[Catatan Kaki] Lelaki kecilku…

Oleh Rizma Ilfi Sofwan 

 

Beberapa tahun lalu, tiap malam saya mengantar lelaki kecilku ke tempat tidur, lalu menyanyikan lagu untuknya, lagu nyleneh karangan saya sendiri, khusus untuk kami berdua. “tetaplah kecil, tetaplah kecil”. Dan anak saya akan tertawa mendengarnya, saya pun tersenyum. Esoknya saat terbangun, saya akan berkata “coba lihat dirimu, kau bertambah besar, lagunya tidak membawa hasil”.

 

Selama bertahun-tahun, saya menyanyikan lagu itu dengan harapan dia tidak akan menjadi besar. Dan anak saya pun berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa dia tidak akan jadi semakin besar.

 

            Lalu suatu hari, dengan terpaksa, saya berhenti menyanyikan lagu itu. Entah kenapa. Mungkin karena pintu kamar anak saya tertutup, mungkin karena dia sedang belajar, atau sedang ngobrol dengan seseorang di telepon. Atau barangkali, saya harus menyadari bahwa sudah waktunya saya mengizinkan dia menjadi dewasa.

 

            Sekarang, saya merasa lagu yang biasa kami nyanyikan, pasti mempunyai kekuatan ajaib, sebab saat saya masih menyanyikannya, anak saya tetap menjadi kecil yang perlu di urus, umur empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh… rasanya sama saja, bahkan penampilannya pun tetap sama. Sekarang dia semakin jangkung, bodynya besar, giginya bermunculan rapi. Tapi dia tetap mesti harus diingatkan untuk menggosoknya, untuk menyisir rambutnya, diingatkan untuk mandi serta sholat tepat waktu.

 

            Mainannya pun berganti seiring berjalannya waktu. Dulu dia bermain layang-layang. Kemudian berganti dari Play Station menjadi Gameboy dan sekarang PC yang selalu diotak atiknya. Selama bertahun-tahun, dia seperti boneka-boneka kayu yang seluruh penampilannya tidak berubah. Hanya ukurannya saja yang semakin besar.

 

            Atau setidaknya seperti itulah dia dimata saya. Dia suka main sepeda, jungkir balik di Time Zone di mal-mal, makan permen karet dan membuat origami membentuk burung atau pesawat terbang, dengan kertas koran. Dia suka sekali makan, apa saja dia makan dan bangun pagi-pagi pada hari minggu untuk menonton kartun Tom and Jerry kesukaannya.         

 

            Hari ini saya menatapnya. Sebulan lagi dia akan lulus SD dan saya bangga akan dirinya, akan pribadinya sekarang ini. Tapi saya pun merasa sedih, bukan untuk dirinya, tapi untuk saya sendiri. Sebentar lagi dia akan meninggalkan saya, melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi, akan mempunyai dunianya sendiri dan akan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

 

            Sekarang, lelaki kecilku sudah dewasa. Meskipun ibu, sahabat dan saudara saya mengatakan bahwa saya tidak akan kehilangan dia, dia sudah dewasa dan akan menghadapi kehidupan yang berikutnya yang Insya Allah adalah yang terbaik. Tapi saya tau, apa yang akan datang tidak akan sama dengan apa yang telah berlalu.

 

            Saat ini, saya duduk di depan meja ditemani notebook orange saya. meski hati saya sedih, saya tersenyum. Saya merasa betapa istimewanya menjadi seorang ibu dan betapa beruntungnya saya…

 

“robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”