Gotong Royong Sebelum Hari Besar dan Keakraban yang Muncul dari Kerja Bersama

Satu hari sebelum acara besar di pesantren, pemandangan berubah total. Lorong asrama yang biasanya ramai dengan suara hafalan mendadak dipenuhi suara pel, kain lap, dan ember beradu. Santri kelas atas mengangkut kursi. Santri kelas bawah menyapu halaman. Ustadz ikut turun mengatur dekorasi. Tidak ada yang berdiri menonton. Semua bekerja.

Apa yang istimewa dari gotong royong di pesantren?

Gotong royong bukan hal baru di Indonesia. Tapi di pesantren, gotong royong punya intensitas yang berbeda. Ketika satu acara besar akan digelar — hari raya, wisuda, kunjungan tamu penting, atau peringatan hari besar Islam — seluruh pesantren bergerak sebagai satu tubuh. Tidak ada pembagian tugas berdasarkan siapa yang lebih senior atau lebih junior. Ketua OSIS bisa terlihat mengepel lantai. Santri baru bisa dipercaya menata bangku di aula.

Yang membuat momen ini istimewa bukan pekerjaannya. Yang istimewa adalah suasananya. Ada tawa yang muncul dari kesibukan bersama. Ada canda yang hanya lucu karena semua orang sama-sama capek. Ada rasa memiliki yang tumbuh dari mengetahui bahwa setiap sudut yang bersih adalah hasil kerja tangan sendiri.

Bagaimana gotong royong membentuk keakraban yang tidak bisa direncanakan?

Di ruang kelas, santri duduk berdasarkan jadwal. Di asrama, santri berkumpul berdasarkan kamar. Tapi saat gotong royong, semua batas itu menghilang. Anak kelas satu tiba-tiba bekerja berdampingan dengan anak kelas lima. Santri dari asrama timur mengangkut meja bersama santri dari asrama barat. Pertemuan yang di hari biasa mungkin tidak pernah terjadi, di hari gotong royong menjadi sangat alami.

Dari situlah perkenalan-perkenalan baru dimulai. Kakak kelas yang sebelumnya hanya dikenal dari jauh, tiba-tiba mengajak bicara sambil mengangkat kursi bersama. Adik kelas yang biasanya segan, tiba-tiba berani bertanya karena suasana santai yang muncul dari kerja bersama.

Keakraban yang terbentuk dari berkeringat bersama punya kualitas yang berbeda dari keakraban yang terbentuk di meja makan atau di lorong asrama. Ada rasa saling percaya yang muncul ketika kita tahu seseorang rela mengerjakan pekerjaan berat tanpa mengeluh.

Apa peran ustadz dan wali kamar dalam gotong royong?

Di pesantren, guru tidak hanya mengajar di kelas. Saat gotong royong, ustadz dan wali kamar ikut bekerja di antara santri. Mereka mengangkat barang yang sama beratnya. Mereka menyapu lantai yang sama kotornya. Mereka berkeringat di bawah matahari yang sama panasnya.

Ketika santri melihat gurunya ikut bekerja tanpa merasa lebih tinggi, sebuah pelajaran besar tersampaikan tanpa perlu satu kata pun diucapkan. Kepemimpinan bukan soal memerintah dari atas. Kepemimpinan adalah turun ke bawah dan bekerja bersama orang-orang yang dipimpin.

Banyak alumni yang bilang bahwa momen gotong royong adalah salah satu momen yang paling membentuk cara mereka memimpin di kemudian hari. Bukan dari pelajaran manajemen. Bukan dari seminar kepemimpinan. Tapi dari melihat ustadznya turun tangan mengepel lantai bersama santri kelas satu.

Apa yang terjadi setelah gotong royong selesai?

Ada satu momen yang selalu terjadi setelah semua pekerjaan selesai. Santri duduk bersama di lantai yang baru mereka pel, memandang ruangan yang tadi berantakan sekarang terlihat bersih dan rapi. Ada rasa puas yang datang bersamaan — puas yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang tahu persis berapa banyak keringat yang sudah dikeluarkan.

Biasanya ada yang membawakan air minum untuk semua orang. Ada yang membagikan makanan ringan. Obrolan mengalir dengan sendirinya — tentang acara esok hari, tentang siapa yang paling banyak mengangkat kursi, tentang lantai mana yang paling sulit dibersihkan. Obrolan ringan yang di kemudian hari menjadi kenangan.

Momen setelah gotong royong sering menjadi momen paling jujur di pesantren. Semua orang dalam kondisi yang sama — capek, berkeringat, tapi senang. Tidak ada yang berusaha terlihat lebih baik dari yang lain. Semua orang apa adanya.

Mengapa tradisi ini bertahan dari tahun ke tahun?

Karena hasilnya nyata. Pesantren yang bersih dan rapi bukan hasil kerja petugas kebersihan profesional. Pesantren yang indah bukan hasil kerja dekorator bayaran. Semuanya adalah hasil kerja santri sendiri — dan justru karena itu, setiap sudut pesantren terasa lebih bermakna.

Santri yang menanam bunga di taman pesantren akan menjaga bunga itu karena ia tahu berapa banyak keringat yang sudah ia keluarkan untuk menanamnya. Santri yang mengecat dinding asrama akan menjaga dinding itu karena ia ingat betapa lelahnya mengerjakan itu bersama teman-temannya.

Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, tradisi gotong royong bukan kegiatan formalitas yang dijadwalkan di kalender. Gotong royong adalah cara hidup yang sudah berjalan selama lebih dari tiga dekade — dan setiap generasi santri yang melewatinya membawa nilai kebersamaan itu ke mana pun mereka pergi setelah lulus.

Mungkin suatu hari nanti, ketika alumni pesantren memimpin tim di kantor atau mengelola organisasi, ia akan ingat satu hal dari masa mondoknya — bahwa pekerjaan yang paling berat sekalipun terasa ringan ketika dikerjakan bersama-sama.

Buat yang penasaran dengan suasana kehidupan santri dan nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Cerita setiap keluarga selalu disambut dengan terbuka.