[Celoteh Santri] Basket is my life

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Basket is my life

“ ibu tunggu kamu di ruangan istirahat nanti” ucap bu Salma seraya menyerahkan kertas selebaran hasil ulanganku.Aku memandang lemah kertas itu, nilaiku merah lagi. Sebuah angka nol besar terpampang disana. Aku memang bodoh. Mungkin ini adalah takdir tuhan, aku memang hanyalah seorang bodoh, yang tak akan pernah bisa merubah diriku untuk menjadi lebih baik.

            Semua ini berubah karena peristiwa itu, aku jatuh dan cidera, kakiku tegelintir saat bermain basket pada perlombaan itu. Aku meringis kesakitan hingga akhirnya aku tidak bisa berjalan selama tiga bulan lamanya.

            Semenjak itulah papa melarangku bermain basket lagi, tapi aku tetap bersikeras untuk melawannya, karena aku tidak ingin meninggalkan hobiku dan basketku. Tapi ternyata aku terkurung tidak untuk tiga bulan saja, bahkan sampai detik ini papa tidak pernah lagi mengizinkanku keluar rumah untuk bermain basket bersama teman-temannku yang lain. Papa membuang bola-bola basket milikku, juga segala perlengkapan basket yang kumiliki, bahkan lapangan basket mini dihalaman depan rumahku pun telah menjelma menjadi taman. Tapi yang paling membuatku terpuruk, ia bahkan membuang kaos basket kesayanganku. Kaos itu yang kudapati mati-matian ketika aku mengikuti perlombaan itu.
***
“ kamu kenapa nak?”
Aku hanya diam menunduk. Lalu menengadahkan lesu wajahku melihatnya, “ tidak ada bu.”
“ ibu tahu kamu punya masalah. Tapi jangan kamu korbankan sekolah kamu seperti ini.”
“ saya memang bodoh bu, ibu tahu itu! Saya tidak seperti Rian anak ibu.” Ujarku sedikit membentaknya
“ ibu tidak pernah menganggap kamu bodoh, nak. Dan ibu tidak ingin membanding-bandingkan kamu dengan Rian. Kamu juga anak ibu, ibu hanya ingin kamu berubah seperti Andi yang dulu.”
“ Papa terus mengekang saya. Saya tidak boleh bermain basket lagi.”
ibu Salma diam memerhatikanku
“ saya bahkan tidak mengerti apa yang diinginkannya, dia membuang seluruh barang-barang saya yang lama, termasuk kaos basketku itu bu!!”
“ mungkin dia hanya tidak ingin kejadian itu terulang lagi.”
“ itu tak masuk akal bu,, bukan begini caranya. Itu malah membuat saya frustasi. “
“ kamu bisa nak,, ibu yakin kamu dapat membawa nama baik sekolah ini. Tunjukkan prestasimu Andi.”
***
Sore itu aku hanya berjalan menyusuri jalanan, entah kemana kaki ini ingin melangkah. Aku kabur dari rumah, biarkan saja. Seketika itu pula aku terduduk dan termenung sendirian
“ Andi…..”

