Menu

Hikmah Dari Musibah Dan Cara Menghadapi Musibah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor. Dengan tema Hikmah Dari Musibah Dan Cara Menghadapi Musibah

Menjahit? Mungkin saja dimarahi orang. Janjinya jadi hari Senin, sampai hari Jum’at belum selesai. Dimarahi orang. Ia menjahit mungkin potongannya salah sehingga harus diganti. Sopir? Musibahnya juga ada. Tabrakan. Kalau tidak menyopir, tidak akan terjadi tabrakan. Jadi masing-masing itu sudah ada ketetapan-ketetapannya seperti itu. Nah, apa yang harus kita lakukan? Sedangkan kita semua ini layak untuk menerima musibah. Yang harus kita lakukan adalah kita harus selalu memohon perlindungan dari Allah Swt. Mau berjalan pun harus berdoa dulu,

بسم الله توكلت على الله ، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Kita serahkan diri pada Allah Swt. Tidak ada daya, tidak ada kekuatan kecuali dari Allah Swt.

اللهم هون علينا سفرنا هذا

Kita semua berdoa, sehingga tidak terjadi musibah-musibah seperti itu. Semakin kita tidak banyak ingat kepada Allah, semakin kita tidak pernah menjalankan apa yang Allah Swt. perintahkan, akan semakin banyak musibah yang menimpa kita. Tetapi semakin kita dekat kepada Allah Swt., Allah Swt. akan melindungi kita. Dengan dilindungi oleh Allah Swt., kita tidak akan mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, atau sesuatu yang tidak kita sukai. Inilah pelajaran yang harus kita lakukan terus menerus. Jadi orang melakukan ibadah, orang menjahui sesuatu yang dilarang, sebenarnya itu merupakan suatu kebutuhan. Kalau misalnya kita shalat, itu adalah kebutuhan. Untuk apa? Untuk diri kita sendiri. Karena di dalam shalat itu ada bacaan, setelah kita sujud kemudian kita duduk, kita selalu membaca,

رب اغفرلي وارحمني واجبرني وارفعنى وارزقني واهدني وعافني واعف عني

Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, – dosa ini akan menyebabkan bencana juga. Dosa kalau tidak diampuni oleh Allah Swt. akan menyebabkan hati kita menjadi gelap. Dan karena hatinya galap itu, kita tidak bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya, tidak bisa membedakan sama sekali, sehingga seenaknya saja, halal haram, sama saja. Saya kemarin melihat ada orang naik truk melihat ada mangga di jalanan, ia mengambilnya begitu saja dan dimakan. Dia tidak tahu mangga itu milik siapa. Yang penting makan. Ini karena hatinya gelap. Kalau orang hatinya terang, jelas tidak mau melakukan hal seperti itu. Andaikata orang hatinya jernih, dia akan berpikir, “Wah, saya naik truk seperti ini. Kalau kemudian yang punya rumah mengejar pakai motor, saya mudah ditangkap. Mau lari kemana? Truknya di-stop, disuruh turun, langsung digebuki.” Bisa terjadi seperti itu. Tidak bisa lari ke sana kemari, sebab di dalam truk. Maka dengan shalat itu akan menyebabkan dosa diampuni. Dengan dosa diampuni, hati kita menjadi terang, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya, mana yang menguntungkan dan mana yang tidak menguntungkan, mana yang baik dan mana yang buruk, menjadi tahu. Kalau hati kita gelap, jangankan hati yang gelap, mata saja kalau gelap, malam-malam, ia tidak bisa membedakan yang kita pegang ini apa? Sayur atau comberan tidak tahu. Dengan shalat, menjalankan perintah Allah, ibadah itu akan menyebabkan hati kita terang.

