Sebagian besar santri (khususon santriwati) lagi rada-rada sebel nih. Soalnya hari Jum’at ini hujan mulu, kadang berhenti kadang lanjut lagi. Walhasil cucian yang udah susah payah direndem, dicuci, dikucek, dibilas, direndem lagi, dan mau dijemur itu pun masih menyimpan air-air yang tak kunjung menguap karena mataharinya lagi maen petak umpet ama awan mendung..(bahasanya..)
Be-te-we..hujan itu kan salah satu berkah dari Sang Pencipta yang nggak ternilai harganya. Di saat kita kekeringan dan butuh air banyak, pasti mengharapkan hujan yang turun dengan lebatnya. Tapi di saat hujan turun? Hohoho..pada ngarepin matahari ‘nongol’ walaupun cuma sebentar doang. Nggak sedikit orang menyalahkan hujan sebagai biang dari telatnya segala macam aktivitas. Contohnya nih, kemarin Rabu ada kemacetan yang parah banget di kawasan Arteri, Jakarta Selatan. Sebabnya nih, gara-gara hujan yang super super lebat itu, air hujan yang tidak tersalur dengan baik itu tergenang kira-kira sedada orang dewasa di terowongan by pass. Tingginya yang mencapai 1,5 meter itu otomatis melumpuhkan fungsi terowongan tersebut. Akhirnya, macet deh hampir 2 jam lamanya. Dan, bisa ditebak, semuanya mengeluh gara-gara hujan yang muantep banget dari sore ampe menjelang isya. Padahal, kalau nggak banyak pohon ditebangin, menjaga saluran aliran air, membuang sampah pada tempatnya, insya Allah air itu juga nggak akan tergenang di situ. Lagipula, airnya juga nggak mau kok tergenang di situ…
Sooo…kurangi deh mengkambing-hitamkan hujan sebagai the main problems dari segala kendala yang kita hadapi. Bersyukurlah masih dikasih hujan sama Allah. Kalau nggak, ente rasain aja sendiri hidup tanpa air yang turun dari awan-awan hitam ini…