

Ribuan santri putra dan putri memenuhi Lapangan Hijau Stadium Kampus 3 pada Jumat, 14 Agustus 2026, dalam Gladi Kotor kedua Pekan Olahraga Seni dan Pramuka (Porseka) ke-39. Latihan berskala penuh ini digelar untuk mengevaluasi kelancaran transisi acara sekaligus mematangkan kesiapan fisik dan mental seluruh peserta menjelang Apel Tahunan pada 22 Agustus mendatang. Di lapangan terbuka itu, ketepatan detik menjadi ukuran keberhasilan. Sebab sebuah mahakarya besar selalu lahir dari kesabaran mengulang hal-hal kecil.
Kegiatan dimulai pada pagi hari. Barisan santri putra lebih dahulu memasuki area stadion, disusul barisan santri putri yang memenuhi sisi lapangan hijau. Upacara resmi dibuka dengan laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara, dilanjutkan laporan tiap pemimpin barisan mengenai kesiapan pasukannya. Bendera Porseka kemudian dikibarkan oleh regu PASKIBRA, disusul sambutan pembina upacara, lalu ditutup oleh pembawa acara atau Master of Ceremony (MC).


Seusai rangkaian formal, panggung beralih kepada para penampil. Satu per satu kelompok menampilkan materi yang telah mereka latih berpekan-pekan, dengan urutan sebagai berikut:
- Senam dan tarian anak-anak dari RA/KB Darunnajah 2
- Senam santri MI Darunnajah 2
- Grand Opening pembukaan Apel Tahunan ke-39
- Pasukan Khusus Pramuka (Pasus)
- Gymnastic, menampilkan senam akrobatik
- Pasukan Inti (Paskin) yang dikenal berpeminat paling banyak
- Penampilan santri putri: Pasukan Khusus dan Drum Band
- Defile barisan putra, ditutup defile barisan putri

Peserta gladi mencakup seluruh santri dari kelas 1 hingga kelas 6 TMI, ditambah warga pesantren lainnya. Pesantren Darunnajah 2 Cipining bertindak sebagai penyelenggara utama dan mengamanahkan kepanitiaan kepada santri kelas akhir, yaitu kelas 6 TMI. Pola ini menempatkan santri senior sebagai pengambil keputusan lapangan, sekaligus menjadikan Porseka ruang belajar kepemimpinan yang nyata. Tema yang diusung tahun ini, “Sinergi Penyelarasan Formasi dan Pematangan Mental Menuju Puncak Mahakarya”, tercermin langsung dalam cara kerja mereka.
Tantangan terbesar terletak pada tingkat kerumitan menyinergikan pergerakan ribuan santri dari berbagai angkatan di bawah satu komando waktu dan ruang yang sangat presisi. Panitia santri bersama dewan guru harus memastikan transisi antar-penampilan berjalan mulus, tanpa penumpukan peserta maupun kekosongan durasi. Kendala teknis lain datang dari sinkronisasi sound system pengiring, persoalan yang kerap muncul di area luar ruangan. Setiap hambatan dicatat untuk diperbaiki, bukan untuk disesali.


Hasil yang dibidik dari gladi ini cukup rinci. Panitia menargetkan sinkronisasi waktu dan presisi transisi antar-penampilan tanpa cela, mulai dari defile barisan hingga seluruh mata acara, sehingga rangkaian berjalan sesuai durasi yang ditetapkan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan menghasilkan pemetaan evaluasi teknis yang menyeluruh, mencakup penyempurnaan tata ruang, kesiapan perlengkapan, serta ketangkasan panitia santri menghadapi dinamika tak terduga di lapangan.
Dari sisi psikologis, sasarannya adalah terbangunnya ketahanan fisik dan kematangan mental. Rasa gugup dikikis melalui pengulangan, sementara chemistry antar-penampil dirajut agar gerakan terasa menyatu. Harapannya, ketika Apel Tahunan tiba, para santri tampil dengan pemahaman utuh atas peran masing-masing, membawakan seni dan olahraga dengan kebanggaan, kekompakan, serta wibawa. Di titik inilah latihan berubah menjadi pendidikan karakter, karena disiplin yang dilatih di lapangan adalah disiplin yang sama untuk menjaga amanah dalam hidup.



Sebagai tindak lanjut, forum evaluasi komprehensif digelar pada malam harinya dengan melibatkan jajaran Wakil Pengasuh dan seluruh santri penampil. Sesi ini menjadi ruang konsolidasi untuk membedah tuntas temuan lapangan, mulai dari titik lemah transisi, ketepatan durasi, hingga celah miskomunikasi kepanitiaan. Kehadiran para Wakil Pengasuh memberi legitimasi perbaikan sekaligus penguatan moral bagi santri. Rumusan solusi teknis dari forum ini akan diterapkan sebelum tahap gladi bersih.
Perjalanan menuju 22 Agustus masih menyisakan ruang untuk berbenah. Ukhuwah yang direkatkan lewat latihan bersama menjadi modal yang sama berharganya dengan formasi yang rapi. Seluruh santri, dewan guru, wali santri, dan masyarakat sekitar diimbau mendukung persiapan ini, baik dengan menjaga ketertiban selama latihan, membantu kelancaran logistik, maupun hadir menyaksikan langsung Apel Tahunan ke-39. Mari kawal setiap prosesnya, karena mahakarya yang layak dikenang selalu dibangun bersama-sama.
