Sabtu (18/12), usai melaksanakan sholat Isya, aula pesantren Darunnajah Cipining dipenuhi santri yang ingin menyaksikan pemutaran film. Layaknya sinema 21, panitia memasang layar putih tepat di tengah-tengah ruangan. “Antusias santri begitu besar, sehingga kita bingung untuk penempatan mereka” ungkap Lulu Rahmatul Ashriyah, staf bagian pengajaran yang menjadi panitia saat itu.

Suasana hening saat film yang berjudul ‘Darah Garuda’ mulai diputar. Film perjuangan yang diputar di seluruh bioskop pada medio September 2010 ini, membius dan membawa santri kembali seakan berada pada masa penjajahan Kolonial Belanda. Para pejuang serta pahlawan revolusi tak mudah patah semangat dan pantang menyerah dalam melawan kebiadaban penjajah Belanda yang ingin menguasai tanah air Indonesia.
Ekspresi kesal dan sengit terlontar dari para santri untuk Menir Belanda bernama Mr. Van Han Work yang berlaku keji kepada para pribumi. Sebagaimana yang dilakukannya kepada salah satu pejuang bernama Dayat saat tertangkap lalu dipotong lidahnya karena enggan memberitahu informasi para pejuang. Tepuk tangan yang meriah pun seketika menggema dan memecahkan keheningan aula sebagai ekspresi santri saat pahlawan revolusi yang dikomandoi oleh Kapten Amir mampu meluluhlantakkan markas Belanda.
Senang, bangga dan kagum juga tampak di wajah santri saat para pejuang berhasil menghancurkan pembangunan lapangan terbang milik Belanda yang menjadi target utama. Bersama hancurnya lapangan terbang tersebut, terbunuh pula Mr. Van Han Work. Juga berarti berakhir pula tontonan malam itu.
“Filmnya bagus. Kita bisa tahu bagaimana susahnya para pejuang dulu lolos dari penjajahan Belanda. Sehingga kita seharusnya dapat mempergunakan dengan baik kemerdekaan yang telah dipersembahkan oleh kakek-nenek kita dahulu” timpal Juniarti kelas VI TMI.
Untuk bagian pengajaran, para santri mengharapkan agar kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkala. “Saya sangat terhibur dengan nonton ini. Selain menghilangkan kepenatan, nonton seperti ini juga membuka wacana. Apalagi kalau filmnya juga bagus-bagus” Ujar Ernianti Fatahella Dewi.
Ustadz Dede Maryadi sebagai pembimbing bagian pengajaran yang mendampingi santri selama pemutaran film mengaku senang. “Insya Allah, kita akan putar film-film yang memotivasi dan mendidik para santri” (Wardan/Muthiya Damayanti)