Ingin disukai itu manusiawi. Tapi ketika keinginan itu menjadi kebutuhan yang mengontrol setiap keputusan — cara berpakaian, cara bicara, bahkan nilai-nilai yang dipegang — anak kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari popularitas: jati dirinya. Ada perbedaan besar antara ingin diterima secara sosial dan mengorbankan identitas demi penerimaan.
Kenapa anak sangat butuh disukai?
Secara biologis, manusia adalah makhluk sosial yang memang membutuhkan penerimaan kelompok untuk bertahan. Di usia remaja, kebutuhan ini sangat intens karena identitas masih terbentuk dan validasi dari teman sebaya terasa jauh lebih penting dari validasi orang tua. Ini bukan sesuatu yang perlu dilawan — ini perlu dipahami.
Yang menjadi masalah bukan keinginan untuk diterima, tapi harga yang bersedia dibayar untuk itu. Anak yang mengubah pendapatnya supaya sejalan dengan kelompok, yang diam saat melihat ketidakadilan supaya tidak dijauhi, yang menyembunyikan minat aslinya supaya terlihat keren — ia sedang membayar harga yang terlalu mahal.
Apa yang bisa diajarkan?
Pertama, normalisasi bahwa tidak semua orang akan menyukai kita. Dan itu bukan kegagalan. Orang dewasa yang paling dihormati pun punya orang yang tidak menyukainya. Ini bagian dari hidup, bukan sesuatu yang harus diperbaiki. “Tidak apa-apa kalau ada orang yang tidak suka sama kamu. Yang penting kamu tetap bersikap baik dan jujur pada dirimu sendiri.”
Kedua, bantu anak menemukan identitas yang tidak bergantung pada pendapat orang lain. Anak yang punya hobi, punya nilai, dan punya prinsip yang ia pahami sendiri punya anchor yang kuat. Ketika pendapat teman berubah — dan di usia remaja ini sering terjadi — ia tidak ikut berubah karena ada sesuatu yang lebih dalam yang memegangnya.
Ketiga, ajarkan perbedaan antara disukai dan dihormati. Disukai itu menyenangkan tapi kadang dangkal dan sementara. Dihormati itu lebih dalam dan lebih bertahan. Anak yang belajar mengejar rasa hormat — dari diri sendiri maupun orang lain — biasanya lebih stabil daripada yang mengejar popularitas.
Keempat, ceritakan pengalaman nyata. “Papa dulu pernah mencoba menyenangkan semua orang di kantor. Sangat melelahkan dan tidak pernah berhasil. Yang berhasil justru ketika papa fokus melakukan pekerjaannya dengan baik dan jujur pada diri sendiri.” Cerita nyata lebih meyakinkan dari nasihat abstrak.
Apa peran lingkungan?
Lingkungan yang menghargai keberanian menjadi diri sendiri — bukan sekadar menyesuaikan diri dengan mayoritas — sangat mendukung. Lingkungan di mana perbedaan dilihat sebagai kekayaan, bukan ancaman.
Pesantren, dengan ribuan anak dari berbagai daerah dan latar belakang, secara natural menciptakan keberagaman di mana tidak ada satu standar tunggal tentang siapa yang harus “disukai.” Anak dari Padang berbeda dari anak Jakarta. Yang suka kaligrafi berbeda dari yang suka futsal. Keberagaman ini mengajarkan bahwa ada banyak cara untuk menjadi diri sendiri — dan semuanya valid.
Pesantren juga mengajarkan bahwa nilai sejati seseorang bukan dari popularitas tapi dari akhlak dan kontribusinya. Ini prinsip yang, kalau benar-benar ditanamkan, menjadi fondasi identitas yang sangat kuat. Tentu penerapannya tidak selalu sempurna — dinamika sosial remaja tetap ada di mana pun. Tapi orientasinya cukup jelas.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menempatkan banyak santri dari berbagai latar belakang dalam satu komunitas. Keberagaman ini mengajarkan penerimaan perbedaan secara alami. Masih ada dinamika sosial yang perlu dikelola, tapi fondasinya cukup kuat.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang berani menjadi diri sendiri mungkin tidak disukai semua orang. Tapi ia disukai oleh orang yang tepat — dan yang lebih penting, ia bisa menghargai dirinya sendiri.