Cita-cita Amanda
Menu

Cita-cita Amanda

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Di sebuah tempat, tinggalah sebuah keluarga yang sangat sederhana. Keluarga itu bernama keluarga Pak Toto, yang memiliki istri bernama Bu Khodijah. Mereka memiliki seorang anak yang rajin dan pekerja keras yang bernama Amanda. Amanda suka membantu ibunya mencangkul di sawah. Ia tak pernah mengeluh dengan keadaan orang tuanya. Sedangkan Pak Toto hanya sebagai seorang nelayan yang jarang pulang ke rumah dan penghasilanya terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.

Amanda sangat giat, tekun dan rajin dalam belajar. Saat Amanda pergi sekolah pun ia tidak pernah mengeluh walaupun dia harus berjalan kaki sangat jauh ia harus melewati sungai, sawah dan perkampungan karena sekolahnya berada di perkampungan tetangga bukan di perkampungan tempat ia tinggal. Amanda pun tidak pernah menuntut orangtuanya untuk membelikannya tas, baju dan sepatu baru walaupun ia harus pakai tas dari kantong keresek, bajunya sudah sempit dan buluk dan sepatunya sudah rusak.

Di sekolah pun hanya beberapa orang yang menemaninya. Teman-temannya banyak yang tidak mau menemani Manda karena Manda orang miskin. Terutama ada suatu perkumpulan seperti ”GENG” yang sombong karena orangtuanya memiliki jabatan di kantor kelurahan desa, mereka berjumlah 5 orang yaitu Nina, Ratna, Yesi, Tika dan Danisa. Mereka suka mencaci-maki Amanda. Pada suatu hari sehabis pulang sekolah Manda ditegur dan dicaci-maki oleh gengnya Nina, mereka berkata, ”hey, Manda kamu tuh gak pantas bersekolah karena kamu itu orang miskin, yang pantesnya bekerjanya di sawah atau di dapur saja!” Mereka berbicara sambil tertawa dengan logat yang judes. Amanda hanya bisa terdiam tetapi didalam hatinya dia punya kemauan besar untuk menbuktikan kepada teman-temannya bahwa tidak hanya orang yang mampu saja bisa sukses karena kesuksesan itu datangnya dari kemauan kita untuk meraih sesuatu cita-cita.

Semenjak saat itu Amanda semakin giat dalam belajar karena dia ingin menunjukkan ke teman-temannya bahwa dia bisa, ia bertekad untuk memperbaiki derajat orang tuanya karena ia tidak rela kalau orang tuanya selalu jadi bahan omongan tetangga karena banyak hutang dan belum bayar uang kontrakan sampai-sampai pada suatu hari ia hampir diusir dari kontrakannya karena tak dapat bayar uang kontrakan tetapi untungnya ada teman ayahnya yang mau meminjamkan uang, jadinya keluarganya tak jadi diusir.

Dengan banyak penderitaan yang ia alami, ia semakin besar mempunyai tekad untuk mendapatkan beasiswa agar dapat mengurangi beban orangtuanya. Hari demi hari ia lewati dengan belajar dengan sungguh-sungguh, tibalah ujian kenaikan kelas yang dapat ia lewati dengan baik. Pada saat penerimaan raport lalu diumumkanlah juara terbaik di sekolahnya, dan yang akan mendapatkannya adalah Amanda dan orangtuanya pun sangat bangga saat dipanggil menemani Manda mengambil piala.

Orangtuanya sangat bersyukur dapat memiliki anak seperti Amanda dan semenjak itu setiap ada lomba-lomba ia selalu menjadi wakil sekolahnya untuk mengikuti lomba itu. Lalu ia selalu menang, uang dari hasil menangnya itu ia berikan untuk membayar hutang dan untuk kontrakan sedangkan gengnya Nina mereka semua tidak naik kelas karena mereka hanya bisa mengandalkan kekayaan orang tuanya.

TAMAT

[Celoteh santri] Cita-cita Amanda

BY : SITI AYU NINGTYAS

santriwati TMI Darunnajah

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

HASIL TES SELEKSI MASUK GELOMBANG KETIGA DARUNNAJAH JAKARTA

بسم الله الرحمن الرحيم SURAT KEPUTUSAN 67.A/PPSB-TMI/DN/VI/2020 TENTANG HASIL TES SELEKSI MASUK GELOMBANG KETIGA TARBIYATUL MUALLIMIN/AT AL-ISLAMIYAH (TMI) PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH TAHUN AJARAN 2020-2021