Hadiah Indah dari Ibu
Menu

Hadiah Indah dari Ibu

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

“Mumpung masih kerasa hari Kartini yang diperingati bulan April. Ini dihadirkan perjuangan dari seorang ibu yang memiliki semangat seperti Kartini. Selamat membaca! semoga menjadi inspirasi dalam menemukan kehidupan lalu menyongsong masa depan.”

Setiap hari Minggu, Ibu mengajak Bayu merawat taman di depan rumah mereka. Karena sejuk dan indah, jadilah taman itu tempat favorit Bayu untuk bermain. Bayu juga suka menceritakan taman itu kepada teman-temannya di sekolah.

Bayu duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Selain gemar menggambar, dia juga suka membaca. Apalagi kalau hal itu dilakukannya di sekitar taman. Seperti yang dilakukannya sore itu. Sambil menikmati udara di sekitar taman, Bayu membaca majalah anak-anak.

“Assalamu’alaikum”. Kata seorang kakek berpakaian lusuh sambil menyodorkan tangan kanannya dengan gemetar. Bayu kaget, lalu menjawab salam tamu tidak diundang itu.

“Tolong, Nak! Tolong, kasihani kakek!” kata kakek lagi.

“Sebentar, ya! Bayu panggil ibu”. Tanpa menunggu jawaban, Bayu langsung masuk ke dalam rumah. Dia menemui sang ibu yang sedang berada di dapur.

“Bu, di depan ada seorang kakek, pakaiannya kotor. Bayu tidak kenal” kata Bayu kepada ibunya.

“Siapa? Mari kita lihat!” ajak ibu. Setelah itu, keduanya ke ruang depan. Ibu melihat dari balik pintu. Lalu menoleh kepada Bayu.

“Bayu, kita pernah bertemu kakek itu di pasar. Ayo, kita ambil uang buat kakek”. Sesampainya di kamar, ibu mengambil 2 lembar uang 5 ribuan. satu lembar kelihatan masih bagus dan dipegang oleh ibu dengan tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya memegang uang yang sudah lusuh.

“Kalau seandainya ibu meminta Bayu untuk memilih, uang mana yang Bayu sukai?” tanya ibu sambil tersenyum.

“Yang bagusss” jawab Bayu spontan sambil menunjukkan tangannya ke arah tangan kanan ibu yang memegang uang 5 ribuan dalam keadaan masih bagus.

“Baik. Kalau dikasih yang ini, mau?” tanya ibu kemudian sambil menunjukkan uang 5 ribuan yang lusuh.

“Enggaaaaaaaaaaak”  timpal Bayu sembari menggelengkan kepala.

“Kalau kakek yang di luar sana, kira-kira mau yang mana?”  tanya ibu lagi.

“Yang bagus, dong…” Bayu menjawab tegas.

“Nah, sekarang, ambil uang yang bagus ini dan silakan berikan kepada kakek yang di luar itu ya! Biar kakek itu senang dan kita juga senang karena telah memberi  dengan yang baik kepada orang lain” perintah ibu.

“Baik, Bu” . Bayu menerima uang itu dan bergegas menuju ke depan rumah untuk memberikan uang tersebut kepada kakek.

—————————————–

Pagi itu, Bayu siap berangkat ke sekolah. Usai menikmati makan pagi dan minum susu. Bayu berpamitan kepada ibu. Bayu meraih tangan ibu lalu menciumnya.

“Bayu, nanti sore ibu akan memetik buah jambu. Bantu ibu, ya?” kata ibu.

“Iya” Bayu menganggukkan kepala sembari tersenyum.

Sore harinya, ibu dan Bayu sudah siap dengan sebilah bambu panjang guna mengambil buah jambu yang beberapa di antaranya terlihat mulai masak.  Bayu membawa sebuah plastik berukuran sedang. Tanpa menunggu waktu, ibu langsung memetik buah-buah jambu itu. Sementara Bayu terlihat asyik memunguti jambu-jambu yang telah berhasil lepas dari tangkainya dan berjatuhan di sekitar pohon.

Tiada terasa plastik yang dibawa Bayu sudah mulai penuh.  Matahari pun sudah tampak ingin menghilang di ufuk barat. Sore yang menyenangkan bagi ibu dan Bayu. Ibu sangat menyayangi Bayu. Begitupun sebaliknya, Bayu sangat bangga memiliki ibu. Bagi ibu, Bayu adalah permata dan anugerah terindahnya. Bagi Bayu, ibu adalah pelita yang tidak pernah berkurang rasa cinta dan kasih sayangnya.

“Bu, besok di sekolah Bayu akan bercerita ke teman-teman kalau Bayu panen buah jambu. Pasti seru!” kata Bayu kepada ibunya saat menjelang tidur.

“Iya. Ya, sudah, jangan lupa berdo’a sebelum tidur” balas ibu.

—————————-

Pulang dari sekolah, Bayu terlihat sangat ceria. Dengan bangga dia bercerita kepada ibunya. Usai bercerita, Bayu menuju lemari hendak mengambil jambu-jambu yang telah membuatnya disanjung oleh teman-temannya. Namun, setelah melihat jambu-jambu itu, Bayu kaget dan kecewa.

“Bu, kok, jambu Bayu tinggal segini. Ini juga tinggal yang jelek” ujarnya.

“Bayu, maafkan ibu! Karena takut busuk, jadi jambu-jambu itu ibu bagikan kepada tetangga” jawab ibu dengan sangat hati-hati.

“Kalau busuk, kan sayang jambunya. Selain kita berdosa karena jambu-jambu itu tidak bermanfaat, kita juga dibilang pelit oleh tetangga. Bayu mau berdosa dan dibilang pelit?” lanjut ibu.

“Enggak” sahut Bayu.

“Bayu setuju kan dengan ibu?” tanya ibu lagi.

“Iya” kata Bayu kemudian dengan memamerkan senyumnya.

“Begitu, dong. Itu baru Bayu yang ibu sayangi. Karena Bayu sudah setuju, ibu ada 2 hadiah buat Bayu. Yang pertama, silakan diminum jus jambu yang ibu buat ini! Spesial dari ibu buat Bayu”

Bayu langsung meraih segelas jus jambu itu lalu meminumnya beberapa teguk. Ia kembali menoleh kepada sang ibu.

“Lalu hadiah yang kedua apa?” tanya Bayu semangat.

“Ayo, kita lihat!” ajak ibu sembari berjalan menuju ke ruang belakang. Bayu mengikuti ibu.

“Ini sepeda baru buat Bayu” kata ibu kemudian.

“Ini buat Bayu, Bu?” Tanya Bayu tidak percaya. Kedua matanya kian berkaca-kaca.  Dia berlari bergegas menuju sepeda itu. Lalu berbalik kembali menuju sang ibu dan memeluknya.  “Terima kasih, Bu. Bayu sayang ibu”. (End_Red)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait