Hak-hak Seorang Muslim

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Hak-hak Seorang Muslim

Salah satu program kegiatan Ilmiyah yang dilakukan di Pesantren Darunnajah Cipining Bogor zona Kampus dua adalah Kajian Ilmiyah tentang pembahasan atau pengkajian Kitab Bulughul Maram, sebuah karya dari Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany. Kegiatan Kajian Kitab Bulughul maram ini biasa dilakukan setiap hari Selasa malam, bakda Isya yang diasuh langsung oleh guru Darunnajah Cipining.

Kegiatan tersebut dilakukan selepas Shalat isya, dengan tempat di Masjid. Adapun pembahasan yang di lakukan adalah membahas tentang hadits-hadits yang terdapat pada “Kitab Jamik” atau Kitab Pelengkap yang merupakan kumpulan hadits-hadits yang berkaitan tentang panduan kehidupan sehari-hari. Diantara yang dibahas didalam Kitab Jamik adalah tentang Adab, Tentang Kebaikan dan Silaturahmi, tentang zuhud dan wara’, tentang peringatan untuk menghindari kejelekan akhlak, mendorong untuk melakukan kebaikan dan tentang dzikir dan doa.

Setelah kegiatan kajian, para santri kembali melanjutkan aktifitas selanjutnya yakni; mengulang Pelajaran, melakukan bimbingan keterampian atau kesenian, mengerjakan tugas sekolah dan lain sebagainya. Berikut ini adalah pembahasan dari Kajian Bulughul Maram Kitab Jamik Hadits ke 1.201 yaitu tentang; Hak-hak Seorang Muslim.

============================================

Umat Islam yang beragam suku bangsanya, berbeda daerah dan bahasanya, dan perbedaan-perbedaan lainnya telah Allah satukan dengan ikatan Ukhuwah Islamiyah atau Persaudaraan. Dalam beberapa ayat Al-Quran Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa sesama Muslim adalah Bersaudara. Allah swt menjadikan orang-orang beriman ini bersaudara dalam keimanan dan menyerupakan mereka dalam keutuhan (antara mereka) dengan sebuah bangunan, seperti yang disebutkan di dalam firmanNya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٠)

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10)

Ada banyak ayat di dalam Al-Quran yang bernada serupa, yang menjelaskan bahwa umat islam bersaudara dengan orang yang seiman. Dan ketahuilah bahwa persaudaraan yang dilandasi dengan keimanan itu lebih kuat daripada persaudaraan yang dilandasi dengan apapun. Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ (١٠١)فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٢)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (١٠٣)

“Apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, Maka mereka Itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan Barangsiapa yang ringan timbangannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS Al-Mukminun: 101-103)

  الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧)

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67)

Sebagai umat yang baik yang senantiasa menjaga persaudaraan antara muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah dengan mewujudkan berbagai upaya yang bisa membentuk kasih sayang dan cinta di antara sesama, termasuk sebab-sebab yang membuat setiap individu saling merasa senang atau ridha kepada kebaikan, saling tolong menolong dan menjauhi segala faktor yang melemahkan dan mengurangi kekuatan hubungan antara sesama muslim di dalam kehidupan nyata, sehingga dengan hal itu dapat melemahkann amal ibadah kita.

Dan ketahuilah bahwa umat ini tidak bersatu dan perundang-undangannya tidak bisa terwujud secara sempurna kecuali dengan terbentuknya rasa cinta dan persaudaraan, sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah memberitahukan hal tersebut di dalam sebuah sabdanya, “Orang mu’min yang satu dengan mu’min yang lain bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya”.

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Perumpaan orang-orang mu’min dalam kasih sayang, rasa cinta, solidaritas dan saling membantu antara mereka sama seperti badan yang satu, yang apabila ada di antara anggota badan tersebut yang mengaduh kesakitan maka anggota badan yang lain akan meregang kepanasan dan tidak bisa tidur”.

