Ada momen yang membuat orang tua bingung: anak yang dulu antusias belajar tiba-tiba tidak peduli. Nilai turun, tugas menumpuk, dan setiap kali ditanya jawabnya “males.” Sebelum menyimpulkan bahwa anak malas, ada baiknya mundur sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya hilang? Karena anak yang kehilangan motivasi biasanya bukan kehilangan kemampuan — ia kehilangan alasan.
Kenapa motivasi belajar bisa hilang?
Banyak kemungkinan. Bosan dengan cara belajar yang monoton. Merasa pelajaran tidak relevan dengan hidupnya. Tekanan akademik yang terlalu berat. Perbandingan dengan teman atau saudara. Atau sekadar kelelahan — fisik maupun mental — yang tidak terdeteksi karena anak tidak pandai mengungkapkan.
Di era digital, ada tambahan faktor: stimulasi yang lebih menarik di luar belajar. Game, media sosial, dan konten hiburan dirancang untuk memicu dopamin secara instan. Belajar — yang hasilnya lambat dan prosesnya kadang membosankan — tidak bisa bersaing dengan itu kalau anak tidak punya motivasi internal yang cukup kuat.
Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan dengan interogasi, tapi dengan percakapan yang tulus. “Apa yang paling bikin males dari belajar sekarang?” Kadang jawabannya mengejutkan — dan membuka jalan untuk solusi yang lebih tepat dari sekadar memaksa.
Kedua, bantu anak menemukan koneksi antara belajar dan hal yang ia pedulikan. Anak yang suka game mungkin tertarik belajar coding. Anak yang suka memasak mungkin tertarik pada kimia. Menemukan “kenapa” yang personal membuat belajar terasa bermakna — bukan sekadar kewajiban.
Ketiga, kurangi tekanan hasil, tingkatkan apresiasi proses. Anak yang merasa dihargai hanya kalau nilainya bagus akan melihat belajar sebagai ancaman, bukan kesempatan. Ubah narasi dari “harus dapat nilai bagus” menjadi “harus memahami.” Pemahaman yang tulus akhirnya menghasilkan nilai yang baik juga — tapi tanpa tekanan yang merusak.
Keempat, ciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Ruangan yang tenang, jadwal yang konsisten, dan minimnya gangguan digital. Ini terdengar sederhana tapi implementasinya sering jadi tantangan tersendiri di rumah.
Bagaimana kalau cara-cara di rumah sudah dicoba tapi belum berhasil?
Kadang masalahnya bukan pada anak atau orang tua, tapi pada lingkungan. Anak yang berada di lingkungan di mana teman-temannya juga tidak semangat belajar akan sulit termotivasi — sekeras apa pun usaha orang tua. Pengaruh lingkungan di usia remaja sering lebih kuat dari pengaruh keluarga.
Beberapa keluarga memilih mengubah lingkungan sebagai strategi. Pindah sekolah, ikut bimbel, atau — bagi yang mempertimbangkan perubahan yang lebih mendasar — memasukkan anak ke lingkungan pendidikan yang berbeda sama sekali.
Pesantren, misalnya, menawarkan lingkungan di mana belajar adalah norma kolektif. Ribuan anak mengikuti jadwal belajar yang sama, tanpa gadget yang mengalihkan, dengan teman-teman yang sama-sama menjalani rutinitas akademik. Bagi sebagian anak, perpindahan ke lingkungan seperti ini menjadi reset yang efektif. Bukan karena dipaksa, tapi karena lingkungannya mengubah apa yang terasa normal.
Apakah ini jaminan? Tentu tidak. Ada anak yang tetap butuh waktu lebih lama untuk menemukan motivasinya bahkan di lingkungan yang mendukung. Tapi setidaknya hambatan eksternal — gadget, pergaulan yang tidak mendukung, jadwal yang tidak terstruktur — sudah diminimalkan.
Apa yang perlu diingat?
Motivasi bukan sesuatu yang bisa ditanamkan dari luar. Ia harus tumbuh dari dalam. Yang bisa dilakukan orang tua dan lingkungan pendidikan adalah menciptakan kondisi di mana motivasi internal bisa muncul — dan tidak terus-menerus ditenggelamkan oleh gangguan dan tekanan.
Bagi yang merasa perlu lingkungan belajar yang berbeda untuk anak, Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat bisa menjadi salah satu opsi untuk dilihat. Bukan solusi ajaib — tapi lingkungan yang setidaknya menghilangkan beberapa hambatan yang sulit diatasi di rumah.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang kehilangan semangat bukan anak yang rusak. Ia anak yang sedang mencari alasan yang cukup kuat untuk kembali bangkit.