[Celoteh Santri] Suka Duka Jaga Malam

Untuk menjaga keamanan pondok seara continue, bagian keamana pondok mewajibkan kepada santri senior (kelas IV dan V) untuk menjaga pondok di malam hari secara bergilir. Tujuannya, agar keamanan pondok tetap terjaga di malam hari. Untuk santriwan, mereka menjaga pos paling depan bersama ustadz yang juga berjaga. Kalau santriwati, mereka berjaga di saung dan ruang penerimaan tamu.

Jaga malam pastinya punya cerita tersendiri. Nggak sedikit lho yang pengen jadi haritsul lail (penjaga malam). Soalnya, besok mereka hanya sekolah mulai jam ke 5 sampai jam ke 9 saja, karena dari jam1 sampai jam ke 4 diluangkan untuk tidur, mengganti jam tidur malam yang dipakai untuk jaga. Enaknya lagi, suasana Darunnajah yang sepi lenggang itu lebih menyenangkan daripada suasana siang atau sore yang cenderung ramai. Seperti Darunnajah milik sendiri. Namun, kalau dulu, santriwati boleh menitip makanan ke luar pondok lewat satpam yang berjaga. Tapi sekarang udah nggak lagi, karena dinilai banyak mudharatnya.  Walaupun gitu, tetep banyak yang pengen jadi haritsul lail.

Biasanya, mereka yang jadi haritsul lail mengisi waktu jaga mereka dengan olahraga atau baca buku, disamping daur (berkeliling) pondok. Pokoknya, ada kenikmatan tersendiri kalau jadi haritsul lail. Nggak enaknya, bisa ketinggalan pelajaran 4 jam, ngantuk yang kadang-kadang nggak terbayar, kalau udah diserbu nyamuk, dan suasana malam yang kadang-kadang bikin bulu kuduk berdiri. Alhamdulillah, sejauh ini nggak pernah ada cerita haritsul lail melihat ‘kawan’ dari alam sana. Dan waktu yang paling disukai santri adalah malam jum’at, karena keesokan harinya libur. Jadinya, puassssssssssss….banget tidurnya. Nggak jarang juga, sebelum waktu jaga berakhir, santri yang jaga sudah tertidur pulas.

Jaga malam ini memang bermanfaat banget buat menjaga keamanan pondok. Maklum, Darunnajah sebagai pesantren yang berada di tengah kota memang rawan tindak kejahatan. Sekalian, melatih keberanian untuk membuka mata lebar-lebar di tengah malam.