Alangkah agungnya persaudaraan tersebut dan alangkah indahnya akhlak yang terpuji ini, Allah Subahnahu Wa Ta’ala menajadikannya sebagai hikmah dan nikmat bagi orang-orang yang beriman, Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ (٦٢)وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٦٣)

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan Para mukmin, Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfaal: 62-63)

Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman telah mensyari’atkan bagi kita segala faktor yang bisa memperkuat persaudaraan dan menumbuhkan rasa cinta di antara sesama orang-orang yang beriman, dan menjauhi segala perbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan, dan permusuhan. Sungguh celaka hamba yang senantiasa meyepelekan dan menyia-nyiakan perintah Tuhannya, hendaknya kita mengikuti jejak salafus shaleh dan jama’ah kaum muslimin. Mengambil petunjuk mereka dan jalan yang mereka tempuh dalam urusan agama ini baik tentang keyakinan, amal ibadah dan ketaatan, dan meneladani mereka dalam urusan cinta mencintai antara sesama mereka dan mentauladani mereka dalam perkara-perkara agama dan kemanusiaan, di mana Rasulullah shallallau alaihi wa sallam telah mempersaudarakan antara para shahabatnya dan membangun persaudaraan ini adalah upaya kedua yang dilakukan oleh Rasulullah shallallau alaihi wa sallam setelah berhijrah ke Madinah, beliau menjadikan orang-orang Anshor sebagai  saudara bagi orang-orang muhajirin, dan persaudaraan ini menyebabkan terjadinya pewarisan antara mereka pada permulaan Islam sampai turunnya ayat yang menjelaskan tentang masalah pembagian harta warisan.

Di dalam sebuah hadits dari Abu Dzar radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Dzar maukah engkau jika aku tunjukkan kepadamu kepada sebuah perniagaan yang lebih baik daripada dunia dan seisinya?. Maka akupun menjawab: Aku mau wahai Rasulullah, “Engkau berusaha untuk memperbaiki hubungan antara orang mu’min yang satu dengan yang lainnya apabila hubungan tersebut telah rusak dan engkau berusaha mendekatkan mereka jika mereka saling berjauhan”.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjauhi saudaranya melebihi tiga hari dan yang paling dari mereka adalah orang yang memulai dengan salam” (Muttafaq alaihi).

Syari’at Islam telah menjelaskan tetang keharaman saling memutuskan hubungan silaturrahmi antara pribadi yang beriman, mengharamkan namimah dan berjalan di muka bumi untuk berbuat kerusakan. Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (١١)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Hujurat: 11)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang berjuang untuk mengadu domba sesama orang yang beriman”. (Muttafaq alaihi).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang saling mencela dan mengejek dan Rasulullah shallallau alaihi wa sallam bersabda: Di antara dosa besar yang paling besar adalah seorang lelaki mencela kedua orang tuanya. Dikatakan bagaimanakah seseorang dikatakan mencela kedua orang tuanya?. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Seorang lelaki mencela bapak orang lain lalu dia membalas mencela bapaknya, dan seorang lelaki mencela ibu seseorang lalu dia membalas mencela ibunya”.

Dan cukuplah perbuatan ini sebagai perbuatan buruk di mana Allah menggambarkannya dengan gambaran yang keji. Allah mengumpamakannya dengan bangkai yang dimakan oleh seseorang. Di sebutkan di dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujuraat: 12)

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat selanjutnya keutamaan persaudaraan dan akhlak yang baik sebagai bukti akan kemuliaan dan keagungan perbuatan ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13)

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (٤٦)

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfaal: 46)

Dan renungkan pula sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Ruh-ruh itu bagai tentara yang telah dipersenjatai, yang telah saling mengenal maka dia bersatu dan yang saling mengingkari pasti akan bercerai berai” . HR. Bukhari dan Muslim

Sabda Nabi shallallau alaihi wa sallamSurga itu bagi orang yang mentaatiku walau dia seorang hamba sahaya dari Habsy, dan neraka itu bagi orang yang mendurhakai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam walau dia orang mulia dari suku Quraisy”.

