Issu Terrorisme, Tantangan Muslim Australia
Menu

Issu Terrorisme, Tantangan Muslim Australia

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Ustadzah Irma Wahyuni, Guru Bahasa Inggris di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, berbagi cerita dan pengalamannya setelah mengikuti program Australia Young Muslim Leader Exchange kepada reporter Wardan, (15/5/2012). Dia menyoroti Islam sebagai golongan minoritas dan issu terrorisme merupakan tantangan muslim di Australia.

Ustadzah Irma Bersama Teman-teman Australia

Dia mengatakan banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan masyarakat Australia, terutama kehidupan umat islam di Melbourne dan Sydney. “Mereka harus menghadapi tantangan akan sistem Negara Australia yang sekuler, juga menghadapi kenyataan bahwa muslim di sana adalah bagian dari golongan minoritas di tengah kondisi masyarakat yang multikultural”, dia melanjutkan.

Selain itu, Irma Wahyuni juga berpendapat, tidak mudah hidup sebagai muslim minoritas di Negara sekuler bila tidak memiliki nilai-nilai islam yang kuat dan cukup toleran dalam menghadapi segala benturan dan perbedaan. Bahkan menurut pengalaman sosialisasinya dengan sebagian orang Australia, ada yang mengatakan; terkadang masih ada sebagaian golongan di kawasan tertentu di Australia yang memiliki stereotype buruk tersendiri terhadap simbol-simbol keislaman seperti jilbab/hijab, peci, dan lain-lain.

Dia mengupas pendapatnya lebih dalam, hal itu terjadi karena berbagai faktor, diantaranya karena pengaruh media tentang issu terrorisme yang selalu ditujukan kepada Islam sebagai kambing hitam. Sebagian dari mereka sendiri banyak yang mengakui masih trauma dan takut terhadap umat islam Indonesia setelah kasus Bom Bali tahun 2002.

Bahkan menurut Rochayah Machali, professor Indonesian Studies di University of New South Wales (UNSW), pusat-pusat studi kawasan Indonesia , juga studi Bahasa Indonesia sempat ditutup untuk sementara di beberapa kampus dengan alasan para orang tua yang tidak mengizinkan anaknya mempelajari budaya dan bahasa para terroris. “Dan itu adalah kenyataan yang menyedihkan bagi umat Islam di Australia”, ujar Rochayah Machali.

Akan tetapi, menurut sebagian dari hasil dialognya dengan berbagai tokoh penting di Australia, Irma mendapatkan informasi bahwa karena umat Islam di Australia juga adalah orang-orang yang berpikiran terbuka namun tetap memiliki nilai-nilai Islam yang kuat, mereka tidak diam begitu saja menghadapi semua tantangan itu. Mereka memfungsikan organisasi-organisasi Islam dan Organisasi multi budaya di Australia sebagai media untuk berdialog dengan masyarakat. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa Islam tidaklah kaku, tetapi juga harus toleran dan terbuka dalam menerima gagasan-gagasan baru yang membangun. Dan hingga saat ini, Pusat-pusat studi Islam dan Studi Indonesia sudah kembali ramai dan menjadi bahan riset bagi para peneliti kajian lintas agama maupun lintas budaya. (red-wardan)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait