Alhamdulillah hari ini kita bisa melaksanakan kegiatan inti kita yaitu kegiatan atau Program Amaliyah tadris, mudah-mudahan kegiatan yang kita adakan ini di Ridhai ole Allah swt dan dimudahkan pelaksanaannya. Apapun Sekolahnya baik itu Madrasah Aliyah maupun SMK dan barang kali nanti ada SMA juga, Amaliyah tadris tetap menjadi Program inti dari Pesantren. Karena Pesantren mempunyai visi mempersiapkan kader-kader “IMAMA”.
Pesantren mempersiapkan Kader Pemimpin (Imam), mempersiapkan orang yang bertaqwa (Muttaqin), mempersiapkan orang-orang yang berpengetahuan tinggi (‘Alim), mempersiapkan orang-orang yang mampu menyampaikan informasi (Mubaligh), pesantren juga mempersiapkan orang-orang yang mampu melaksanakan apa yang telah di pelajari (‘Arif). Semuanya ini ada kaitannya dengan Amaliyah Tadris.
Sebagai Pemimpin misalnya, kalau dia mampu menjelaskan program-programnya kepada anak buahnya, maka akan sulit untuk mencapai sebuah keberhasilan. Pemimpin hanya pandai menyuruh dan melarang saja, tidak pandai memberikan motivasi kepada anak buahnya, bagaimana mau sukses? Maka dari itu seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan teknis-teknis penyampaian seperti yang dimiliki oleh para guru. Sehingga apa-apa yang di programkan itu bisa dilaksanakan dengan baik.
Sebagai orang yang bertaqwa, juga harus memiliki kemampuan tentang bagaimana tehnik menyampaikan informasi. Apa lagi orang yang bertaqwa ini menjalankan perintah Allah swt, kita diperintahkan juga untuk “Amar Ma’ruf, Nahi Munkar”. Bagaimana kita bisa mengajak orang untuk berbuat baik dan menghindarkan diri dari kemunkaran kalau kita tidak mempunyai seni bagaimana menyampaikan. Tidak memiliki kemampuan bagaimana caranya mengajarkan yang baaik-baik. Bahkan, sekalipun dia melakukan Shalat dan melakukan Puasa, demikian juga Haji dan Sedekah, tidak jaminan orang itu akan mendapatkan Surga dan ketenangan. Maka, mengajak dan mengajari orang lain untuk berbuat baik adalah sesuatu yang wajib adanya. Nah, belajar untuk menyampaikan itu melalui ilmu Pendidikan.

Demikian pula orang yang berpengetahuan tinggi (‘Alim), orang yang alim tidak banyak memberikan manfaat kalau hanya untuk dirinya sendiri. Maka orang lain akan menikmati Ilmunya kalau dia mampu mengembangkan Ilmunya ini, tentu saja harus mengajari orang-orang yang diperlukan yang ada di lingkungannya. Hal ini juga diperlukan tehnik (thariqah), atau metode dalam menyampaikan informasi.
Apalagi sebagai seorang mubaligh, yang mana muballigh juga bisa dikatakan sebagai guru. Muballigh adalah orang yang menyampaikan informasi dan kebenaran. Maka dia tentunya harus mengetahui caranya didalam menyampaikan. Orang yang sudah mengetahui sebuah Ilmu Pengetahuan maka dia harus mengamalkannya. Jadi karena semua visi kita yang mengarah kepada Ilmu Pendidikan, maka apapun sekolahnya di Pesantren ini harus diajarkan Ilmu mengajar dan mendidik. Dan ilmu mengajar merupakan bagian terpenting di Pesantren ini.
Kalau kita perhatikan di Negara kita, prestasi pendidikannya pada umumnya belum terlalu baik, karena kita tidak mempunyai perhatian kepada profesi dan ilmu keguruan. Dahulu di Indonesia ada yang dinamakan PGA, tetapi pemerintah menghentikan program yang dinamakan PGA tersebut. Ada juga SPG, digilangkan juga oleh pemerintah. Hasilnya kita-kita ini diajari oleh orang-orang yang tidak mengetahui ilmu pendidikan, ya seperti inilah hasilnya. Banyak orang-orang yang korupsi, banyak orang-orang yang tidak amanah dan lain sebagainya.
Maka di Pesantren tetap pendidikan ini harus diperhatikan, bahkan secara turun temurun. Apa yang kita ketahui sampaikan pada generasi muda, sehingga generasi muda tersebut akan mampu seperti kita, dan diharapkan akan menyampaikannya lagi pada generasi selanjutnya, dan memang sunnatullah-nya seperti itu.
Soal setelah belajar nanti tidak menjadi guru, tidak juga menjadi dosen, tetapi seperti yang disebutkan tadi kita sebagai seseorang yang bertaqwa, kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Bukan berarti merasa percuma dan sia-sia belajar ilmu tarbiyyah di pesantren. Orang yang menyampaikan ilmu pengetahuan yang didasari dengan cara yang benar tentu akan lebih berhasil dari pada orang yang mengajar tetapi tanpa memiliki pengetahuan tentang ilmu mengajar.
Sekalipun SMK, bisa jadi SMK nantinya disuruh mengajar. Walaupun bisa menggunakan Komputer, tetapi jika tidak memiliki pengetahuan bagaimana mengajar maka tidak akan berhasil juga. Maka SMK pun harus belajar bagaimana mengajar, karena bisa saja suatu saat nanti diminta untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya.
Orang yang melakukan sesuatu yang di dasari oleh ilmu pengetahuan tentang sesuatu itu, maka hasilnya akan lebih baik dari pada orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang dilakukannya itu. Orang yang mengajar yang mengetahui dedaktik-metodik dengan orang yang mengajar yang tidak memiliki pengetahuan tentang mengajar hasilnya akan berbeda, walaupun sama-sama mengajar.
Pak Kyai ucapkan selamat menjalankan program ini kepada para peserta, semoga diberikan kelancaran oleh Allah swt dalam melaksanakannya. Mudah-mudahan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dalam menghadapi masa depan masing-masing. Amien Ya Rabbal ‘Alamin. [WARDAN/@abuadara]
================================
Transkrip dari Sambutan Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining Bogor pada saat Pembukaan Amaliyah Tadris pada hari Sabtu, 19 Januari 2013. Pkl 08.00 di Aula Kampus 3