Hadits Pertama dalam Kitab Jamik “Bulughul Maram” atau Hadits ke 1.201 menjelaskan tentang 6 Hak-hak Seorang Muslim. Hadits yang cukup populer ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu; bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. (HR Muslim)

Dari hadits di atas jelas telah dijelaskan bahwa haq seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam perkara, yaitu:

  1. 1.       Apabila berjumpa maka ucapkanlah Salam

Mengucapkan Salam hukumnya Sunnah (Dianjurkan) dan menjawabnya adalah Wajib. Tentang mengucapkan Salam, Islam menuntun kita untuk senantiasa menyebarkan salam dimanapun dan kapanpun. Salam merupakan doa kebaikan yang diberikan kepada sesama muslim, demikian juga jawaban dari salam itu sendiri, doa yang (biasanya) lebih baik yang bisa kita dapatkan. Mengucapkan salam bukan hanya kepada orang-orang yang sudah kita kenal saja, tetapi orang yang belum kita kenal pun dianjurkan untuk mengucapkan salam, selama adanya identitas (tanda-tanda) ia sebagai seorang muslim.

Jadi apabila kita berjumpa dengan muslim yang lain di jalan maka kita ucapkanlah salam terhadapnya sekalipun kita tidak mengenalnya, inilah yang susah kita biasakan, biasanya kita mengucapkan salam hanya kepada orang yang kita kenal saja, harusnya kita biasakan mengucapkan salam juga kepada muslim yang lain sekalipun kita tidak mengenalnya.

Lafadz “Assalamualaikum” biasa di artikan dengan; Semoga Keselamatan atas kalian, atau semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ucapan salam sangat berasalan untuk dihidupkan, dan dilestarikan, hal tersebut dapat dijelaskan dengan alasana-alasan sebagai berikut;

  1. Salam bukan sekedar ungkapan kasih sayang, tetapi memberikan juga alasan dan logika kasih-sayang yang di wujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam duka lara. Tidak seperti ucapan “Selamat Pagi” atau ucapan “Pagi” saja.
  2. Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada Allah swt, tidak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa izin dari Allah swt.
  3. Perhatikanlah bahwa ketika seseorang mengatakan Kepada anda; “Aku berdoa semoga kamu sejahtera” maka ia menyatakan dan berjanji bahwa anda aman dari tangan dan lidahnya, dan ia akan menghormati hak hidup, kehormatan dan harga diri anda.

Ibnu Al-Arabi didalam Ahkamul Quran mengatakan: Tahukah kamu arti salam? orang yang mengucapkan salam itu memberikan pernyataan bahwa “Kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku”

Kesimpulannya; bahwa salam berarti; mengingat (dzikir) kepada Allah, Pengingat diri, ungkapan kasih sayang, doa yang istimewa, dan pernyataan bahwa ‘anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kamu tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sehingga berkasih-sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu kerjakanm kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih sayang diantara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR Muslim)

Abu Umammah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda; “Orang yang lebih dekat kepada Allah adalah yang lebih dulu memberi salam” (Musnad Ahmad, Abu dawud dan At-Tirmidzi)

Allah swt berfirman didalam surat An-Nisa Ayat 86;

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (٨٦)

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS An-Nisa: 86)

Berdasarkan ayat diatas, kita dituntun untuk menjawab ucapan salam dengan salam yang lebih baik atau minimal sama dengan yang diucapkan.

  • Misalkan seseorang mengucapkan; “Assalamualaikum” maka dijawab; “Waalaikumussalam”, atau jika ingin lebih baik maja dijawab; “Waalaikumussalam Warahmatullah”.
  • Misalkan seseorang mengucapkan; “Assalamualaikum Warahmatullah” maka dijawab; “Waalaikumussalam Warahmatullah”, atau jika ingin lebih baik maja dijawab; “Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh”
  • Atau Misalkan Seseorang mengucapan “Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh” maka di jawab dengan jawaban yang sama; “Waalaikumussalam Warahmatullah wabarakatuh”

Raslulullah saw selanjutnya memberikan arahan tentang cara mengucapkan salam;

  1. Orang yang berkendaraan harus memberi salam kepada pejalan kaki
  2. Orang yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk.
  3. Kelompok yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang jumlahnya lebih banyak
  4. Orang yang meninggalkan tempat memberi salam kepada orang yang ditinggalkan
  5. Ketika pergi meninggalkan rumah atau pulang ke rumah hendaknya mengucapkan salam, meski tidak seorangpun ada didalamnya (malaikat yang akan menjawab)
  6. Jika bertemu berulang-ulang maka ucapkanlah salam setiap kali bertemu.