Di dalam shalat itu ada doa,

وارحمني

‘Ya rabb, berilah kami ini kasih sayangmu. Berilah kami ini rahmatmu.’ Dengan adanya rahmat dari Allah Swt. hidup kita menjadi nikmat, tidak akan merasa kekurangan apa-apa, karena rahmat Allah Swt. mengalir pada kita. Kalau sedang sakit, alhamdulillah, ada yang mau mengantarkan, ada pula yang berpikir mau membantu, menolong. Ini namanya rahmat mengalir. Kalau rahmat tidak mengalir, orang akan berkata, ‘Ya sudah, biarkan saja. Dia sakit, ya biarkan saja berobat sendiri. Ke dokter sana.’ Diantar juga tidak. ‘Saya tidak punya duit. Saya juga ada pekerjaan.’ kilahnya. Tapi karena ada aliran rahmat di situ, masih ada orang yang kasihan, mengantarkan, mengurus, menolong ke sana kemari, dan sebagainya. Itu karena adanya rahmat dari Allah Swt. dan itu perlu. Di dalam hidup ini itu diperlukan. Dengan shalat Allah Swt. akan sayang kepada kita. Mungkin kalau ada ular, kita tahu dulu. Bukan dia yang duluan lihat kita. Tapi kita yang lihat duluan dia. Sehingga kita bisa saja mengusirnya, bisa mengambil pentung untuk memukulnya sehingga dia lari, dan sebagainya. Itu karena rahmat dari Allah Swt., rasa sayang dari Allah Swt. Kalau kita tidak pernah melakukan ibadah, yang seperti itu tidak akan turun, tidak akan Allah berikan. Apalagi di dalam hidupnya itu apa yang Allah perintahkan tidak pernah dilakukan. Allah Swt. kan juga bisa marah. Padahal Allah Swt. punya segala-galanya. Apa dikiranya Allah itu hanya bisa menyiksa di neraka saja? Di dunia ini pun kalau Allah Swt. tidak suka, Allah Swt. juga bisa menurunkan siksanya di dunia ini. Seperti digigit ular itu apakah bukan siksaan? Itu siksaan yang luar biasa. Tapi seberat-berat siksaan di dunia ini bila dibandingkan dengan nanti di kubur (siksa kubur) dan di akhirat, tidak ada apa-apanya. Di dunia ini manusia disiksa, digigit ular seperti itu, masih ada yang menolong, masih ada dokter, masih ada obat. Kalau disiksa di kubur, nanti akan dihadapkan dengan ular yang namanya ‘Aqrab’ (ular besar yang akan menelan kita, yang bisanya akan menjalar di tubuh kita di alam kubur). Mau berobat kemana? Teriak-teriak meminta tolong kepada siapa? Punya anak-anak juga senyum-senyum saja, ketawa-ketawa saja di dunia. Siapa yang akan dimintai tolong? Kalau di dunia masih lumayan. Selagi masih melihat orang, masih bisa meminta tolong pada orang, masih ada yang mengobati, dan sebagainya. Di akhirat nanti – yang kekal abadi itu – meminta tolong pada siapa? Pada anaknya? Anaknya juga mengalami hal yang sama. Kepada siapa? Orang lain. Masing-masing memikirkan diri sendiri. Tidak ada yang bisa menanggung/menolong orang lain. Yang bisa menolong hanya Allah saja. Yang bisa menolong amalnya yang dilakukan di dunia ini. Kita lakukan ibadah ini. Ibadah itu bermacam-macam. Pada minggu lalu saya bertanya tentang shalat Dhuha. Ini sudah shalat Dhuha belum? Minggu ini sudah ada yang shalat Dhuha belum? Dengan shalat itu, akan ketemu itu. Kita akan mendapatkan kasih sayang Allah Swt. Nabi Muhammad Saw. mendapatkan perintah dari Allah Swt. Apa katanya?

