Hari Terakhir Sebelum Liburan dan Koper yang Dipak Sejak Seminggu Sebelumnya

Seminggu sebelum hari kepulangan, koper yang biasanya tersimpan di atas lemari atau di bawah tempat tidur sudah mulai diturunkan. Diletakkan di pojok kamar, dibuka, dan perlahan mulai diisi — satu baju hari ini, satu celana besok, buku catatan yang ingin dibawa pulang lusa. Proses packing yang seharusnya bisa selesai dalam satu malam itu sengaja diperpanjang oleh santri sebagai bagian dari ritual hitung mundur yang sudah dimulai jauh sebelum hari keberangkatan tiba.

Suasana asrama di pekan terakhir sebelum liburan selalu terasa berbeda dari pekan-pekan biasa. Ada energi yang berubah. Santri yang biasanya fokus pada pelajaran sekarang lebih sering membicarakan rencana di rumah. Apa yang mau dimakan pertama kali sampai di rumah. Siapa yang mau ditemui duluan. Tempat mana yang paling ingin dikunjungi. Percakapan itu penuh antusiasme yang menular — satu orang bercerita tentang masakan ibunya, seluruh kamar langsung ikut merindukan masakan ibu masing-masing.

Tapi di balik antusiasme itu, ada perasaan lain yang jarang diungkapkan secara terbuka.

Santri yang sudah bertahun-tahun mondok mulai merasakan sesuatu yang aneh — campuran antara senang akan pulang dan sedikit berat meninggalkan. Bukan berat karena tidak mau pulang. Tapi berat karena sadar bahwa kehidupan yang sudah terasa nyaman di pesantren harus dihentikan sementara. Teman-teman yang setiap hari ada di sebelah sebentar lagi akan berpencar ke kota masing-masing. Rutinitas yang sudah menjadi irama hidup akan tergantikan oleh ritme yang berbeda di rumah.

Kita yang pernah merasakan perasaan itu tahu bahwa momen itu menandakan sesuatu yang penting — pesantren sudah benar-benar menjadi rumah kedua.

Hari terakhir sebelum keberangkatan selalu yang paling emosional. Pagi diisi dengan bersih-bersih kamar yang harus ditinggalkan dalam keadaan rapi. Loker dikosongkan. Kasur digulung atau dirapikan. Kamar yang selama berbulan-bulan menjadi ruang hidup mereka tiba-tiba terlihat kosong dan asing — seolah-olah baru pertama kali melihatnya.

Siang hari, foto-foto diambil di setiap sudut yang punya kenangan. Di depan asrama. Di bangku kantin. Di halaman masjid. Setiap sudut difoto bukan karena indah secara visual, tapi karena cerita yang melekat di sana. Foto itu akan dibuka lagi berminggu-minggu kemudian saat rindu pesantren datang di tengah liburan — dan setiap gambar akan membawa kembali momen yang terasa lebih berharga setelah berlalu.

Sore hari, koper yang sudah penuh ditutup dan dikunci. Berat koper saat pulang selalu lebih dari saat berangkat — bukan hanya karena barang bawaan bertambah, tapi karena ada kenangan yang ikut dibawa meskipun tidak terlihat secara fisik. Di dalam koper itu ada buku catatan yang isinya lebih dari sekadar pelajaran. Ada surat dari teman. Ada oleh-oleh kecil yang dibeli dari toko pesantren untuk adik di rumah.

Malam terakhir di asrama biasanya dihabiskan dengan mengobrol sampai larut. Tidak ada yang ingin tidur cepat malam itu. Cerita-cerita selama satu semester diulang — momen lucu, momen sedih, momen membanggakan — semuanya dikumpulkan dalam satu malam seolah ingin memastikan tidak ada yang terlupa.

Di Darunnajah 2 Cipining, jadwal kepulangan santri diatur secara terstruktur agar proses keberangkatan berjalan tertib. Meskipun suasananya emosional, pesantren memastikan setiap santri pulang dengan aman dan koper yang sudah diperiksa kelengkapannya.

Pulang dari pesantren memang selalu ditunggu. Tapi hari terakhir sebelum pulang sering kali menjadi pengingat bahwa tempat yang kita tinggalkan punya arti yang jauh lebih besar dari yang kita sadari saat masih ada di dalamnya.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.