Walaupun menjawab salam adalah wajib, tetap ada Pengecualian-pengecualian tertentu bagi orang yang tidak wajib didalam menjawab salam, mereka adalah;

  1. Ketika sedang shalat, orang yang sedang shalat tidak ada kewajiban menjawab salam karena akan membatakan shalatnya.
  2. Khatib, orang yang membaca Al-quran, atau seseorang yang sedang mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau sedang mengajarkan kitab-kitab islam.
  3. Ketika sedang buang air atau berada dikamar mandi

Tentang Keutamaan Salam telah di jelaskan di dalam Surat Al-An’am ayat 54 yang berbunyi;

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٤)

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-An’am: 54)

  1. 2.       Apabila diundang maka datangilah

Apabila kita di undang maka kita harus datang, karena termasuk haq seorang muslim terhadap muslim yang lain., tentunya undangan yang sifatnya tidak melanggar syariat Islam. Misalkan, kita diundang oleh orang yang hendak melaksanakan walimatun Nikah, maka hendaknya kita mendatanginya, karena menikah merupakan salah satu syariat yang diperintahkan. Atau diundang untuk datang kerumahnya, maka penuhilah undangannya. Kecuali kita diundang untuk mendatangi suatu tempat maksiat dengan tujuan melakukan kemasiatan, maka hal tersebut tidak wajib kita penuhi undangannya.

  1. 3.       Apabila dia minta nasehat maka nasehatilah dia

Ini juga termasuk haq seorang muslim terhadap muslim yang lain, apabila ada seseorang yang minta nasehat maka kita sebagai seorang muslim yang baik hendaknya bersedia memberikan nasehat kepada saudara kita sesama muslim. Dalam hal ini, Sahabat Umar bin Khattan r.a. pernah berucap; Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.(Umar bin Khatab)

  1. 4.       Apabila bersin maka ucapkanlah Alhamdulillah, bacalah Yarhamukallah

Bersin adalah salah satu nikmat Allah yang bisa kita rasakan secara langsung, sebaliknya dapat kita rasakan bagaimana rasanya ketika bersin tetapi tidak jadi. Ketika Bersin, maka segala bakteri atau virus yang ada di rongga pernafasan kita akan dikeluarkan, selain itu juga, setelah bersin biasanya badan akan terasa lebih segar dan hilang rasa ngantuk. Untuk itu ketika seseorang Bersin, maka sangat dianjurkan mengucapkan pujian kepada Allah dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, maka orang yang mendengarnya wajib untuk mendoakannya dengan mengucapkan “Yarhamukallah” (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu).

Mengenai Bersin, sesungguhnya hal tersebut merupakan pertanda bahwa Allah menyayangi kita, dan tentunya jika kita disayang oleh Allah maka dibenci oleh Syetan. Dan kebalikan dari Bersin adalah Menguap, ketika menguap kita akan disenangi oleh syetan dan tidak disukai oleh Allah swt. Rasulullah saw bersabda:

 

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس فحمد الله فحق على كل مسلم سمعه أن يشمته، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان فليرده ما استطاع، فإذا قال: ها، ضحك منه الشيطان )) صحيح البخاري في الأدب 6223

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’alaa anhu, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya“. (HR Al-Bukhari, 6223)

Imam Ibn Hajar berkata, “Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan. Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077)

Nabi saw menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut. Rasulullah saw bersabda:

إذا عطس أحدكم فليقل الحمد لله، وليقل له أخوه أو صاحبه: يرحمك الله، فإذا قال له يرحمك الله فليقل: يهديكم الله ويصلح بالكم

Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah Al-Hamdulillah, dan hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan “Yarhamukallahu, dan bila dijawab demikian, maka balaslah dengan ucapan Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum”. (HR. Bukhari, 6224)

Dan para dokter di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam! Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba’ (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155)

  1. 5.       Apabila dia sakit maka jenguklah

Apabila ada saudara kita sesama muslim sakit maka jenguklah, ini juga termasuk haq seorang muslim terhadap muslim yang lain, mungkin kita lihat diri kita bagaimana rasanya apabila kita sakit tidak ada yang menjenguk, padahal sesama muslim banyak di sekitar kita.

