DNkindergaten, 3/09
Banyak pasien yang sering berobat sendiri, karena berbagai alasan. Sakit yang gak mau kompromi di tengah malam, lokasi sarana kesehatan yang jauh, takut biaya berobat yang mahal sampai males berobat karena merasa penyakitnya bisa sembuh hanya dengan minum obat.
Perlu diperhatikan, obat anak tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan obat untuk dewasa, dalam hal dosis dan pilihan pengobatan.
Berikut kesalahan seputar pengobatan yang sering dilakukan masyarakat :
1. Memberikan obat yang seharusnya tidak diberikan untuk anak.
“Kemaren anak saya sakit, saya kasih obat D langsung sembuh” “Katanya Obat G bagus buat anak, meskipun agak keras”
Ada beberapa obat, sebagai contoh, Asam Mefenamat [baca: Ponstan, uhuyy!] yang gak boleh diminumkan ke anak dibawah umur 14 tahun. Karena menurut penelitian, obat ini bersifat “asam“, yang terlalu keras untuk lambung anak-anak dibawah usia 14 tahun. Gejala kerusakan memang tidak langsung nampak, tapi ini sama saja seperti menyimpan bom waktu, yang siap meledak setiap saat.
2. Memberikan dosis se”dapetnya info”
Ini gak baik. Dosis diberikan dengan memperhatikan beberapa hal, gak bisa dipukul rata. “Anak kecil dosisnya PASTI setengah dosis dewasa”
“Anak kecil itu umur 6-12 tahun”
Obat untuk anak kecil diberikan berdasarkan acuan luas permukaan tubuh dan tidak lagi berdasarkan umur. Interaksi obat pada anak “kurus” berbeda dengan anak “gemuk”. Anak gemuk perlu jumlah obat lebih banyak untuk memaksimalkan kerja obat. Kadang anak umur 6 tahun membutuhkan jumlah obat lebih banyak daripada anak umur 10 tahun.
3. Menganjurkan makan obat bermacam-macam
“Kalo gak mempan minum obat A, coba minum obat B!” Kalo gak mempan juga, katanya obat C, obat dewa” “Kalo masih gak mempan juga, berenti minum obat, dan mulai bertobat”. krik krik krik.
Jangan sembarangan. Beberapa obat berakibat buruk bagi sebagian orang. Obat-obat bersifat asam sebaiknya tidak dikonsumsi “langsung” tanpa berkonsultasi bagi penderita maag.
Obat anti mual tidak boleh sembarangandiberikan ke anak kecil. Juga hindari pemberian obat untuk gejala penyakit yang kamu anggap sama antara kamu dengan saudara kamu yang lebih kecil.
4. Jangan memberikan obat yang sudah terlalu lama tersimpan
Obat memiliki masa kadaluarsa. Obat yang telah melewati masa tersebut telah berubah menjadi “lawan” dari status awalnya sebagai “kawan”
Buang semua obat yang dirasa sudah terlalu lama menghuni rumah kamu. Jangan disayang-sayang ato dikoleksi. Kalo jatuh ketangan yang salah bisa fatal akibatnya!
Intinya, dokter atau tenaga kesehatan yang lain, ada untuk seluruh lapisan masyarakat dengan beragam pilihan. Mau murah ato mahal semua kembali ke kamu sebagai pasien. Yang penting hindari peran menjadi dokter atau tenaga kesehatan kalo kamu gak punya dasar di bidang tersebut.
sumber : www. magahaya.com