Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) resmi digelar pada 28 hingga 31 Oktober di Aula Kampus 1. Seluruh santriwati tahfidzul Qur’an mengikuti lomba ini sebagai ruang untuk menguji hafalan sekaligus menumbuhkan semangat menjaga Kitab Suci. Kegiatan berjalan baik dan lancar sampai hari terakhir, lalu ditutup dengan pengumuman para juara.
Selama empat hari, aula itu dipenuhi lantunan ayat yang dibaca bergantian. Setiap peserta maju membawa hasil belajar berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Di balik setiap hafalan ada kebiasaan yang dijaga setiap hari, mulai dari mengulang ayat sebelum tidur sampai menyetor hafalan pada waktu-waktu sibuk.
MHQ diselenggarakan oleh Pesantren Darunnajah 2 Cipining dengan tujuan utama menumbuhkan dan memacu semangat santri dalam menghafal, mempelajari, dan menjaga kemurnian Al-Qur’an. Lomba ini dirancang agar hafalan tidak berhenti pada kemampuan melafalkan. Santri diharapkan juga memahami makna ayat, menghayatinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan lain dari kegiatan ini adalah mempererat ukhuwah islamiyah dan silaturahmi antar-santri. Dalam sebuah perlombaan, peserta memang saling berhadapan. Namun mereka juga saling menyemangati, sebab semua berjalan di jalan yang sama, yaitu bersungguh-sungguh dengan Al-Qur’an. Suasana inilah yang membuat kompetisi terasa hangat dan tidak tegang.

Berikut daftar pemenang MHQ.
Juz 30
Juara 1: Khanza Jasmin
Juara 2: Nabila Azzahra
5 Juz Depan
Juara 1: Azzalea Aida
Juara 2: Desya Arumi
Juara 3: Rayyah Jundia
5 Juz Belakang
Juara 1: Desi Dwi
Juara 2: Khansa Kalila
Juara 3: Intan Kamsiatu
10 Juz
Juara 1: Alifia Nur
Juara 2: Amira Zakiyyah
Juara 3: Nur Khoirunnisa Kamila
Para juara memang menjadi sorotan, tetapi makna MHQ terletak pada perjalanan yang dilalui semua peserta. Menghafal Al-Qur’an menuntut kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan yang tidak bisa dicapai dalam semalam. Setiap santriwati yang naik ke panggung telah memenangkan sesuatu, yakni konsistensi untuk terus dekat dengan kalamullah.

Pada akhirnya, MHQ menjadi bagian dari ikhtiar mencetak generasi Qurani yang berkualitas, berakhlak mulia, dan siap menjadi teladan di tengah masyarakat. Hafalan yang baik akan bernilai penuh bila tercermin dalam sikap sehari-hari. Karena itu, kompetisi ini diharapkan menjadi pijakan bagi para santriwati untuk terus menjaga, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Bagi para orang tua dan masyarakat, dukungan doa dan motivasi adalah bekal berharga bagi anak-anak yang sedang menempuh jalan ini. Mari terus menumbuhkan budaya cinta Al-Qur’an dari rumah, agar semangat yang tumbuh di pesantren terus terjaga hingga mereka kembali ke tengah masyarakat.