Seseorang menepuk bahuku drai belakang. Aku pun menoleh dan melihat Rian duduk disampingku
“ aku lagi butuh sendiri.”
Tiba-tiba Rian bangkit lagi, lalau mendribble bola basket yang dibawanya.
“ cemen banget sih Di, yakin gak mau ikutan main? Bukannya dulu kamu yang bilangkalo basket itu bisa bikin orang yang jatuh jadi bangkit lagi. Bukan cowok namanya kalo dia tetap terpuruk dan gak pernah berusaha untuk bangkit lagi.”
aku mendengar dengan baik setiap perkataan Rian, lalu berpikir sejenak
“ siapa bilang aku jatuh?”, aku bangkit menyusulnya.
“ buktinya sekarang bola ini bisa berpindah tangan.” lanjutku seraya merebut bola dari Rian.
Dan sore itu, aku menghabiskan waktuku untuk bermain basket bersama Rian. Entahlah, semuanya terasa ringan begitu saja.
***
“ selamat bergabung dalam tim basket kami.”
Itu adalah kali keduaku bergabung bersama sekelompok bintang lapangan basket. Aku merasa semangatku bangkit lagi, Rian dengan ramah merangkulku untuk ikut bergabung bersama timnya. Dan kini, dengan gagahnya aku mengenakan kaos basket baruku, dengan nomor yang sama, seperti kaosku dulu, 07. Dan disana ada namaku juga, terpampang jelas ANDI FAHREZA.
“ Sebentar lagi kita akan bertanding sama SMU 02, kita harus bisa kalahin mereka. Sekarang gini, kita atur dulu posisi setiap penyerang. John sama Budi jaga ring, Andi dan aku jadi penyerang utama, terus ….”
Rian sibuk menjelaskan berbagi strategi dan posisi setiap pemain. Benar-benar menyenangkan, kami saling bekerja sama dan bahu membahu dalam menjaga kekompakan tim.
***
Sorak sorai banyak orang memenuhi seantero GOR sekolah kami saat itu. Ratusan mata kini tertuju pada kami yang sedang bersiap-siap dipinggir lapangan, aku tersenyum bahagia. Semua ini seperti dulu ketika peristiwa itu belum terjadi. Semenatara semua anggota tim basket sudah berkumpul dilapangan, tinggal seorang lagi yang kami tunggu, Rian.
“ Rian sakit Di,, asmanya kambuh. Dia gak bisa ikut gabung tim kita, “
“ terus sekarang gimana?” sambung yang lain
“ Cuma kamu yang jadi harapan kita Di,, “
“ aku??” tanyaku ragu
“ iya, siapa lagi? Ayo cepat!! Lombanya udah mau dimulai.”
Tim kami melemah, kami kehilangan seorang pemimpin, seorang Rian yang telah menjadi ketua tim basket kami dan selalu memenangkan setiap perlombaan basket antar sekolah. Tapi sekarang, mereka malah menyerahkan kepercayaan itu kepadaku. Aku yang bertindak sebagai ketua disini, aku harus menjadi sosok Rian yang tangguh dan berani. ‘Aku harus bisa.’ gumamku dalam hati.
***
Priiiiiittt….
Lomba pun telah usai, tubuhku melambung tinggi ke udara. Sorak sorai banyaknya orang yang hadir saat itu memekikkan telingaku. Semua orang berseru, menyebut namaku. Satu sekolah bahkan seluruhnya yang hadir dalam ruangan itu. Karena saat itu, adalah hari keberuntunganku. Aku yang men shoot bola dan menambah satu skor bagi tim basket sekolahku dari skor yang semulanya seri. Dan kini aku maju ke podium, berdiri didepan orang banyak untuk menerima sebuah penghargaan yang tak ternilai dalam hidupku.
Namaku terpampang disana, terdaftar menjdai seorang wakil ketua tim basket sekolahku. Aku merasa kembali menjadi Andi yang dulu.
Remang-remang aku melihat seseorang yang berdiri tegap disudut GOR yang tengah menatapku, wajah yang tak asing lagi bagiku. Dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa lelaki itu adalah papa. Disampingnya terlihat mama mendampingi juga ibu Salma. Dia menggangguk dna tersenyum melihatku, apakah itu artinya papa mengizinkan bermain basket lagi? Aku menjerit dalam hati, entah bagaimana seharusnya aku menggambarkan perasaanku saat ini.
Dan sekarang aku muali mempercainya, mempercayai kata-kata lama yang memiliki segudang makna ‘ tidak ada yang tidak mungkin didunia ini’. Asalkan kita mau untuk bangkit dan berusaha. Ternyata aku salah mengartikannya, aku slaah karena menganggap segala hal yang kulakukan adalah sia-sia, bahkan untuk hidup sekalipun.
Setiap drubbling dan shooting yang aku lakukan, semua itulah yang mengantarkanku sekarang, menjadi pemenang diantara bintang-bintang basket yang teridolakan.hidup adalah permainan yang tak akan pernah berhenti sebelum wkatu yang menghentikannya. Seperti permainan basket yang tak akan usai sebelum sang wasit meniupkan pluitnya.
PRIITTT…Basket is my life,,

                                                                                                            Created by:
Mia Ma’rifah
XI MAK

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Hujan
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Do’a Ketika Turun Hujan Sebagai Pencegah Banjir

Assalamu’alaikum Sahabat Muslim, lagi pada diguyur hujan ya? Tanpa terasa kini Indonesia telah masuk kedalam musim penghujan, bahkan beberapa kawasan di daerah Bogor dan Jakarta