Di banyak rumah, ibadah masih menjadi sesuatu yang harus dipaksa. Anak disuruh sholat tapi menunda. Diingatkan mengaji tapi menghindar. Dipanggil berjamaah tapi beralasan sibuk. Di pesantren, pemandangan itu berubah — bukan karena santri takut dihukum, tapi karena mereka perlahan menemukan sendiri alasan untuk mencintai ibadah.
Kenapa memaksa ibadah justru sering kontraproduktif?
Kita semua tahu bahwa paksaan jarang menghasilkan kecintaan. Anak yang disuruh sholat dengan bentakan akan menjalankannya dengan berat hati. Anak yang diancam kalau tidak mengaji akan menganggap Quran sebagai beban. Hasilnya bukan ibadah yang bermakna — tapi ibadah yang dilakukan hanya untuk menghindari masalah.
Di pesantren, pendekatan terhadap ibadah sangat berbeda. Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Yang ada adalah lingkungan yang secara alami membuat ibadah terasa sebagai bagian dari kehidupan — bukan gangguan terhadap kehidupan.
Bagaimana pesantren menciptakan lingkungan yang membuat ibadah terasa alami?
Saat adzan subuh berkumandang di pesantren, banyak santri bergerak bersama menuju masjid. Tidak ada yang bertanya kenapa harus sholat — karena semua orang melakukannya. Tidak ada yang merasa aneh bangun sebelum matahari terbit — karena itu bagian dari ritme hidup yang dijalani bersama.
Kekuatan terbesar pesantren dalam mengajarkan ibadah bukan di ceramahnya. Kekuatan terbesarnya ada di lingkungannya. Saat seorang anak melihat seluruh temannya berjalan ke masjid, dorongan untuk ikut datang secara alami. Saat mendengar suara Quran yang dilantunkan bersama setiap sore sebelum Maghrib, ada sesuatu yang perlahan bergetar di dalam hati — bukan karena dipaksa mendengar, tapi karena keindahan itu memang sulit ditolak.
Wali kamar yang sholat di shaf depan bersama santri menjadi contoh tanpa kata-kata. Ustadz yang terlihat menangis saat berdoa setelah sholat malam menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar gerakan — tapi hubungan yang sangat personal dengan Tuhan.
Apa yang berubah dalam diri santri seiring waktu?
Di minggu-minggu pertama, mungkin masih ada santri yang sholat karena rutinitas. Tapi seiring bulan berjalan, sesuatu mulai bergeser. Sholat yang tadinya sekadar gerakan mulai terasa bermakna. Mengaji yang tadinya membosankan mulai terasa menenangkan. Puasa sunnah Senin Kamis yang tadinya berat mulai terasa ringan karena dijalani bersama.
Perubahan itu tidak terjadi dalam sekejap. Ia terjadi perlahan, lewat pengulangan yang konsisten dalam lingkungan yang mendukung. Dan justru karena prosesnya alami, hasilnya bertahan jauh lebih lama dari ibadah yang dipaksakan.
Banyak santri yang bercerita bahwa momen paling mengubah mereka bukan pelajaran di kelas — tapi malam-malam sunyi saat mereka berdoa sendirian setelah semua orang tidur, dan merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat. Momen itu tidak bisa direncanakan atau diprogramkan. Ia datang sendiri saat hati sudah siap menerimanya.
Kenapa pendekatan ini jauh lebih efektif dari paksaan?
Anak yang jatuh cinta pada ibadah lewat pengalaman sendiri tidak akan mudah meninggalkannya setelah lulus. Alumni pesantren yang masih bangun sholat Tahajud bertahun-tahun setelah lulus bukan karena ada yang mengawasi — tapi karena mereka sudah merasakan manfaatnya secara pribadi. Ketenangan itu sudah menjadi kebutuhan, bukan kewajiban.
Di mana proses ini masih berjalan setiap hari?
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, dengan tradisi ibadah harian yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade dan banyak santri yang menjalaninya bersama, adalah salah satu tempat di mana anak-anak muda menemukan sendiri alasan untuk mencintai ibadah.
Ibadah yang dicintai tidak perlu dipaksa. Ia hanya perlu lingkungan yang tepat untuk tumbuh.
Kalau ingin mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan spiritual di pesantren, silakan hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Kadang satu kunjungan bisa mengubah cara pandang yang selama ini kita pegang.