Sebut saja Dery, Pemilik nama lengkap Dery Sapta Suanda. Santri asal Jakarta ini telah membuktikan kepada almamaternya, terlebih lagi kepada kedua orang tuanya bahwa salah satu prestasi yang kini dapat dibanggakannya adalah piagam dan medali emas dari Bupati Cup 2010. Hal ini sangat membahagiakannya karena sekaranglah perolehan yang telah lama ingin dicapainya terwujud, setelah sebelumnya prestasi terbaiknya hanya peraihan perunggu (Popkab Bogor, 2008).
Dery merupakan salah satu dari 4 atlet Darunnajah Cipining yang telah diutus guna mengikuti kegiatan Bupati Bogor Cup tahun 2010 yang diikuti oleh 149 peserta dari 24 perguruan yang bertempat di Pemda kabupaten. Selain mereka, 2 pelatih Darunnajah Cipining, Ustadz Hamdani dan Anwar Maulana, juga turut ikut mendampingi dan menjadi korp dewan wasit. Kegiatan yang merupakan debut perdana Bapak Bupati Bogor dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati, Bapak Karyawan Fathurrahman.
Dari 4 hari (27-30/9) bertanding, Dery memiliki kesan terhadap masing-masing keempat lawannya yang berada di kelas D. Saat berbincang dengan Warta Darunnajah (Wardan), Deri menuturkan kesan tersebut penuh antusias. Lawan pertamanya ialah pesilat dari perguruan Pajajaran Cimande. Menurutnya, justru dari lawan inilah, Dery banyak mencuri jurus dan teknik baru dalam fighting, seperti bantingan. Sehingga dengan sangat mudah, Dery menyudahi babak awal tersebut dengan kemenangan.
Pertandingan kedua melawan perguruan KPS. Namun kali ini, Dery merasa terasa ringan dalam menaklukkan lawan. Hal ini disebabkan sang pesilat bermain terlalu bernafsu sehingga dia kehilangan teknik dan permainannya. Maka kesempatan ini digunakan Dery dengan bermain lebih baik. Selanjutnya, Dery bertemu dengan pesilat perguruan Pakubumi. Pertemuan ketiga ini adalah babak semifinal. Menyadari akan telah jauhnya jalan perjuangan yang dilalui, Dery bertekad bermain maksimal.
Tidak mudah memang memenangkan semifinal ini, apalagi lawan yang dihadapi adalah atlit Porkab (pekan olah raga remaja kab. Bogor). Setelah mempelajari kelemahan lawan yang lebih suka menunggu daripada menyerang, Dery gunakan peluang ini untuk mengumpulkan point sebanyak-banyaknya. Akibatnya, meskipun postur badannya gede, lawan banyak kecolongan point.
Pada pertandingan final, lawan tentunya lebih berat. Menurut pengakuan Dery, babak ini dia sudah sangat pesimis. Tapi, entah darimana asalnya, tiba-tiba dia teringat kepada teman-teman seperjuangannya di pesantren Darunnajah Cipining yang tengah menunggunya kembali dengan kemenangan. Dengan modal itulah beberapa serangan yang diluncurkannya selalu tepat sasaran dan ditambah dengan 2 kali bantingan, dapat membuat pesilat asal perguruan SGHM (seni gerak hawa murni) parung kota tersebut bertekuk lutut.
Selain bercerita tentang perolehan medali emasnya, Dery juga membeberkan latar belakang keluarga yang memang selalu mendukungnya. Sembari menerawang, Dery mengatakan kalau keluarganya menginginkan agar Dery mengukir prestasi dari apa yang Dery bisa. Dery merasa, silatlah yang menjadi kebisaannya. “Bapak bilang, tingkatin terus prestasi di pondok. Trus mama juga ngingetin kalo tanding harus hati-hati”.
Kesukaan anak ke-2 dan adik dari Tutut Eka Sari (alumnus, 2008) terhadap silat, sudah dimulainya sejak kelas 2 SD. Saat itu pula, dia hendak menekuni silat dengan masuk ke dalam sebuah perguruan, namun sayangnya mamahnya belum mengizinkan. Ketika masuk ke pesantren Darunnajah Cipining dan mendapati adanya kegiatan silat, maka kesempatan ini dimanfaatkannya untuk melanjutkan dan mendalami hobbinya yang sempat tertunda sebelumnya.
Kemudian saat ditanya soal masa depannya, Penggemar Jacky Chan dan Jet Lee tersebut pengen menjadi atlit PPLP ( Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) di Bandung. Ia ingin bergabung dengan atlit nasional bahkan internasional dan mengikuti jejak mereka.
Tidak lupa, di akhir perbincangan, Dery menitipkan pesan untuk santri yang hendak menekuni silat agar memperdalam lagi kemampuannya itu dan berlatih sebaik mungkin sehingga nantinya dapat menunjukkan prestasi kepada keluarga. Dery pun memohon do’a agar prestasi silatnya dapat berkembang lebih baik di kemudian hari (Wardan/Billah)
