Ustadzah Syifa Lestari
“Hari pertama disini ana diajak pihak diyanet untuk tour ke daerah beysehir, danau yang seperti lautan.

Masyarakat disini memakai madzhab hanafi, madzhab yg jarang ana pribadi temui di indo,,
Saat kami shalat jamaah, mereka masih heran dengan pakaian shalat yg ana kenakan (mukena),, gerakan shalat juga beda sedikit.
Lalu disini juga rawatib seperti ‘diwajibkan’
Dan wanita itu makruh untuk jadi Imam, jadi di asrama tidak pernah shalat jamaah, cukup sendiri”

Soal makanan, ana masih adaptasi. Ada satu minuman khas Turki yg masih belum bisa masuk di lidah ana, namanya ayran.
Ayran semacam yoghurt plain campur air dan garam, rasanya menurut ana aneh, tapi jadi idola disini,,

Di Konya, kota syifa skrg, alhamdulillah masjid” mudah ditemui, dan berdekatan dgn situs” peninggalan jaman dulu seperti museum mevlana yg menjadi tempat tinggal dan makam jalaluddin rumi atau makam” peninggalan kerajaan seljuk yg berjaya sebelum ottoman, (karena kota konya adalah ibukota dari kerajaan seljuk dulu).
Untuk tata kota, disini rapi sekali,
Transportasi menggunakan kartu, jadi sistemnya tap-in, dan diisi ulang. Bisa dipakai untuk naik bis, atau tramvay (semacam kereta listrik).
Ada dolmus juga, kaya angkot kalo di Indonesia namun jumlahnya sedikit,
Semua pelajar disini diberi kartu yg bisa tap in kemana saja (transportasi di konya) tanpa membayar.
Alhamdulillah banyak juga teman dari negara lain, bahkan ada dari Negara yg ana sendiri belum tahu namanya kaya arnavut, dsb.

Sekarang disini musim panas jadi masih bisa menyesuaikan,, oktober masuk musim semi atau gugur.
Karena musim panas panjang waktu siangnya, jadi sedikit rada aneh sama pembagian waktu shalatnya.
Makanan masih tahap penyesuaian, karena makanan disini rasanya memang gak setajam rasa makanan indo…
Tentang bahasa juga rada kendala. Karena gak semua orang bisa bahasa inggris, jadi satu kamar bertiga itu, satunya bisa inggris, satunya enggak sama sekali.
Apalagi kalo misalnya mau beli sesuatu diluar asrama Lebih susah lagi karena orang-orang disini gak bisa bahasa inggris.
Tapi orang” kota ini (Konya) alhamdulillah baik juga ramah, gak kaya kota” besar yg lain yg sebagian rda acuh sama orang dan kebarat”an..
Masuk kelas bahasa (Tomer) mulai 2 Oktober.
Depan asrama ada stasiun. Jarak ke tempat Ustadzah Nur Zakiyah sekitar 200 KM.”


