1000231220 0ad20cab158deb19ec2444fae8c5df28 19 10 2025 07.54.09 Scaled 1000231220 0ad20cab158deb19ec2444fae8c5df28 19 10 2025 07.54.09 Scaled

Disiplin di Lapangan, Karakter untuk Kehidupan

Kedisiplinan bukan sekadar kemampuan baris-berbaris atau ketepatan gerakan. Ia adalah fondasi karakter yang membentuk manusia tangguh menghadapi kehidupan. Di Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai,  nilai ini ditanamkan melalui ekstrakurikuler Pasukan Pengibar Bendera (Paskib) yang diikuti 16 santri. Setiap sore, lapangan menjadi arena pembentukan mental dan fisik generasi muda berkarakter.

Aktivitas Paskib ini berlangsung konsisten setiap sore. Dimas Rasyid, santri kelas 6 Tarbiyah Mu’allimin Islamiyah (TMI), menjadi pelatih yang memandu 16 anggotanya dengan penuh kesabaran. Ia mentransfer ilmu kepemimpinan dan kedisiplinan kepada adik-adik kelasnya melalui latihan rutin tersebut. Ustadzah Devi Lestari selaku pembimbing memastikan nilai-nilai Islamic character tetap menjadi ruh dalam setiap gerakan.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat Abu Dawud: “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ”“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, maka ia menyempurnakannya.” Hadist ini menjadi landasan filosofis mengapa disiplin dan kesempurnaan dalam latihan Paskib begitu ditekankan di pesantren ini.

“Paskib bukan hanya melatih fisik, tetapi membentuk jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab,” ungkap Ustadzah Devi Lestari. Menurutnya, kegiatan ini mengajarkan santri untuk konsisten, menghargai waktu, dan bekerja sama dalam tim. Dimas Rasyid menambahkan bahwa pengalaman melatih adik-adik kelasnya memberikan pembelajaran berharga tentang kesabaran dan kemampuan mentransfer ilmu kepada orang lain dengan baik dan bijaksana.

Latihan yang dilakukan setiap sore bukan tanpa tantangan. Cuaca panas, kelelahan fisik, dan tuntutan untuk terus konsisten menjadi ujian mental para santri. Namun, justru dari keterbatasan inilah karakter sejati terbentuk. Mereka belajar bahwa disiplin memerlukan pengorbanan, komitmen membutuhkan ketekunan, dan kesuksesan adalah hasil dari proses panjang yang tidak selalu menyenangkan tetapi penuh makna.

Program ini juga menghadirkan sistem peer teaching yang efektif dalam lingkungan pesantren. Santri senior mengajarkan santri junior, menciptakan budaya saling belajar dan menghormati. Metode ini tidak hanya mentransfer keterampilan teknis baris-berbaris, tetapi juga nilai-nilai kepemimpinan, empati, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, Paskib menjadi laboratorium kepemimpinan yang mempersiapkan santri untuk kehidupan bermasyarakat kelak.

Dampak jangka panjang dari kegiatan ini sangat signifikan bagi pembentukan karakter santri. Mereka yang terbiasa disiplin dalam latihan akan membawa kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam beribadah, belajar, maupun berorganisasi. Kepemimpinan yang dipelajari Dimas Rasyid akan menjadi bekal berharga ketika ia terjun ke masyarakat dan memimpin umat. Begitu pula dengan 16 anggota Paskib yang belajar tentang konsistensi dan kerja keras.

Lebih jauh lagi, pengalaman ini membentuk mental pemenang yang tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan. Santri belajar bahwa kesuksesan adalah hasil dari latihan berulang, evaluasi, dan perbaikan terus-menerus. Mereka memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran, bukan akhir dari perjalanan. Karakter inilah yang akan membuat mereka tangguh menghadapi dinamika kehidupan di masa depan yang penuh tantangan dan kompetisi global.

Kegiatan Paskib di Darunnajah 12 membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam berbagai aktivitas ekstrakurikuler. Pesantren tidak hanya fokus pada pembelajaran agama di kelas, tetapi juga pengembangan karakter melalui kegiatan praktis. Ini sejalan dengan visi pendidikan Islam holistik yang memadukan kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial dalam satu sistem yang komprehensif dan aplikatif.