Oleh : Febrina Dwiyanti (Kelas XI MA Darunnajah Pabuaran)
a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2011/02/team-wardati.jpg”>img class=”alignleft size-medium wp-image-729″ title=”team-wardati” src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2011/02/team-wardati-257×300.jpg” alt=”” width=”171″ height=”199″ />/a>Saat aku makan, aku lebih memilih diam dan memandang piring yang ada di depan ku, rasanya begitu sakit hatiku hingga aku tak ingin menyentuh sedikitpun nasi yang sadari tadi memandangku bingung.
“ko ga di manak, chik!” tegur mama, aku hanya menggelengkan kepala.
“klo ga mau makan, papa yang makan, ya…” kata papa seraya menghiburku.
“huss…papa, masih kurang, udah nambah dua kali, nasi anaknya mau di makan juga”
“bercanda mama” papapun mencibir, aku memandangi kedua orang tuaku.
“mama, papa, chika ga mau di asrama, chika ga pengen jauh dari mama sama papa” ucapku mencari-cari alasan, lalu mama mendekatiku dan mengelus rambut hitam lurus ku yang sepundak.
“sayang, maka ngerti, kita juga ga ingin jauh dari anak satu-satunya, tapi papa dan mama juga ga ingin kamu terlantar dirumah sendiri. Kamu tau klo papa sama mama kerja pagi pulang malam dang a ada yang ngurusin kamu dirumah, kita juga naro kamu di sana biar kamu bisa lebih tau banyak tentang agama di banding kita, bukannya kita em>ngebuang /em>kamu sayang, justru kita sayang sama kamu makannya, kita pengen kamu di asrama” jelas mama panjang lebar.
“tapi kenapa semua harus tiba-tiba sih ma…”
“kita udah ngerencanain jauh hari sebelum kamu ikut ujian nasional, tapi waktu yang tepat bagi papa sama mama saat ini,kamu haus mau ya…. Kamu ga pengen kan ngecewaain papa dan mama?
Ini adalah pilihan yang benar-benar ga ingin aku jalani, tapi…
“aku ikut mama dan papa aja!” pasrah bukanlah kategori aku yang sebenarnya, tapi dua mahluk ciptaan tuhan yang ini tersenyum bahagia di depanku, sangat tidak bisa aku melawan lebih dari sebelumnya…
“jadi aku menghabiskan masa SMA ku di asrama !” tanyaku meyakinkan, kedua orang tuaku mengangguk mengiyakan.
Huff…oh tuhan, semoga bukan jalan yang buruk untuk hambamu ini.
Hari dimana aku menginjakkan kaki pertamakali di pondok pesantren, ku pandangi di sekeliling semua berkerudung, sekolah dan segalanya dipisah oleh lawan jenis, aku melangkah lagi menuju kamar baruku, suatu gedung berlantai tiga, disini tempatku.
Perlahan aku menaiki anak tangga menuju lantai 2, lalu ku buka pintu kamar yang terletak dua kamar disebelah tangga, empat ranjang tempat tidur, empat lemari pakaian dan ada tempat untuk menaruh sepatu.
Ketiga ranjang sudah di isi, hanya satu ranjang yang bersebelahan dengan jendela yang pasti itu adalah ranjang untukku. Kini, harus ku mulai hari baruku di tempat ini, semua tidak seburuk yang aku fikirkan.
Setelah beberapa hari di asrama, beberapa teman telah kudapat dari berbagai penjuru, teman sekamarku dua orang seumuran denganku dan satunya adalah kakak kelasku, dia yang bertugas sebagai ketua kamar, k’ Naila namanya, dan dua orang teman sekamarku Athia dan Deby, mereka sekelas denganku sama-sama duduk di kelas 10 B.
Disini aku juga mengikuti beberapa ekstrakulikuler dan yang sangat ku minati adalah kesenian, di dalam ekskul ini aku juga makin banyak mendapatka teman baru, ternyata asrama tak seburuk yang aku bayangkan, juga ga membuatku ketinggalan zaman dan untungnya lagi, tempat ini dekat dengan semuatepat, terutama mal.
Sampai saat ini aku telah menginjakkan kamidi kelas 11, dan telah menentukan jurusan yang aku inginkan, tinggal selangkah lagi aku masuk perguruan tinggi dan meninggalkan tempat ini,bye…bye…asrama!!.
Braakk!!
Aku terhentak kaget saat mendengar pukulan meja di depanku, ku lirik orang yang telah membuyarkan lamunan panjangku.
“ustad ngagetin aja!!” keluhku sambil mengusap-usap dadaku.
“udah 5 menit yang lalu pelajaran mutola’ah di mulai, anti masih….aja ngelamun, saya lihat dari tadi”
“maaf ustad, tau tau, hehee…” lagi-lagi aku hanya dapat cengir kuda.
“kamu it chika…perhatikan ya! Nanti kamu ditanya, awas kalau ga ngerti”. Ucap guru separuh baya itu.
“trus itu tadi kamu bilang astajim, apa artinya, besok-besok kalau ngomong yang benar, bukan astajim, tapi astaqhfirullah!” tegurnya lagi, aku hanya manggut-manggut mengiyakan.
”ada anak baru loh, katanya dateng dari Jambi” ujar Athia saat aku dan teman-teman sekamarku duduk santai di kantin sekolah.
“siapa namanya?” tanyaku sambil menyedot jus melon kesukaanku.
“emm…syapa ya…Sasya katanya” kata deby mencoba menerka-nerka.
“besok dia masuk kelas kita loh, dan ternyata kamarnya sebelahan sama kamar kita”.
“trus tau ga sih, katanya dia anak bandel, makannya orang tuanya mindahin dia ke asrama”
“duh…prend…hari gini masih katanya-katanya, klo mau ngasih gosib ke ane, gosib yang real donk!” kataku, tapi ternyata kedua temanku ini diam seakan membisu sambil menunduk seakan mereka melihat monster, dengan heran aku bertanya.
“kok pada diem sich, kenapa?”
“sstt…ada bagian bahasa!’ bisik Deby, aku menahan tawaku, ya…ku akui, mayoritas santri enggan berbicara jika tidak menggunakan bahasa resmi klo disekitarnya disadari ada bagian dari organisasi santri yang bertugas menegur dan memberi hukuman bagi orang yang tidak menggunakan bahasa dimanapun orang itu berada, tapi karena berhubung kedua temanku diam, mau tak mau aku juga ikut terdiam sampai sang kakak bagian bahasa itu pergi.
“aduh…jadi pengen cepet-cepet berogranisasi dech…capek kaya gini terus” kata Athia setelah sang kakak bahasa itu pergi dari kantin.
“tenang, masih satu tahun lagi” ucapku enteng.
“huh…itu masih lama namanya!”
bersambung…