Cara Mengatasi Pertengkaran Antar Saudara yang Terus Berulang

Pagi-pagi sudah bertengkar soal siapa yang duluan pakai kamar mandi. Siang rebutan remote TV. Sore saling lapor ke orang tua tentang siapa yang memulai duluan. Pertengkaran antar saudara — sibling rivalry — bisa sangat melelahkan bagi orang tua. Rasanya seperti jadi wasit pertandingan tinju yang tidak pernah selesai. Tapi sebelum frustrasi, ada hal yang perlu dipahami: pertengkaran antar saudara itu normal. Dan kalau dikelola dengan benar, justru bisa menjadi latihan sosial yang sangat berharga.

Kenapa saudara sering bertengkar?

Karena mereka berbagi sumber daya yang terbatas: perhatian orang tua, ruang, mainan, waktu. Setiap hari, mereka bernegosiasi — kadang dengan cara yang konstruktif, sering kali tidak — tentang bagaimana sumber daya itu dibagi. Ditambah perbedaan usia, kepribadian, dan kebutuhan yang berbeda, gesekan hampir tidak bisa dihindari.

Persaingan untuk mendapat perhatian orang tua mungkin faktor terbesar. Anak yang merasa saudaranya lebih diperhatikan — entah karena lebih pintar, lebih lucu, atau lebih membutuhkan — bisa mengembangkan kecemburuan yang diekspresikan melalui pertengkaran.

Apa yang biasanya salah dalam cara kita menangani?

Pertama, selalu bertanya “siapa yang mulai duluan?” Pertanyaan ini jarang menghasilkan jawaban jujur dan biasanya justru memperparah konflik karena kedua pihak merasa tidak dipercaya. Kedua, selalu membela yang lebih kecil. Ini terasa adil tapi bisa membuat anak yang lebih besar merasa selalu disalahkan — dan menimbulkan kebencian terhadap adiknya. Ketiga, membandingkan. “Kakakmu tidak pernah seperti ini” adalah kalimat yang menjamin pertengkaran akan terus berlanjut karena perbandingan memperdalam persaingan.

Apa pendekatan yang lebih efektif?

Pertama, jangan selalu mengintervensi. Biarkan mereka mencoba menyelesaikan sendiri dulu — kecuali ada kekerasan fisik atau emosional yang berlebihan. Setiap kali orang tua langsung turun tangan, anak kehilangan kesempatan belajar menyelesaikan konflik sendiri. Kedua, kalau memang harus turun tangan, jadilah mediator bukan hakim. Dengarkan kedua pihak. Bantu mereka menemukan solusi bersama. “Kalian berdua inginnya sama. Bagaimana caranya supaya adil?” Ketiga, beri perhatian individual. Setiap anak butuh momen di mana ia merasa menjadi yang paling penting — tanpa harus berbagi perhatian dengan saudara. Lima belas menit per hari di mana kita sepenuhnya fokus pada satu anak bisa mengurangi kebutuhan untuk bersaing demi perhatian.

Keempat, rayakan keunikan masing-masing. Bukan membandingkan, tapi mengapresiasi perbedaan. “Kakak hebat di matematika. Adik hebat di seni. Kalian berdua punya kekuatan sendiri.” Anak yang merasa diakui keunikannya tidak perlu bersaing dengan saudaranya. Kelima, ajarkan empati antar saudara. “Kalau kamu yang diambil mainannya tanpa izin, kamu merasa bagaimana?” Pertanyaan yang memaksa anak melihat dari perspektif saudaranya.

Apa peran lingkungan?

Menariknya, banyak anak yang pertengkarannya dengan saudara cukup intens ternyata menjadi sangat baik dalam bersosialisasi di lingkungan yang lebih luas. Karena dari pertengkaran dengan saudara, mereka sudah belajar dasar-dasar negosiasi, kompromi, dan penyelesaian konflik.

Pesantren memberikan lingkungan yang unik: anak hidup bersama ribuan “saudara” yang bukan saudara kandung. Di kamar yang sama dengan orang-orang dari latar belakang berbeda, mereka menghadapi dinamika yang mirip dengan sibling rivalry tapi dalam skala yang jauh lebih besar. Belajar hidup bersama orang yang berbeda kepribadian, berbagi ruang dan fasilitas, menyelesaikan konflik tanpa orang tua sebagai mediator — ini latihan sosial yang sangat intensif.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menempatkan banyak santri dalam komunitas bersama yang menuntut kemampuan hidup berdampingan setiap hari. Dinamika konflik dan resolusinya terjadi secara natural. Masih banyak yang perlu diperbaiki dalam hal pendampingan penyelesaian konflik, tapi paparannya terhadap latihan sosial cukup intensif.

Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.

Saudara yang bertengkar hari ini mungkin menjadi sahabat terbaik di masa dewasa. Pertengkaran bukan akhir — ia bagian dari proses belajar hidup bersama orang yang berbeda. Dan pelajaran itu, kalau dikelola dengan baik, sangat berharga.