[Celoteh Santri] Haflatut Takhrij angkatan XXXI

Hari Selasa tanggal 20 Mei 2008 merupakan hari terakhir bagi santriwan dan santriwati angkatan 31 mondok di pesantren Darunnajah. Genaplah perjuangan mereka di Darunnajah, mereka telah melalui dan menghadapi semua rintangan hidup mondok di tengah kota. Mungkin ada yang berhasil dan –naudzubillah- ada yang tidak berhasil, itu tergantung dari seberapa keras perjuangan dan doa yang telah mereka panjatkan kepada Allah.

Secara umum mereka semua sudah lulus dari pondok ini, tetapi itu bukan akhir dari perjuangan hidup. Masyarakat diluar sana menanti mereka yang baru lulus ini dengan berjuta harapan dan doa agar mereka dapat membawa kebaikan dan keberkahan untuk bangsa dan negara.

Ketika acara Haflatut Takhrij berlangsung, para santriwan dan santriwati sudah dibekali dengan doa yang tulus dan ikhlas dari semua tamu undangan yang hadir termasuk di dalamnya ada Said Agil Al Munawwar dan Menteri Kesejahteraan Perumahan Negara. Semuanya berharap agar santri dapat menjadi kunci utama dalam kehidupan bangsa dan agama.

Pada penghujung acara, para santriwan dan santriwati menunjukkan kebolehannya dengan cara menyanyi dan bermain marawis dimana sebelumnya para santri angkatan ke 31 di kalungkan medali dan diberi wejangan oleh pimpinan pondok pesantren Darunnajah tentang bagaimana cara menghadapi dan menjalani kehidupan diluar pesanteren , tentang cara menjadi istri yang sholihah, terntang cara bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan disayang oleh yang dipimpin.

Sekarang ketika tulisan ini ditulis, semua santriwan dan santriwati angkatan ke 31 sudah berada di rumah mereka masing-masing. Mereka semua saling memikirkan teman-teman yang tidak akan pernah bersama mereka lagi selama 24 jam. Mereka semua sekarang memulai kehidupan baru denga rutinitas yang tentu juga baru, mereka berjuang sendiri untuk mewujudkan apa yang telah mereka impikan sejak masih kecil dan untuk mewujudkan harapan yang telah disematkan oleh semua warga Darunnajah dan semua rakyat Indonesia. Amin.