
Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Khaldun. Beliau adalah sosok inspiratif seorang ilmuwan muslim yang terlahir dibulan suci ramadhan dan juga wafat dibulan suci ramadhan dan beliau sudah mengkaji, mendalami diumurnya yang masih dini.
Ibnu Khaldun dikenal sebagai iluwan muslim yang ahli dalam bidang sejarah, sejarawan, ahli politik, ahli ekonomi bahkan beliau masyhur dengan sebutan Bapak Sosiolog karna beliaulah yang menciptakan, mencetuskan ilmu sosiologi.
Dalam bidang ekonomi, pemikiran-pemikiran beliau tentang teori ekonomi yang realistis dan logis sudah dikemukakan jauh sebelum adanya teori Adam Smith dan juga teori David Ricardo yang baru muncul pada abad ke-18.
Semua pemikiran beliau ini termaktup dalam kitabnya yang masyhur, yang fenomenal yaitu Al-Muqaddimah yang bahkan sampai saat ini kitab tersebut masih dikaji dalam dunia pendidikan diberbagai belahan dunia.
Dalam kitab Al-Muqaddimah karangan Ibnu Khaldun ini ada satu kajian, satu teori, satu kaidah yang sudah dipelajari oleh santri kelas 5 TMI dalam mata pelajaran tarbiyah karna termaktub dalam kitab tarbiyah tersebut kajian ibnu khaldun yang berbunyi ” manusia adalah makhluk sosial, yang paling membutuhkan satu sama lain.
Dibalik kemahiran sosok Ibnu Khaldun yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu bahasa, ilmu mateatika, ekonomi, sejarah, politik dan lain sebagainya. Beliau terlebih dahulu mendalami satu ilmu diusianya yang masih dini yaitu ilmu Al-Qur’an, usia tujuh tahun beliau sudah menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan dan istimewanya adalah Ayah beliau sendiri yang membimbing dan mengajarkan beliau untuk menghafal, mengkaji dan menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan.
Sebagaimana ulama terdahulu yang juga mengkaji dan mendalami Al-Qur’an sejak masih dini. Sebut saja diantaranya ada Imam As Syafi’i, yang wafat pada tahun 204 H, usia tujuh tahun beliau sudah mengahafal Al-Qur’an. Kemudian ada juga Imam At Thabari yang wafat pada tahun 310 H, diusia tujuh tahun pula beliau menghafal Al-Qur’an, usia delapan tahun beliau menadi seorang imam dan diusia sembilan tahun beliau sudah menulis hadist.
Kemudian ada Ibnu Sina yang wafat pada tahun 428 H, seorang Ibnu Sina bahkan diumur lima tahun sudah menghafal Al-Qur’an. Setelahnya ada juga Ibnu Kudama menghafal Al-Qur’an diusia sepuluh tahun dan masih banyak para ulama lain yang menghafal dan mengkaji Al-Qur’an diusianya yang masih dini.
Maka dari itu setelah kita mengenal sosok inspiratif yang telah mengkaji dan menghafalkan Al-Qur’an sejak dini, alangkah baiknya apabila kita meningkatkan kecintaan kita terhadap Al-Qur’an. Karna Al-Qur’an adalah pintu dari segala ilmu pengetahuan.