Hidup Bersama Ribuan Orang yang Mengajarkan Toleransi Lebih Cepat dari Teori

Di pesantren, toleransi bukan mata pelajaran yang ada di jadwal. Tidak ada ujian tentang toleransi. Tidak ada nilai rapor untuk kemampuan menghargai orang lain. Tapi justru di sini, toleransi tumbuh dengan cara yang sulit ditiru di tempat lain — karena teori langsung bertemu kenyataan setiap hari, tanpa jeda.

banyak santri dari latar belakang yang berbeda tinggal di bawah satu atap. Anak dari keluarga kaya tidur di kasur yang sama dengan anak dari keluarga sederhana. Di meja yang sama, duduk anak kyai berdampingan dengan anak petani. Kelas diisi oleh campuran anak kota dan anak dari pelosok desa yang sebelumnya tidak pernah bertemu. Perbedaan yang di luar sering menjadi sekat, di pesantren dipaksa untuk berpapasan setiap hari — dan dari perjumpaan itu, pemahaman mulai terbentuk.

Proses itu tidak selalu mudah di awal. Kita yang terbiasa dengan cara hidup sendiri harus menyesuaikan diri dengan cara hidup orang lain yang sangat berbeda. Kebiasaan makan, cara bicara, standar kebersihan, jam tidur — semua itu bisa menjadi sumber gesekan kecil di minggu-minggu pertama. Santri yang terbiasa makan dengan sendok merasa aneh melihat temannya makan dengan tangan. Yang terbiasa tidur dengan lampu mati harus kompromi dengan teman yang butuh lampu kecil menyala. Negosiasi kecil itu terjadi setiap hari.

Negosiasi itulah yang menjadi latihan toleransi paling efektif.

Toleransi yang dipraktikkan langsung — memberi ruang untuk orang lain, menerima bahwa cara yang berbeda bukan berarti cara yang salah, dan menemukan titik tengah yang membuat semua orang bisa hidup berdampingan dengan nyaman. Tidak ada yang mengajarkannya secara formal. Tumbuh sendiri dari keharusan menghadapi perbedaan setiap hari tanpa bisa menghindar.

Setelah beberapa bulan, perbedaan yang tadinya terasa mengganggu mulai menjadi sesuatu yang biasa. Santri dari Jawa yang awalnya tidak suka makanan pedas sekarang ikut menikmati sambal kiriman teman dari Sumatera. Teman dari kota yang tidak biasa bangun sebelum subuh justru menjadi yang paling rajin membangunkan seisi kamar. Pertukaran kebiasaan itu berjalan dua arah dan terjadi tanpa pernah direncanakan.

Toleransi yang terbentuk di pesantren punya dimensi yang lebih dalam dari sekadar kebiasaan sehari-hari. Kita belajar bahwa perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang ekonomi tidak mengubah esensi seseorang. Teman yang paling bisa diandalkan kadang justru yang paling berbeda dari kita — karena dari perbedaan itu, sudut pandang yang tadinya sempit menjadi lebih luas.

Toleransi bukan soal tidak pernah kesal. Tapi soal tetap menghargai orang yang pernah membuat kita tidak nyaman, dan menyadari bahwa ketidaknyamanan itu justru yang membuat kita tumbuh.

Alumni pesantren yang sudah memasuki dunia kerja sering bercerita bahwa kemampuan mereka bekerja di tim yang beragam sudah terlatih sejak masa mondok. Kita tidak kaget menghadapi rekan kerja dengan pandangan yang berbeda. Justru merasa nyaman, karena keberagaman sudah menjadi lingkungan yang familiar.

Di Darunnajah 2 Cipining, motto Berdiri Di Atas Dan Untuk Semua Golongan dipraktikkan setiap hari di setiap sudut pesantren — dari kamar asrama sampai meja makan, dari ruang kelas sampai lapangan olahraga. banyak santri dari berbagai provinsi hidup bersama tanpa pengelompokan berdasarkan asal daerah.

Toleransi sejati memang tidak bisa diajarkan lewat ceramah atau poster. Hanya bisa tumbuh dari pengalaman hidup berdampingan dengan orang yang berbeda — dan pesantren memberikan pengalaman itu setiap hari, selama bertahun-tahun, sampai akhirnya menghargai perbedaan bukan lagi usaha sadar tapi sudah menjadi bagian dari diri kita sendiri.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.