Pimpinan Gontor Hadiri Peresmian Pembukaan Darunnajah Cipining
Pagi itu Senin, 18 Juli 1988, bertepatan dengan 4 Dzulhijjah 1408. Di sepetak lahan bekas kebun rambutan di Kampung Cipining terlihat keramaian yang cukup mencolok. Areal itu terletak di Desa Argapura Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Beberapa unit bus dan kendaraan kecil tampak terparkir. Ratusan anak-anak dan orang dewasa hilir mudik.
Itulah awal dimulainya kegiatan pendidikan di Pesantren Darunnajah Cipining.
Kira-kira pukul 10.00 WIB sebuah acara pertemuan dilangsungkan di suatu ruangan sederhana. Ialah ruang yang kini dikenal dengan kamar 13 dan 14 (Unit 4). Pertemuan itu adalah peresmian pembukaan pesantren kita tercinta. Tampak hadir salah seorang pendiri Darunnajah, K.H. Abdul Manaf Mukhayar. Beliau saat itu juga merangkap Ketua Yayasan Darunnajah. Di samping beliau duduk K.H. Jamhari Abdul Jalal. Beliau adalah orang yang diberi mandat memimpin pesantren baru pengembangan Darunnajah Ulujami Jakarta Selatan ini.
Hal yang termasuk menjadikan moment ini istimewa adalah kehadiran dua orang pimpinan dan pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, yaitu K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A dan K.H. Shoiman Lukmanul Hakim. Beliau berdua ikut menyaksikan peristiwa bersejarah ini, memberikan sambutan, dan memimpin doa.
Pada tahun pertama, 1988-1989, Pesantren Darunnajah Cipining mendidik sebanyak 200 (dua ratus) santri. Seluruhnya laki-laki, berasrama. Mereka semua duduk di kelas I (Satu) Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) atau Kelas I Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dari jumlah tersebut, 196 santri adalah mereka yang pada awalnya mendaftar di Pesantren Darunnajah Ulujami. Karena tidak tertampung, mereka (melalui orang tua/walinya) ditawari dan diarahkan untuk belajar di pesantren yang baru dibuka ini, dan Alhamdulillah mau. Memang, Darunnajah Cipining didirikan untuk menampung peminat di Ulujami yang sejak tahun 1985 melebihi kapasitas daya tampung. Hanya 4 anak yang berasal dari sekitar (Kampung Cipining).
Guru yang mengajar dan mendidik tercatat delapan belas orang laki-laki, termasuk di dalamnya Pak Kiai. Dua orang guru di antaranya sudah senior, yaitu: Drs. Mad Rodja Sukarta (merangkap Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien Parung Bogor), dan Ustadz Ahmad Hafizh Makmur (alumnus KMI Gontor, lebih dahulu beberapa tahun dibanding Kiai Jamhari). Adapun 15 orang guru lainnya adalah anak-anak muda: 10 orang lulusan KMI Gontor tahun 1988; 3 orang lulusan TMI Darunnajah Jakarta tahun 1988; 1 orang alumnus KMI Pesantren Pabelan tahun 1985; dan seorang lagi lulusan Madrasah Aliyah asal Bojonegoro Jawa Timur. Sebelum akhir tahun pelajaran 2 orang guru telah meminta izin untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah(keduanya alumnus KMI Gontor).
Dari 18 orang guru tersebut, kini tinggal 2 orang yang masih tetap berkhidmah di Cipining: Pak Kiai, dan si alumnus KMI Pabelan.
Kampus pesantren kala itu baru menempati lahan seluas +/- 3,5 ha yang sekarang dikenal dengan kampus 1 (Tanah di kampus 2 juga sudah dimiliki, namun belum dibangun gedung. Yang ada barulah rumah sederhana di tepi danau yang dijadikan tempat peristirahatan K.H. Abdul Manaf Mukhayar bila beliau ke Cipining; dan rumah panggung di dekat pintu gerbang [sekarang rumah dinas guru]).
Sarana gedung sekolah dan asrama serta ruang fungsional lainnya yang telah ada barulah deretan dari kamar 1 sampai dengan kamar 16. Kamar 1 s.d kamar 8 difungsikan sebagai asrama santri. Kamar 9 sampai dengan kamar 14 adalah ruang kelas, dengan sisipan kamar 11 sebagai kantor sekolah/guru.
Sedangkan masjid menempati kamar 15 dan kamar 16, karena masjid yang definitif belum dibangun. Begitupun aula, saat itu belum berdiri. Ruang tamu dan tata usaha keuangan menempati ruangan yang terletak di bawah kamar 8. Itupun harus dibagi dua. Bagian belakangnya digunakan sebagai kamar bagi Ustadz Hafizh dan Ustadz Rodja. Beliau berdua menginap beberapa hari di Darunnajah Cipining. Bangunan ini terdiri atas dua ruang. Ruang di sebelahnya ditempati sebagai rumah Kiai (sekarang Laboratorium Bahasa, di atas kamar 9). Adapun dapur dan kantin menempati ruangan yang sekarang menjadi asrama Program Tahfizh Al-Qur’an. Dulunya gedung tersebut hanyalah bangunan sederhana dari bambu dan papan.
Di bagian bawah yang sekarang menjadi komplek asrama putri ada sebuah rumah panggung berbilik bambu sebagai tempat peristirahatan Ketua Yayasan. Di lokasi bekas rumah itu kini telah berdiri rumah dinas guru, letaknya di sebelah utara masjid putri.
MCK para santri dan guru adalah yang terletak di belakang kamar 9. Itupun baru 1 unit yang sebelah selatan. Terkadang para santri dan guru mandi di sumur belakang (bawah) guest house, kini sudah tidak ada. Mereka juga sering memanfaatkan mata air yang terdapat di sebelah kiri (atas) kolam renang/danau di kampus 2.
Kira-kira 6 bulan pertama warga pesantren belum menikmati terangnya listrik PLN. Untuk penerangan mereka menyalakan lampu petromaks menjelang maghrib, dan mematikannya pada pukul 22.00WIB. Pagi hari menjelang subuh lampu-lampu itu dinyalakan kembali sampai menjelang terbit matahari.
Hal yang menggembirakan adalah di tengah kesederhanaan dan kebersahajaan itu para santri dan guru selalu terlihat semangat, bersungguh-sungguh, dan optimistis. Begitu pula dengan sang Kiai yang relatif masih muda. Alhamdulillah. [Dituturkan dan direkonstruksikan oleh Abu Mujahid].