[Celoteh santri] Berbenah di usia ke-481

Alhamdullillah, kota Jakarta sudah berusia 481 tahun, cukup 'muda' untuk sebuah kota megapolitan. Di usia yang sudah 481 ini, banyak hal-hal yang sudah dibenah, akan dibenah, dan belum dibenah. Yang sudah dibenah, seperti mengantisipasi kemacetan dengan membangun jalur khusus bus alias busway dan menggembok roda kendaraan yang memarkirkan kendaraannya di sembarang tempat. Juga memberlakukan car free day yang mendapat respon sangat baik dari masyarakat, bahkan masyarakat meminta pemerintah agar menambah hari. Yang akan dibenah, membangun monorel, subway, mengurangi jumlah pengemis di jalan-jalan, membongkar gedung-gedung juga papan reklame raksasa yang tidak mempunyai izin. Yang belum? Pastinya, kemiskinan dan banjir.

Untuk busway, semuanya tidak perlu diragukan lagi. Sebagian besar masyarakat ibukota sudah merasakan manfaat dari bus bebas hambatan ini. Karena memang mempunyai banyak keunggulan. Tinggal beberapa hal saja yang perlu perbaikan, seperti keramahan penjaga pintu masuk bus, dan halte-halte yang masih mangkrak. Juga kebijakan baru Dinas Perhubungan untuk menggembok kendaraan yang diparkir sembarangan. Memang sudah agak 'dingin' beritanya. Meskipun sudah dilaksanakan sejak beberapa minggu yang lalu, masyarakat ibukota memang masih meragukan kebijakan yang satu ini. Karena, menurut sebagian masyarakat, kebijakan ini hanya anget-anget ………….pisang goreng. Kalau didiamkan, pasti dingin sendiri. Ya, berita tentang penggembokan ini memang jarang terdengar lagi. Namun, sepertinya Dishub masih bertahan dengan kebijakan itu. Pada hari ini (23 Juni 2008) Dishub masih memburu kendaraan-kendaraan yang nakal dan memarkirkannya di semabarang tempat di dekat Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Ada 2 mobil sedan yang digembok ban mobilnya oleh para petugas. Sementara itu, terlihat ada 3 buah mobil yang ingin memarkirkan kendaraannya di tempat yang sama. Setelah melihat ada petugas Dishub disana, mereka langsung memindahkan mobilnya ke tempat yang lain. Walaupun tidak begitu kontras, namun kebijakan ini cukup ampuh untuk mengurangi kemacetan di jalan-jalan besar maupun kecil. Untuk car free day, masyarakat sangat antusias dengan hal ini. Selain mengurangi polusi yang makin meningkat, car free day juga sangat membantu mempererat rasa kesatuan dalam hati setiap penduduk kota Jakarta.

Subway, monorel, memang masih mangkrak. Apalagi monorel, tiangnya masih diam tanpa sentuhan di areal Senayan. Namun, Pemerintah berencana untuk menuntaskannya mulai 2009 mendatang. Lalu, masalah pengemis yang menjadi selalu stand by di areal traffic light memang masih menjadi perbincangan. Selain mengganggu, mereka suka memaksa, dan keberadaan pengemis di ibukota sudah sangat banyak. Pengurangan jumlah pengemis memang sedang digalakkan. Namun, banyak masyarakat yang mngeluh juga karena para petugas yang biasanya mnertibkan pengemis ini bertindak kurang sopan dan merendahkan. Seharusnya, penertiban ini diiringi niat untuk memberikan lapangan pekerjaan, dan bantuan sekolah bagi pengemis yang masih dibawah umur, juga jaminan masa tua untuk yang sudah renta.

Diantara yang sudah dan akan dibenah, 2 masalah ini selalu menjadi omongan yang tidak pernah dingin. Kemiskinan masih menjadi bayang-bayang kota megapolitan yang jumlah penduduknya mencapai 7.871.215 orang pada tahun 2007 dan penuh sesak dengan gedung-gedung yang seakan tidak pernah selesai dibangun. Perayaan hari jadi Jakarta yang menghabiskan milyaran rupiah seakan terbakar sia-sia beriringan dengan kembang api yang diledakkan di langit malam Jakarta. Kontras dengan apa yang terjadi di bantaran kali-kali, samping rel kereta api, pesisir pantai, dan yang tidur terlipat di dalam gerobak-gerobak sampah. Musik yang dihentakkan dari sound system yang memerlukan daya listrik yang begitu besar terlepas sia-sia bila dibandingkan dengan kondisi listrik di Jakarta yang byar-pet. Teriakan-teriakan bahagia merayakan HUT Jakarta kontras dengan teriakan-teriakan kelaparan, kehausan, kedinginan, dan kesusahan membiayai hidup dan sekolah. Belum lagi banjir yang masih menghantui dikala hujan lebat. Proyek banjir kanal barat dan timur masih terbengkalai. Dan masalah inilah, yang belum terpecahkan.

Ya, DKI sudah banyak berbenah, dan masih lebih banyak yang belum dibenah. Di usia Jakarta yang sudah 481 tahun ini, biasakah Bang Foke dan Bang Pri memenuhi janjinya? Masyarakat sudah serak berteriak.