Sakit merupakan Ujian dan penggugur dosa buat orang yang beriman, maka jika ia bersabar, pahala yang didapatkan. Ketika kita mendengar ada saudara muslim kita yang sakit, sesungguhnya itu adalah lading amal buat kita, dengan menjenguknya kita akan mendapatkan beberapa keutamaan;

  1. a.       Merupakan kebun surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

Siapa saja yang menjenguk orang sakit akan senantiasa berada di kebun surga sampai ia kembali”. (HR. Muslim)

Maksudnya, orang yang menjenguk orang sakit akan memanen banyak pahala sebagaimana orang yang berada di kebun surga yang memanen buah-buahan surga.

  1. b.      Berada di dalam rahmat Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيْضًا خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ، حَتَّى إِذَا قَعَدَ اِسْتَقَرَّ فِيْهَا

Siapa yang menjenguk orang sakit, ia akan masuk ke dalam rahmat (Allah), sehingga apabila duduk, ia akan berada di dalam rahmat tersebut”. (HR. al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad dan disahihkan al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyampaikan:

مَنْ عَادَ مَرِيْضًا خَاضَ الرَّحْمَةَ، فَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ اِسْتَقْنَعَ فِيْهَا، فَإِذَا خَرَجَ مِنْ عِنْدِهِ خَاضَ الرَّحْمَةَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى  بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menjenguk orang sakit, ia masuk ke dalam rahmat (Allah). Apabila duduk di sisinya, ia merasa puas/tenang di dalam rahmat itu. Apabila keluar darinya ia senantiasa berada di dalam rahmat itu hingga ia pulang ke rumahnya”. (HR. Ibnu Abdil Barr di kitab at-Tamhid 24/273)

  1. c.       Berbuah banyak pahala dari Allah

Dalam sebuah hadis qudsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِيْ. قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُوْدُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِيْ فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِيْ عِنْدَهُ

Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman pada hari kiamat: Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku. Ia berkata: Ya Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta? Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sakit tapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu, bila menjenguknya niscaya engkau akan mendapati-Ku ada di sisinya?” (HR. Muslim)

Ulama menjelaskan, hadis ini tidak menunjukkan bahwa Allah benar-benar sakit, namun menunjukkan akan kemuliaan dan keutamaan hamba yang menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Barang siapa yang menjenguk saudaranya yang sakit ia akan mendapatkan limpahan pahala dari sisi Allah azza wa jalla.

  1. d.      Mendapatkan doa kebaikan dari malaikat

Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَتَى أَخَاهُ الْمُسْلِمَ عَائِدًا مَشَى فِي خَرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ، فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

Barang siapa yang mendatangi saudaranya muslim (yang sakit) untuk menjenguknya, ia berjalan di atas kebun surga hingga ia duduk. Apabila ia duduk, rahmat (Allah) akan menyelimutinya. Bila waktu itu pagi hari, tujuh puluh ribu malaikat akan bersalawat kepadanya hingga sore hari, dan bila ia melakukannya di sore hari, tujuh puluh ribu malaikat tersebut akan bersalawat kepadanya hingga pagi hari”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Syaikh al-Albani berkata: Hadis sahih)

Malaikat bersalawat artinya mendoakan kebaikan bagi mereka.

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, para malaikat memohonkan ampun kepada Allah bagi siapa saja yang menjenguk orang yang sakit. (Diringkas dari kitab Kitab al-Adab karya Syaikh Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, hlm. 247-248, cetakan Darul Qasim)

  1. e.      Penyebab masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً

Siapa yang menjenguk orang sakit atau berkunjung kepada saudaranya karena Allah, akan ada penyeru yang berseru, “Alangkah baiknya dirimu, alangkah baiknya langkahmu, engkau telah menempati tempat tinggal di surga”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Lihat: Sahih at-Tirmidzi, no. 1633. Lihat kitab Mausu’ah al-Adab al-Islamiyyah karya Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, hlm. 623)

Demikianlah beberapa keutamaan yang akan didapatkan oleh seorang muslim yang menjenguk saudara, teman, sahabat, atau siapa saja.

