt ke syurga karena kasih-sayang-Nya, Amien.

_ _ _ _ _

Disampaikan oleh Muhlisin Ibnu Mutharom, S.H.I

Pada Khutbah Jum’at di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining

Tanggal 29 Rabi’ul Awwal 1430 H / 27 Maret 2009 M.

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait