Kalimat pertama itu terasa aneh di lidah. Bukan karena susah dihafalkan, tapi karena mulut belum terbiasa mengucapkan huruf-huruf yang keluar dari tenggorokan, bukan dari bibir. Dialog pendek dalam bahasa Arab yang seharusnya hanya empat baris, tapi butuh waktu berminggu-minggu sebelum benar-benar terasa milik sendiri.
Seperti apa rasanya menghafal dialog dalam bahasa yang belum sepenuhnya dikuasai?
Di pesantren, drama bahasa Arab bukan sekadar pertunjukan. Ini bagian dari sistem pendidikan yang dirancang agar santri terbiasa menggunakan bahasa asing dalam situasi nyata. Drama membawa latihan itu satu langkah lebih jauh karena santri bukan hanya berbicara, tapi harus menjadi seseorang yang lain sambil tetap menjaga setiap makhraj huruf.
Proses latihannya dimulai jauh sebelum hari pentas. Naskah dibagikan ke setiap santri yang mendapat peran. Setiap kata harus diucapkan dengan benar. Huruf ‘ain tidak boleh terdengar seperti hamzah. Pembimbing mengoreksi satu per satu, kadang mengulang kalimat yang sama belasan kali.
Kenapa justru bahasa Arab yang dipilih untuk drama?
Bahasa Arab di pesantren bukan pelajaran yang hanya hidup di dalam kelas. Setiap pekan, seluruh santri diwajibkan berkomunikasi dalam bahasa Arab secara bergantian dengan bahasa Inggris. Jadi ketika ada pentas drama berbahasa Arab, dasar kemampuannya sudah ada. Yang belum ada adalah keberanian untuk membawa bahasa itu ke atas panggung.
Ada momen ketika seorang santri yang baru pertama kali ikut drama merasa ingin menyerah. Dialognya hanya tiga baris, tapi setiap kali latihan, lidahnya seperti tidak mau bekerja sama. Itu bukan soal kemampuan bahasa. Itu soal sesuatu yang lebih dalam.
Apa yang sebenarnya dilatih dalam drama bahasa Arab?
Yang sedang terjadi adalah proses membangun keberanian untuk tampil tidak sempurna di depan orang lain. Santri belajar bahwa grogi itu wajar, bahwa lupa dialog bukan akhir dari segalanya, dan bahwa suara yang gemetar masih lebih baik daripada diam membeku.
Kakak kelas yang sudah pernah lewat pengalaman yang sama biasanya membantu. Bukan dengan memberi teori, tapi dengan duduk di samping dan menemani latihan sampai malam.
Latihan pengucapan menjadi ritual tersendiri. Sekelompok santri duduk melingkar di teras asrama setelah Isya, mengulang dialog masing-masing. Sesekali ada yang tertawa karena salah ucap. Tawa itu penting. Tawa itu mengubah tekanan menjadi sesuatu yang lebih ringan.
Apa yang terjadi di hari pentas?
Panggung sudah disiapkan. Satu per satu masuk. Dialog yang sudah dilatih berminggu-minggu akhirnya keluar, kadang sempurna, kadang tidak. Ada yang suaranya terlalu pelan di kalimat pertama lalu perlahan menguat. Tapi semua bertahan sampai akhir.
Kenapa pengalaman ini bertahan lama di ingatan?
Sesuatu berubah setelah pentas selesai. Santri yang tadinya tidak berani angkat tangan di kelas mulai berbicara lebih sering. Bukan karena kemampuan bahasanya melonjak, tapi karena sudah pernah melewati momen yang lebih menegangkan.
Rasa percaya diri yang terbentuk dari drama bahasa Arab ini berbeda sifatnya. Ini percaya diri yang tumbuh dari dalam karena pernah berdiri di titik paling tidak nyaman dan tetap melangkah.
Darunnajah 2 Cipining memang merancang pendidikannya agar bahasa Arab dan bahasa Inggris menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Drama, pidato, debat, semuanya menjadi ruang latihan yang aman untuk gagal dan mencoba lagi.
Satu pentas kecil di pesantren mungkin terlihat biasa dari luar. Tapi bagi santri yang berdiri di panggung itu dengan bahasa yang bukan bahasa ibunya dan berhasil menyelesaikan perannya, itu adalah bukti pertama bahwa dirinya mampu lebih dari yang selama ini dibayangkan.
Bagi yang ingin tahu lebih banyak, hubungi WhatsApp 0812111180.