Adapun Adab didalam menjenguk orang sakit yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut;

  1. a.       Niat yang baik

Maksudnya, tatkala menjenguk seseorang yang sedang sakit, anda mengharap pahala dari Allah semata dan melaksanakan hak saudara sesama muslim. Hendaklah anda menjauhi niat-niat yang tidak baik seperti ingin menyakitinya dengan ucapan dan perbuatan.

Bila niat anda lurus, insya Allah keutamaan yang telah kita sebutkan di atas akan didapatkan. Namun bila niat tidak demikian, alih-alih mendapatkan pahala, justru dosa yang malah akan ditimpakan oleh Allah ta’ala.

  1. b.      Bersegera mengunjunginya

Khususnya bila ia sudah lama sakit, hendaknya jangan sampai terlambat untuk menjenguknya. Sebab, hal itu bisa membuatnya sedih dan dapat berpengaruh tidak baik pada dirinya.

Maka itu, hendaklah bersegera menjenguk saudara yang sedang sakit, sebab itu dapat mengurangi rasa sakitnya, dapat menghiburnya, dan semoga dapat meringankan beban pikirannya serta menjadi salah satu sebab kesembuhannya.

  1. c.       Menjenguk dengan berjalan kaki

Di antara sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk orang sakit adalah dengan berjalan kaki. Pada suatu hari Jabir radhiyallahu ‘anhu pernah sakit dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan berjalan kaki. Jabir menuturkan:

جَاءَنِيْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُوْدُنِيْ لَيْسَ بِرَاكِبِ بَغْلٍ وَلاَ بِرْذَوْنٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menjengukku, beliau tidak mengendarai baghl dan tidak pula kuda”. (HR. al-Bukhari)

Baghl adalah hewan hasil persilangan antara kuda dengan keledai.

Dalam redaksi lain disebutkan, “Beliau dan Abu Bakar menjenguknya dengan berjalan kaki.” (Lihat Fathul Bari pada penjelasan hadis di atas)

Syaikh Abdul Aziz as-Sayyid berkata: “Tidak diragukan lagi, pahala berjalan kaki untuk menjenguk orang sakit lebih agung dari pada pahala mengendarai tunggangan.” Akan tetapi, bila tempat atau rumah yang dituju jaraknya jauh, tidak mengapa menuju ke sana dengan berkendara sepeda motor, mobil, atau yang lainnya.

  1. d.      Mencari waktu yang tepat

Berkenaan dengan masalah kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi orang sakit, tergantung pada kebiasaan tiap-tiap daerah. Waktu yang tepat adalah yang bukan merupakan waktu untuk istirahat, namun waktu yang sering digunakan orang-orang untuk mengunjungi orang sakit.

 

Adapun di antara waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi ialah, seperti terlalu pagi atau terlalu malam, atau siang hari di waktu orang-orang biasa tidur siang, dsb.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Di bulan Ramadhan, waktu menjenguk adalah pada malam hari.” Seseorang berkata kepadanya: “Fulan sakit,” dan pada waktu itu sedang musim panas dan di siang bolong. Beliau berkata: “Ini bukan waktu yang tepat untuk menjenguknya.”

  1. e.      Bertanya tentang keadaannya

Bisa menanyakan hal itu kepada keluarganya atau langsung kepada orang yang sedang sakit. Pertanyaan ini merupakan tanda perhatian seseorang kepada saudaranya.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menemui beliau lalu keluar. Orang-orang bertanya kepadanya, “Ya Abu Hasan, bagaimana kondisi Rasulullah pagi ini.” Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Segala puji bagi Allah, pagi ini beliau sudah sembuh.” (HR. al-Bukhari)

Pada suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang sahabat yang sedang sakit. Beliau bertanya:“Bagaimana kondisimu?” Ia menjawab: “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berharap (rahmat) Allah, namun aku takut akan dosa-dosaku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: “Tidaklah dua hal tersebut (rasa harap dan takut) terkumpul pada hati seorang hamba pada kondisi seperti ini, melainkan Allah akan beri apa yang ia harapkan dan Dia curahkan keamanan dari apa yang ia takuti”. (Hadis hasan riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dll. Lihat kitab al-Misykat, no. 1612)

  1. f.        Membawakan hadiah untuknya

Hadiah memiliki pengaruh yang luar biasa, di antaranya dapat menumbuhkan rasa kasih sayang antara sesama manusia. Maka itu, bila memungkinkan hendaknya orang yang menjenguk membawakan oleh-oleh untuk si sakit atau untuk keluarganya.

