Anak hafal nama-nama YouTuber dan TikToker tapi tidak tahu siapa yang menemukan vaksin atau siapa pahlawan nasional negaranya. Ini bukan sepenuhnya salah anak — ini soal siapa yang paling sering muncul di layar mereka. Dan di era di mana algorithm menentukan apa yang dilihat anak setiap hari, pertanyaan “siapa yang dikagumi anak” menjadi sangat penting untuk diperhatikan.
Apa bedanya influencer dan role model?
Influencer adalah seseorang yang punya banyak pengikut dan bisa mempengaruhi perilaku orang lain — biasanya melalui media sosial. Ia tidak harus punya keahlian khusus, tidak harus punya karakter yang baik, dan tidak harus punya kontribusi nyata untuk masyarakat. Ia hanya perlu menarik perhatian. Dan di dunia digital, menarik perhatian kadang jauh lebih mudah dari memberikan manfaat nyata.
Role model adalah seseorang yang layak dijadikan panutan karena karakternya, pencapaiannya, kontribusinya, dan integritasnya. Ia mungkin terkenal, mungkin juga tidak. Yang membedakan bukan popularitasnya, tapi nilai yang ia representasikan.
Masalahnya: anak sering tidak bisa membedakan keduanya. Seseorang yang punya jutaan followers terasa otomatis seperti orang yang layak dikagumi — padahal followership dan kelayakan dikagumi adalah dua hal yang sangat berbeda.
Kenapa ini penting?
Karena siapa yang dikagumi anak mempengaruhi aspirasinya, perilakunya, dan nilai-nilainya. Anak yang mengidolakan influencer yang mendapat uang dari prank dan konten kontroversial menyerap pesan bahwa cara meraih kesuksesan adalah dengan menarik perhatian — cara apa pun. Anak yang mengagumi orang yang dikenal karena kerja keras, integritas, dan kontribusi nyata menyerap nilai-nilai yang jauh lebih produktif.
Bukan berarti semua influencer buruk. Ada influencer yang benar-benar memberikan manfaat — yang mengedukasi, menginspirasi, dan menggunakan platformnya untuk kebaikan. Yang perlu diajarkan bukan menghindari influencer, tapi berpikir kritis tentang siapa yang layak dikagumi dan kenapa.
Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, tanyakan — dengan tulus, bukan menghakimi — siapa yang dikagumi anak dan kenapa. Jawaban anak sering sangat informatif tentang nilai-nilai yang sedang ia serap. Kedua, diskusikan. “Apa yang membuat orang ini kamu kagumi? Apakah kamu kagum karena ia terkenal, atau karena apa yang ia lakukan?” Pertanyaan-pertanyaan ini membantu anak berpikir lebih dalam dari sekadar jumlah followers.
Ketiga, kenalkan role model alternatif. Bukan dengan memaksa — “kamu harus kagum sama orang ini” — tapi dengan memaparkan. Ceritakan kisah orang-orang yang melakukan hal-hal bermakna. Tonton dokumenter bersama. Baca biografi. Biarkan anak menemukan sendiri orang-orang yang menginspirasinya dari sumber yang lebih beragam dari sekadar feed media sosial.
Keempat, jadilah role model sendiri. Ini yang paling kuat dan paling sering dilupakan. Anak yang melihat orang tuanya hidup dengan integritas, bekerja keras, dan memperlakukan orang lain dengan baik punya role model yang paling dekat dan paling berpengaruh — meskipun kita tidak punya satu pun followers di media sosial.
Kelima, ajarkan bahwa popularitas tidak sama dengan kebenaran. Seseorang bisa sangat populer dan sangat salah pada saat bersamaan. Jumlah likes bukan indikator kebenaran. Jumlah followers bukan indikator kebijaksanaan. Ini pelajaran yang kritis di era post-truth.
Apa peran lingkungan?
Lingkungan yang memberikan akses ke figur-figur inspiratif secara langsung — bukan lewat layar — sangat membantu. Anak yang berinteraksi langsung dengan orang-orang yang ia hormati mendapat pengalaman yang jauh lebih dalam dari sekadar menonton konten digital.
Di pesantren, role model hadir secara langsung setiap hari: ustadz yang mengajar dengan ikhlas, wali kamar yang mendampingi dengan sabar, kakak kelas yang memimpin dengan integritas. Figur-figur ini mungkin tidak punya jutaan followers, tapi pengaruh mereka pada santri yang berinteraksi langsung dengan mereka setiap hari sangat nyata dan sangat dalam.
Tanpa gadget, santri juga tidak terpapar pada influencer digital selama bertahun-tahun. Role model mereka terbentuk dari orang-orang nyata di sekitarnya — dan ini fondasi yang biasanya lebih sehat dari role model yang dibentuk oleh algorithm.
Tentu, kualitas figur di pesantren bervariasi. Tidak semua ustadz atau wali kamar menjadi role model yang ideal. Tapi keberadaan figur nyata yang bisa dilihat, diinteraksi, dan dinilai secara langsung memberikan pengalaman belajar tentang karakter yang tidak bisa didapat dari layar.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menyediakan lingkungan di mana role model hadir secara langsung — bukan lewat layar. Ustadz, wali kamar, dan kakak kelas menjadi figur yang dilihat dan berinteraksi setiap hari. Kualitasnya bervariasi dan terus diperbaiki, tapi kehadiran figur nyata ini cukup bermakna.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak tidak butuh idola yang sempurna. Ia butuh seseorang yang nyata, yang dekat, dan yang hidupnya menunjukkan bahwa nilai-nilai yang baik itu memang bisa dijalani — bukan hanya di layar, tapi di kehidupan sehari-hari.