Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.
Pepatah ini pastinya udah nggak asing lagi di telinga kita. Memang bener kan, nggak boleh melihat sesuatu dari luarnya aja. Bisa aja kan, sebuah buku yang sampulnya hanya bergambar daun kering, ternyata isinya bisa membuat kehidupan seseorang berubah drastis.
Ceritanya begini, waktu liburan kemaren, ane pergi sama orang tua ane ke sebuah mal dibilangan Kuningan. Niatnya, mau ke tempat servis kamera. Ane sama orang tua ane naik bus Transjakarta. Disana, ane ketemu sama seseorang yang lusuuuuuuuh banget penampilannya, walaupun bukan peminta-minta. Matanya terlihat nggak bersahabat, mukanya sangar deh. Ane sempet ngeri waktu ngelihat orang ini, apalagi orang ini (si Fulan) berdiri samping ane. Jaket kulitnya udah lusuh banget, pokoknya berantakan. Waktu ane transit di halte Dukuh Dua menuju ke arah Kuningan, orang itu juga sama tujuannya kayak ane. Ane takut dia orang yang ngga bae. Waktu udah sampai di halte Kuningan, dia juga turun barengan sama ane dan orang tua ane. Ane udah berfikir macem-macem, karena nggak jarang orang ini melihat ane dengan tatapan yang tajam. Biasanya, di jembatan penyebrangan banyak dhuafa dan pengemis. Sewaktu ane melintas dekat seorang nenek yang sudah tua, ane berniat untuk memberi uang kepada nenek itu. Ane hanya memberi nenek itu 1000 rupiah, namun orang tersebut memberi nenek itu uang 10.000 rupiah beserta nasi bungkus yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Sambil berkata kepada nenek itu “hati-hati ya, nek. Ini Jakarta, rawan orang jahat”. Sepintas ane mendengarnya. Dalam hati ane, ane merasa bersalah udah mengira orang ini yang bukan-bukan. Ternyata, orang ini adalah salah satu orang yang peduli dengan keadaan orang dhuafa. Karena, di sepanjang jembatan penyebrangan, semua dhuafa juga diberi nasi bungkus. Aduh, ane jadi malu.
Dari situ, ane belajar buat nggak menilaiorang dengan tampang luarnya saja. Ini penting loh, karena nggak semua orang berpenampilan rapi itu baik. Percaya, kan??