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم

“Katakanlah, (muhammad, kepada umatmu), ‘Jika kamu sekalian cinta kepada Allah, ikutilah aku.’” Kalau kamu sudah mengikuti aku sebagai tanda cinta kepada Allah, maka Allah akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Kalau kita ingin dicintai oleh Allah, kita harus mencintai Allah duluan. Allah itu sudah jelas sayang kepada kita. Kita yang tadinya tidak ada saja, kita diadakan. Kita tadinya lahir kecil saja, kita dibesarkan oleh Allah Swt. menjadi seperti ini. Dulu kita lemah, cebok saja tidak bisa, sekarang sudah bisa. Mandi saja dahulu kita dimandikan, sekarang sudah bisa mandi sendiri, bahkan bisa memandikan orang lain. Allah Swt. sayang pada kita. Tetapi kita masih mengharapkan kasih sayang Allah yang lebih tinggi, yang lebih banyak lagi. Buktinya, kalau setiap orang ditanya, ‘Kepingin ga, kalau hartanya lebih banyak dari ini?’ ‘Kepingin.’ ‘Kepingin ga, kalau selama ini hidup sehat terus?’ ‘Kepingin.’ ‘Kepingin ga, kalau besok makan enak?’ ‘Kepingin.’ Semua juga ingin. Nah, kalau Allah tidak menghendaki, itu tidak akan terjadi. Maka bagaimana supaya apa yang menjadi keinginan kita itu dikabulkan oleh Allah Swt.? Tidak ada jalan lain, kecuali kata Rasulullah Saw. tadi, “Ikuti saja aku.” Ikut kemana? Bukan ikut ke Bogor atau ke Jasinga. Nabi Muhammad Saw. tidak kenal Bogor, tidak kenal Jasinga. Bukan ikut kerja dimana? Nabi Muhammad Saw. tidak pernah kerja di PT-PT. Tapi apa yang dilakukan oleh Rasulullah? Bagaimana Rasulullah Saw. melakukan? Ibadah. Shalat lima waktu Rasulullah jalani. Bukan hanya shalat yang lima waktu yang dijalani oleh Rasulullah Saw., tetapi juga shalat-shalat sunnahnya. “Ikutilah aku,” katanya. Rasulullah puasa, kita ikut puasa. Rasulullah Saw. melakukan kegiatan-kegiatan yang baik-baik itu kita lakukan dan tidak ada kegiatan yang tidak baik yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Kalau sudah ikut, يحببكم الله  (Allah akan mencintaimu). Posisi orang yang dicintai itu nikmat rasanya. Kalau seorang suami dicintai oleh istrinya, kolornya yang bau saja, tidak usah nyuci dicucikan sama istrinya, perut lapar juga dimasakkan sama istrinya. Perlu apa saja disediakan oleh istrinya, kalau memang suami itu dicintai oleh istrinya. Tetapi kalau tidak dicintai oleh istrinya, mungkin ia minta makan, ‘Cari sendiri, memang tidak punya tangan.’ kata istrinya. Istrinya memang tidak cinta. Ingin ini ingin itu ditolak semua sama istrinya, karena istrinya tidak cinta. Kalau seorang istri juga dicintai oleh suami, dia akan nikmat sekali. Apa yang menjadi kebutuhannya, oleh suami disediakan. Bahkan kadang-kadang tidak meminta pun oleh suami disediakan, barang kali suatu saat memerlukan. Itu jika dicintai oleh suaminya. Minta ini minta itu dikabulkan. Posisi orang yang dicintai oleh pihak lain akan senang. Apalagi yang mencintai ini adalah yang mempunyai segala-galanya, Yang Maha Kaya. Tidak ada di dunia ini yang kekayaannya membandingi kekayaan Allah Swt., Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu. Tidak usah ngomong juga sudah tahu apa yang menjadi keinginan kita. Alangkah nikmatnya kalau kita hidup ini dicintai oleh Allah Swt. Tetapi untuk dicintai oleh Allah bagaimana caranya? Ikuti saja apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., maka pada ujungnya akan berakibat kita dicintai oleh Allah Swt., dan dosa-dosa kita juga akan diampuni oleh Allah Swt. sehingga kita di dalam menjalani hidup ini terang, tenang, tentram, aman, nyaman, dan bahagia. Tetapi kalau kita tidak dicintai oleh Allah, hidup akan susah; melamar kerja di mana-mana tidak diterima. Sekarang ini melamar kerja tidak hanya sekedar punya ijazah. Sudah punya ijazah pun tidak jaminan sama sekali akan diterima. Tetapi kalau orang dicintai oleh Allah, tidak kerja pun kadang-kadang masih bisa makan. Tidak kerja pun orang yang dicintai oleh Allah Swt. itu masih mendapatkan rizki. Maka perlu kiranya kita tingkatkan terus ibadah kita, keimanan kita kepada Allah Swt. Dalam upaya meningkatkan ibadah kita kepada Allah Swt. supaya kita dicintai oleh Allah Swt. maka perlu adanya belajar mengaji seperti ini. Tetapi mengaji kita ini supaya menghasilkan, maka harus dipraktekkan. Mengaji, datang, tetapi tidak dipraktekkan sama sekali, ya sama saja tidak bisa merubah nasib. Tetapi kalau hasil dari pengajian ini dipraktekkan, baru akan mengalir rahmat dari Allah Swt. Kita jangan ikut-ikutan orang yang tidak tahu agama, yang penting kerja dari pagi sampai sore sehingga mendapatkan uang. Dapat uang banyak tidak jaminan orang itu bisa menikmati uang itu. Dapat uang 5 juta, tetapi sakit, tetapi ada ini ada itu, sehingga tidak lama uang tersebut pun habis. Tidak jaminan sama sekali. Tetapi kalau kita mendapatkan kasih sayang dari Allah, mendapatkan keberkahan dari Allah, sekalipun kita tidak punya duit pun rasanya nyaman saja, bahkan sehat. Mau makan, alhamdulillah ada, kebutuhan-kebutuhan tidak banyak. Atau punya uang sedikit pun, alhamdulillah cukup. Ini kalau kita dicintai, disayang, diberkati oleh Allah Swt. di dalam hidup ini. Sekali lagi, yang kita cari di dalam hidup ini sebenarnya bukan banyaknya harta benda, banyaknya bayaran, tetapi keberkahan ini yang kita utamakan. Dapat banyak, alhamdulillah berkat, bisa bermanfaat untuk macam-macam, bisa digunakan untuk beli kendaraan, bisa digunakan untuk beli ini untuk beli itu, apa yang menjadi kebutuhannya terpenuhi. Tetapi kalau tidak berkah, sekalipun banyak tidak nyangkut. Sekarang bagaimana supaya rizki yang kita terima itu menjadi berkah? Tingkatkan kadar ibadah. Coba ke masjidnya ditingkatkan. Shalat Dhuha. Tidak harus berjamaah di sini. Shalat Dhuha dulu supaya rizki ini berkah. Jadi ngaji ini dipraktekkan. Jangan ngaji cuma didengarkan saja. Setelah pulang, masa bodoh, ‘Ngapain kayak begitu.’ Ini namanya ilmunya tidak bertambah, akal pikirannya tidak terbuka. Ilmu yang sedikit diamalkan itu lebih baik daripada ilmu yang banyak tetapi tidak diamalkan.

