Hah.. Ada Santri Gembok Sendal???
ِ " Apa Kata Dunia? "
Berawal dari seringnya santri yang kehilangan sandal di masjid. Banyak diantara mereka yang kesal terhadap ulah teman seperjuangannya yang suka menyembunyikan bahkan mengambil sandal teman mereka sendiri, dengan alasan yang sama yaitu sandal salah seorang santri yang mengambil sandal teman mereka tersebut juga diambil oleh seorang santri yang juga mempunyai alasan tersebut, begitulah seterusnya. Menurut Ust. H. Sulaiman Effendi hal seperti demikian mempunyai dosa yang sangan besar bagi pelaku pertama.
Ketika masalah ini mulai membuat resah bagi para santri. Maka Bagian Bahasa OSDN mengeluarkan muhadatsah yang berjudul " Kehilangan Sandal " dalam percakapan ini menceritakan salah seorang santri yang kehilangan sandal.
Isi muhadatsah ini adalah :
• A : Ada apa dengan anda?
• B : Saya kehilangan sandal.
• A : Kapan hilangnya?
• B : Setelah shalat subuh.
• A : Mengapa tidak beli yang baru?
• B : Saya muflis hari ini.
• A : Sebulan yang lalu saya kehilangan sandal juga setelah shalat dzuhur.
• B : Sebaiknya kita gembok saja sandal kita.
Tak salah jika banyak santri yang menggembok sandal mereka setelah keluarnya muhadatsah berjudul " Kehilangan Sandal " ini. Diantara dari mereka adalah Rijal santriwan kelas 1 Tsanawiyah ini menggembok sandalnya jika Ia akan melakukan shalat di masjid. Tapi ada juga santri yang beranggapan lain, sebut saja namanya Zakaria. Santriwan kelas 1 Aliyah ini menganggap bahwa menggembok sandal itu merupakan hal yang sangat memalukan, iya sih hal itu aman dari ancaman kehilangan sandal. Tapi yang nggak habis pikir, masa' sandal sama gembok besaran gembok sih? Kan lucu banget jadinya. Begitulah hasil wawancara kami dengan Zakaria.
Kebiasaan ini masih dilakukan oleh santri kelas 1 Tsanawiyah hingga berita ini diliput.
Arti kata :
1. Muhadatsah : Percakapan dari bagian Baahasa OSDN yang berisika kegiatan keseharian santri dengan 3 bahasa, yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia.
2. Muflis : Kata Bahasa Arab yang berarti kehabisan uang. Kalimat ini biasa digunaka oleh para santri jika mereka tidak mempunyai uang.
(Naskah asli tanpa editan Redaksi)
.