Darunnajah Membawa Pengalaman 84 Tahun ke Ruang Kelas Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung ITB Darunnajah Membawa Pengalaman 84 Tahun ke Ruang Kelas Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung ITB

Darunnajah Membawa Pengalaman 84 Tahun ke Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung

Selama 84 tahun, Darunnajah tidak hanya belajar di dalam ruang kelas. Dari mengelola lembaga pendidikan, mengembangkan jaringan pesantren, hingga membangun kemandirian melalui berbagai unit usaha, pengalaman pendidikan di Darunnajah tumbuh dari proses panjang yang terus berjalan.

Pada Rabu (7/10/2026), pengalaman tersebut hadir di ruang akademik yang berbeda. Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menjadi ruang perjumpaan bagi Darunnajah untuk berbagi pengalaman, membuka perspektif, sekaligus mempertemukan praktik pengelolaan pesantren dengan wawasan manajemen dan bisnis.

Rombongan dipimpin Ketua Yayasan Darunnajah Busthomi Ibrohim, Ph.D., bersama Rektor Universitas Darunnajah (UDN) Assoc. Prof. Dr. Much Hasan Darojat dan jajaran. Di Ruang Meeting Gedung SBM ITB, mereka disambut langsung oleh Dekan SBM ITB Prof. Dr. Aurik Gustomo, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. rer. pol. Eko Agus Prasetio, serta tim Divisi Kemitraan.

Kalimat Prof. Aurik menjadi catatan tersendiri bagi rombongan. “Darunnajah adalah pesantren pertama di Indonesia yang datang ke ITB,” ujarnya.

Kunjungan ini berangkat dari kesadaran yang disampaikan terus terang oleh Ketua Yayasan. “Darunnajah ini kaya akan pengalaman, tapi masih sangat kurang di teori,” kata Busthomi.

Darunnajah Membawa Pengalaman 84 Tahun ke Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung

Darunnajah datang dengan tiga cerita. Rektor UDN memperkenalkan universitas. Ketua Yayasan menceritakan perjalanan pesantren. Wakil Direktur Unit Usaha Faaza Muhammad Athaya, yang juga sedang menempuh studi MBA di SBM ITB, memaparkan sisi yang jarang terlihat dari luar: lebih dari 200 unit usaha dari berbagai sektor yang selama ini menopang kemandirian pondok.
Pertemuan itu menghasilh membuka pesantren,unit usaha, dan datanya sebagai lapangan riset SBM ITB. SBM ITB diharapkan mendampingi kurikulum UDN. Keduanya juga menjajaki jurnal bersama, agar hasil risa lebih luas.

Selepas rapat, rombongan menyempatkan diri berkeliling kampus: Gedung SBM, Gedung MBA, hinggani akan berlanjut kepembahasan teknis dalam waktu dekat. (FS)