Pena ini mulai kutorehkan saat informasi Wisuda Santri Terapis akan segera diselenggarakan, 28 September 2011. Betapa bahagianya aku, rasa haru bercampur tidak percaya bahwa tidak lama lagi secara legalitas, aku akan menyandang gelar Terapis. Memang sulit dipercaya, aku yang dulu biasa disebut “Sisa Penyakit” oleh paman dan bibiku, akan menjadi orang yang sehat, bahkan menjadi pahlawan di dunia kesehatan. Aku yang dulu sakit-sakitan, kini menjadi lebih sehat berkat kesempatan berharga yang Allah SWT. berikan kepadaku untuk belajar di Pesantren Teraphis Thibbun Nabawi Dompet Dhuafa Jawa Barat (DD Jabar).

Deni Rusman namaku, lahir 18 juni 1985. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Aku dilahirkan dalam keadaan sehat dengan postur yang cukup gemuk. Namun sejak usia 6 tahun, aku terserang penyakit TBC yang mengganggu pernafasan hingga badanku menyusut kurus. Ekonomi orang tua yang serba kekurangan menyebabkan penyakit ini bertahan di badan hingga belasan tahun. Alhamdulillah, kesembuhan datang ketika usiaku menginjak 15 tahun.

Bebas dari TBC, cobaan lain datang. Ada flek pada paru-paruku. Hidup di lingkungan perokok memaksa aku menjadi perokok pasif. Saat aku kelas dua Madrasah Aliyah, aku mengalami batuk darah selama satu bulan. Menurut dokter, kondisi paru-paruku sudah rusak, melebihi paru-paru perokok pada umumnya. Aku menangis, aku pasrah pada Allah, dan aku percaya bahwa suatu saat aku akan sehat kembali, karena Dialah yang Maha Penyembuh. Kunaikkan tensi kesabaranku untuk bertahan, melawan penyakitku.

Enam tahun setelah aku menyelesaikan studiku di Madrasah Aliyah Darunnajah Cipining Bogor, aku mendapat tugas untuk mengabdi di sebuah Pesantren di Riau, Sumatra. Lima tahun lamanya aku merantau, mengukir dedikasi terbaik. Dan ternyata Allah masih sayang sama aku. Awal 2009, aku terkena gejala typhus. Aku berusaha rahasiakan penyakit ini dari orangtuaku karena tidak ingin mereka gundah.

Satu bulan istirahat, tak ada perkembangan pada kesehatanku, namun justru semakin terpuruk. Lututku mulai bergetar ketika berjalan, lenganku lemas, pipi kananku penyok seperti struk. Dan kemudian, aku menjadi orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku lumpuh total.

Kondisi yang menyedihkan ini terpaksa aku kabarkan pada orangtua. Aku ingin pulang, namun tidak mampu melakukan perjalanan. Bahkan untuk buang air kecil saja aku harus mencari kantong plastik. Allah Maha Besar, aku diantarkan pulang oleh sahabatku Ust. Sakinul Muttaqin (Ketua IKADI Kabupaten Rokan Hulu).

Betapa terharunya saat pertemuan antara aku dengan orangtua di Bandara Soekarno Hatta. Aku juga tidak akan menggambarkan bagaimana aku bisa lepas dari kelumpuhan ini. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa mensyukuri nikmat kesehatan amatlah penting. Bahasa komunikasi antara kita dengan tubuh ini juga mestinya dihidupkan. Ketika ada badan yang terasa tidak enak, maka itulah cara badan berbicara pada kita. Badan ini memiliki hak yang harus ditunaikan, dengan istirahat dan asupan gizi yang cukup.

Saat aku bertugas di Pesantren Darunnajah Cipining Bogor, aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti seleksi Pesantren Teraphis Thibbun Nabawi DD Jabar. Saat itu, aku sudah menikah dan memiliki anak pertama yang baru berusia 2 bulan.  Mendengar bahwa untuk mengikuti pendidikan aku akan dikarantina selama 40 hari, istriku merasa keberatan. Jujur saja, sebenarnya aku juga merasa berat. Apalagi ada bayi perempuanku yang baru 2 bulan.

Namun Pimpinan Pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal Lc, orangtua dan mertua mengharapkan aku untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bismillah, aku ikhlas dengan mengharap ridha Allah, aku datang untuk memasuki dunia Thibbun Nabawi. Luar Biasa! (WARDAN/Abu Adara)