  1. g.       Menghiburnya dengan banyaknya pahala dari Allah

Hal ini dapat meringankan beban penderitaan orang yang sedang sakit dan dapat membuatnya sabar dan rida dengan takdir Allah kepada dirinya. Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang wanita yang sakit, beliau mengatakan:

أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْعَلاَءِ، فَإِنَّ مَرَضَ الْمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

Bergembiralah, wahai Ummul ‘Ala`, sebab sakitnya seorang muslim, dengannya Allah akan menghilangkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada emas dan perak. (Lihat ash-Shohihah, no. 714)

  1. h.      Mengajarinya doa ketika tertimpa musibah

Musibah itu bermacam-macam dan di antaranya adalah penyakit. Adapun doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang terkena musibah adalah sebagai berikut:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِي مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya semata kita akan kembali. Ya Allah, berilah pahala dari musibah ini, dan gantikanlah bagiku dengan yang lebih baik darinya. (HR. Muslim)

  1. i.        Mengingatkannya agar selalu sabar

Hendaklah orang yang sakit selalu diingatkan agar selalu sabar dalam menghadapi ujian dari Allah. Sabar dalam menghadapi ujian hukumnya adalah wajib. Sedangkan marah atau berkeluh kesah hukumnya haram. Ulama menyebutkan, orang yang tertimpa musibah itu terbagi menjadi empat tingkatan:

  • Pertama, marah dan berkeluh kesah.
  • Kedua, bersabar.
  • Ketiga, rida.
  • Keempat, bersyukur.

Bagi orang yang sakit, minimal ia bersabar, bila sampai derajat rida atau bersyukur, maka itu lebih baik lagi.

  1. j.        Mengingatkannya agar selalu berprasangka baik kepada Allah

Berprasangka baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala hukumnya wajib. Sebaliknya, berprasangka buruk kepada Allah hukumnya haram. Seorang hamba hendaknya senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta’ala dalam keadaan bagaimana, di mana dan kapan pun juga. Bahkan ketika kematian menjemputnya, hendaknya ia senantiasa berprasangka baik kepada Rabb-nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan:

لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Janganlah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah ‘azza wa jalla. (HR. Muslim)

  1. k.       Melarangnya dari berkeluh kesah dan mengharap kematian

Orang sakit yang berkeluh kesah, maka ia berdosa dan penyakit itu tidak akan menjadi pelebur dosa baginya. Apalagi bila sampai mengharap kematian, itu merupakan tanda-tanda bahwa dirinya berputus asa. Berputus asa dari rahmat Allah bukanlah sifat seorang mukmin, namun sifat orang kafir. Maka itu, di antara hal yang harus diperhatikan ketika menjenguk orang sakit adalah, menasihatinya atau melarangnya dari berkeluh kesah dan mengharap kematian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati paman beliau, al-Abbas, yang sedang sakit dan mengharap kematian. Beliau bersabda:

 

يَا عَمُّ! لاَ تَتَمَنَّ الْمَوْتَ، فَإِنَّكَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا، فَأَنْ تُؤَخَّرْ تَزْدَدْ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ، خَيْرٌ لَكَ، وَإِنْ كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَنْ تُؤَخَّرْ فَتَسْتَعْتِبْ مِنْ إِسَائَتِكَ، خَيْرٌ لَكَ، فَلاَ تَتَمَنَّ الْمَوْتَ

Wahai paman! Janganlah engkau mengharap kematian. Sebab bila selama ini engkau berbuat baik, kemudian (umurmu) ditangguhkan, maka itu adalah kebaikan yang ditambahkan kepada kebaikanmu dulu, dan itu baik bagimu. Bila selama ini engkau berbuat tidak baik, kemudian (umurmu) ditangguhkan, lalu engkau diberi kesempatan untuk bertaubat dari kesalahanmu, maka itu pun baik pula bagimu. Maka janganlah engkau mengharap kematian. (HR. Ahmad, al-Hakim, dll. al-Albani berkata: Hadis (sahih) ini sesuai persyaratan al-Bukhari)

