FUTURE LEADERS FOR BRIGHTER FUTURE (Part 2)

FUTURE LEADERS FOR BRIGHTER FUTURE (Part 2)

Banyak jalan yang dapat dilalui untuk mencapai kesuksesan selain harus memaksimalkan swa-SDM yang dimiliki. Salah satu teknik mendulang sukses yang dipaparkan dalam pelatihan LDK kali ini adalah dengan memanfaatkan orang lain. Hal ini disampaikan langsung oleh penulis buku best seller nasional ‘Pawang Manusia’, Abu Ali, Sabtu (20/2). Bahkan menurut beliau, orang yang kita manfaatkan tersebut justru berterima kasih karena menjadi jembatan kesuksesan kita.

Luar biasa, itulah  yang menjadi salah satu bekal terpenting yang didapat 200 peserta LDK. Dan pada kesempatan ini, para peserta mendapatkan motivasi meraih kesuksesan yang berlimpah dari ahlinya. Tidak hanya itu, dalam sesi sharing experience bersama alumni yang dahulu pernah menjabat di organisasi serupa, menjadikan peserta kaya akan pengalaman. Sesi ini dipandu oleh Muhammad Nugraha, S.H. (angkatan 10, 2003), Ikhwan Maulana (angkatan 9,2002) dan Roihatul Jannah, S.H (angkatan 11, 2004).

Salah satu hal terpenting yang diungkapkan oleh para alumni tersebut adalah bahwa mereka melihat kemunduran dari organisasi sekarang ini. Namun statement tersebut dibantah bahwa saat ini organisasi telah diadaptasi dengan kebutuhan dan atmosfir yang berkembang. Salah satu indikatornya adalah bentuk hukuman yang telah beralih bukan lagi bentuk fisik, namun menjadi education approach.

Padatnya kegiatan selama 3 hari terbayar dengan semangat yang selalu menggejolak di dada setiap peserta dan panitia. Para trainer pun tiada putus cara dan usaha menjadikan kegiatan kian waktu kian bermuatan motivasi yang teraliri antusiasme. Waktu berubah menjadi kekuatan dan harapan—menjadi the next leaders, the future leaders.

Berbagai game pun menjadikan warna kegiatan tidak terasa terbebani oleh materi, justru asyik dan menarik. Sesuatu yang berat pun jika disampaikan dengan bermain, akan mudah diterima dan bisa jadi lebih mengena. Maka, tantangan flying fox, out bond, hand and foot dan aneka game lain berubah menjadi materi favorit. Meski harus kotor-kotoran dan menantang teriknya sinar matahari, serunya bermain game berlangsung pasti.

Di akhir kegiatan, pada sebuah kata sambutan penutupan, Minggu (21/2) K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc mengingatkan bahwa menjadi pengurus bukan suatu kesempatan untuk meraih kekuasaan apalagi gila penghormatan. Namun, menjadi pengurus adalah kesempatan mahal untuk mentraining diri sebaik mungkin menjadi rool model pemimpin yang bertanggung jawab. Selain itu, pengurus adalah uswah hasanah sekaligus agen perubahan ke arah progresivitas.

Maka melaui training ini, beliau mengharapkan agar ilmu, wawasan, dan pengalaman selama ditraining dapat menjadi standar yang teraplikasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Dengan begitu, maka pengurus telah berhasil menjadikan dirinya sebagai seorang pengurus yang dibutuhkan, bukan pengurus yang mumpung ada kesempatan. Dan setelah adanya training, peluang untuk melakukan yang terbaik semakin terbuka lebar. Modal memimpin telah diberikan, tinggal mengembangkan sesuai dengan skill individu masing-masing. Pun secara kolektif, biro pengasuhan akan selalu mengontrol kinerja para pengurus secara berkala.

Menutup sambutan, Pak Kyai mengingatkan terkait dengan bertambahnya usia pesantren. “Bertambahnya usia pesantren, harusnya menjadi lebih baik, termasuk kepengurusan organisasinya” tutur Beliau.

Dalam kesempatan yang sama, ketua panitia, Ustadz Fahmi Dzikrillah, juga menegaskan eksistensi seorang pemimpin. Katanya, pemimpin ibarat nakhkoda, maka maju-mundurnya kapal (organisasi) menjadi tanggung jawabnya. Masa kepemimpinan selama 1 tahun juga bukan waktu yang lama, ia akan terasa sangat singkat jika diorganisir secara baik, tambahnya.

Kemudian ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan setinggi-tingginya teruntuk pimpinan pesantren yang memberikan kepercayaan mengemban tugas sebagai panitia. Sekaligus untaian kata permintaan maaf sebagai pereduksi kekurangan dalam pelaksanaan selama kegiatan berlangsung.

Kepada para peserta, Ustadz Fahmi mengatakan bahwa pesantren telah memberikan banyak hal kepada mereka, maka memberikan yang terbaik untuk pesantren adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap pengurus. Menjadi seorang pengurus yang bertanggung jawab terhadap amanah yang diurusnya, adalah salah satu bentuk kebaikan yang dapat disumbangsihkan untuk pesantren. “Majunya organisasi, juga majunya pesantren”

Sebagai pelengkap kegiatan, panitia mengumumkan penilaian terhadap individu peserta sehingga membuahkan peserta terbaik. Kali ini 2 peserta berpredikat terbaik di raih oleh Chairul Rahmat (kelas XI A) mewakili putra dan putri diraih oleh Gita Marsela (Kelas XI B). Masing-masing berhak mendapatkan sertifikat dan kenang-kenangan dari panitia.

Pendaftaran Santri Baru