Indahnya Sabar
Ada kalanya batas diri terdegradasi…
Oleh banyaknya keletihan.
Oleh padatnya aktivitas diri.
Oleh merayapnya ujian yang tak henti.
Mari diri tetap berpegang pada tali.
Walau jemari tengah merapuh.
Mari menetapkan langkah diri.
Walau sendi dan tapak kaki pedih,
seperti menapak pada duri.
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
[QS Lukman: 22]
Jiwa-jiwa yang berusaha jernih,
Terus membiarkan…
Menyerahkan diri…
Hingga tiba masa tersenyum abadi.
Meliuk bersama gelombang yang datang.
Terbang bersama tiupan angin yang menerpa.
Bersenyap bersama derap yang menyapa.
Jangan takut.
Jangan merasa hampa.
Jangan merasa terluka.
Jangan merasa tersudut.
Jangan merasa tersisih.
Tanpa kehampaan hati mengisi.
Tiada kedukaan menghampiri diri.
Saat terluka, luka menjadi bunga cinta dan pahala.
Saat tersudut, sudut menjadi taman… miniatur syurga.
Saat tersisih, kesepian menjadi ajang dimana diri berkesempatan memeluk dan meminta dekapan Rabb lebih erat.
Segalanya menjadi indah.
Sesaat di dunia…
Hanya seperti buih,
Menanti waktu maksimal 1,5 jam.
Untuk kembali tersenyum di Negeri Tanpa Luka.
Memandang Rabb,
bersama dengan ruh-ruh jernih lainnya.
“Maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah…”
[QS Al Ma’arij: 5]
Perjuangan hening kita, biar Jannah menjadi tepinya.