Baiklah saya kira cukup sekian saja pengajian kita pada hari ini. Mudah-mudahan Allah Swt. senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua. Sekali lagi apa yang terjadi pada Paimin itu supaya menjadi pelajaran, kemana-mana kita melakukan pekerjaan itu jangan lupa didahului dengan doa mohon perlindungan kepada Allah Swt. Sekurang-kurangnya membaca,

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، بسم الله الرحمن الرحيم

“Aku mohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan.”

Sekurang-kurangnya baca itu. Kita juga bisa kok. Minta perlindungan dari Allah supaya kita dilindungi oleh Allah. Bukannya di sekitar sini tidak ada bahaya? Bahaya itu dari mana-mana. Tumpukan kayu ini di bawahnya kadang-kadang bisa ada ular yang melingkar tidur. Maka kita bukan hanya perlu waspada, tetapi juga meminta perlindungan dari Allah Swt. Kalau kita dilindungi oleh Allah Swt., sekalipun kita tidak melihat, kebetulan saja Allah memberikan petunjuk; mungkin kesenggol kayu sehingga ia lari duluan. Bisa saja. Dan kita minta perlindungan kepada Allah Swt. dalam segala hal. Di dalam memasak bukan berarti juga tidak ada bahaya. Bisa saja kadang-kadang lagi menggoreng minyaknya tumpah mengenai kita. Sedang menuangkan air panas, mrucut (terlepas). Akhirnya mengguyur kaki. Itu bisa saja terjadi kapan saja, dimana-mana. Di tempat kita kerja itu juga bisa terjadi, musibah-musibah seperti itu. Maka perlu sekali di dalam melakukan segala sesuatu kita memohon perlindungan kepada Allah Swt.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Sekurang-kurangnya itu. Mohonlah agar dilindungi oleh Allah Swt. dari musibah-musibah yang menimpa kita. Sekian saja semoga Allah Swt. memberikan petunjuk kepada kita pada jalan yang lurus.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc.

Di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait