Dari Bangku Pesantren ke Podium Doktor: Alumni Angkatan VII Raih Gelar Tertinggi Dari Bangku Pesantren ke Podium Doktor: Alumni Angkatan VII Raih Gelar Tertinggi

Dari Bangku Pesantren ke Podium Doktor: Alumni Angkatan VII Raih Gelar Tertinggi

Dr. Amin Songgirin, S.H.I., M.Ag., alumni Darunnajah 2 Cipining angkatan VII tahun 2000, resmi menyelesaikan Sidang Terbuka Promosi Doktor pada Rabu, 21 Oktober 2026. Sidang berlangsung lancar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Program Doktor Konsentrasi Hukum Islam. Capaian ini menjadi pengingat bahwa perjalanan ilmu sering dimulai dari ruang-ruang sederhana, lalu tumbuh melalui kesabaran selama bertahun-tahun.

Dalam sidang tersebut, Amin mempertahankan disertasi berjudul “Disharmoni Pengaturan dan Pengawasan Perwalian: Analisis Teologis terhadap Penetapan Perlindungan Harta Anak di Bawah Umur di Pengadilan Agama”. Judul ini menunjukkan perhatiannya pada isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu bagaimana hukum menjaga hak anak yang kehilangan orang tua atau berada di bawah perwalian. Penelitian semacam ini berangkat dari pertanyaan sederhana: sudahkah harta milik anak terlindungi dengan baik?

Isu perwalian kerap luput dari perhatian publik, padahal menyangkut masa depan anak yang belum mampu mengurus kepentingannya sendiri. Melalui kajian hukum Islam, disertasi ini menelaah keselarasan aturan dan pengawasan terhadap penetapan perlindungan harta anak di Pengadilan Agama. Pendekatan teologis yang digunakan memberi dasar nilai pada kajian hukum tersebut. Dengan begitu, hukum tidak hanya dibaca sebagai pasal, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga.

Bagi Pesantren, keberhasilan ini menjadi kabar yang membahagiakan. Amin adalah salah satu putra terbaik yang pernah menimba ilmu di Cipining. Dua puluh enam tahun setelah masa itu, ia kembali dikenal lewat capaian akademik tertinggi di bidang yang ia tekuni. Pihak Pesantren menyampaikan rasa bangga, ucapan selamat, serta rasa syukur atas pencapaian tersebut.

Kisah ini mengandung makna yang layak direnungkan para santri. Gelar doktor tidak lahir dalam semalam, melainkan hasil dari ketekunan, disiplin, dan doa yang dijaga dari waktu ke waktu. Nilai-nilai itulah yang ditanamkan sejak di pesantren, dan terbukti menjadi bekal ketika seseorang menapaki jenjang pendidikan yang makin menantang. Dalam tradisi Islam, menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup, bukan garis akhir yang berhenti pada satu ijazah.

Semoga capaian Dr. Amin Songgirin menjadi inspirasi bagi para santri dan alumni lainnya. Santri yang sedang belajar di Pesantren diajak menjadikan kisah ini sebagai penyemangat untuk terus bersungguh-sungguh. Para alumni pun diharapkan terus berkarya dan memberi manfaat di bidang masing-masing, serta menjaga silaturahmi dengan almamater.