  1. l.        Meletakkan tangan di atas si sakit

Hal ini pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk Sa’ad. Beliau meletakkan tangannya di atas dahi Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, kemudian mengusapkannya di atas kepala dan perutnya seraya mendoakannya: “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. m.    Mendoakan kebaikan dan kesembuhan untuknya

Bagi orang yang menjenguk, jangan lupa untuk mendoakan kebaikan dan kesembuhan bagi si sakit. Di antara doa yang bisa dibaca ialah:

Doa pertama:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِ، وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkau Maha Pemberi kesembuhan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada meninggalkan sedikit pun penyakit. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Doa kedua:

لاَ بَأْسَ، طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Tidak mengapa. (Penyakit ini) dapat menyucikan(mu) insyaAllah. (HR. al-Bukhari)

Doa ketiga:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Robb Pemilik ‘Arsy yang agung, untuk menyembuhkanmu. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll) dibaca sebanyak tujuh kali (7 X).

Doa keempat:

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيْكَ، بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ

Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata dengki, Allah semata yang Maha menyembuhkanmu, dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu. (HR. Muslim)

Dan doa-doa lainnya yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. n.      Tidak berlama-lama berada di sisinya

Terutama apabila berat baginya untuk terus berbicara atau ia butuh istirahat lebih. Maka itu, hendaknya kita menjenguknya beberapa saat saja. Apalagi terkadang setelah kita ada orang lain yang akan menjenguknya, tentu saja dapat membuatnya keletihan dan kurang istirahat.

Seorang ulama salaf Thowus rahimahullah berkata:

أَفْضَلُ الْعِيَادَةِ أَخَفُّهَا

Menjenguk yang paling utama adalah yang paling ringan (tidak berlama-lamaan).

  1. o.      Menjenguk untuk kedua kalinya jika diperlukan

Jika diperlukan, tidak mengapa menjenguknya untuk kedua kalinya, khususnya bila orang yang sedang sakit ada kedekatan dengan kita dan membutuhkan bantuan dari kita. Hal ini juga menunjukkan perhatian lebih kita kepada dirinya.

  1. 6.       Apabila meninggal maka antarkanlah jenazahnya

Hak sesama Muslim yang terakhir adalah Apabila ada saudara sesama muslim kita yang meninggal maka kita wajib mensholatinya, kemudian kita antarkan jenazahnya sampai ke kuburannya. Terdapat keutamaan yang bisa kita dapatkan dengan turut sertanya kita mengantarkan jenazah saudara seiman kita ke tempat pemakaman. Diantara hadits-hadits nabi saw yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan tersebut adalah sebagai berikut;

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dari Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَنَصْرِ الضَّعِيفِ وَعَوْنِ الْمَظْلُومِ وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzhalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari no. 1239 dan Muslim no. 2066)

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu anha dia berkata:

نُهِينَا عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

“Kami dilarang untuk turut mengiring jenazah, tetapi (larangan itu) tidak begitu ditekankan atas kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 1556)

Di antara perkara yang Nabi shallallahu alaihi wasallam jadikan sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya adalah mengantar jenazahnya. Karenanya beliau shallallahu alaihi wasallam memerintahkan dan mewajibkan amalan ini serta beliau menjanjikan pahala yang besar bagi yang mengantar jenazahnya, baik yang mengantarnya dari rumahnya sampai dia dishalati maupun yang mengantarnya hingga selesai dia dikuburkan.

Hanya saja hukum dan keutamaan di atas hanya berlaku untuk laki-laki, tidak untuk perempuan. Karena hukum mengantar jenazah bagi perempuan adalah makruh berdasarkan hadits Ummu Athiyah di atas. Wallahu A’lam. Mudah-mudahan kita sebagai seorang muslim bisa menjalankan haq seorang muslim terhadap muslim yang lain dengan baik. (WARDAN/Adara)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait