Anak yang selalu dikabulkan keinginannya tidak belajar bernegosiasi. Anak yang selalu ditolak belajar menyerah. Tapi anak yang diajarkan bahwa ada cara untuk meminta, berdiskusi, dan mencari titik temu — ia belajar keterampilan yang akan digunakan seumur hidupnya. Di kantor, di rumah tangga, di masyarakat. Negosiasi bukan manipulasi. Ini seni mencapai kesepakatan yang menghormati semua pihak.
Kenapa anak perlu belajar bernegosiasi?
Karena kehidupan penuh dengan situasi di mana kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan persis seperti yang kita mau. Makan di restoran mana, liburan ke mana, siapa yang pakai remote TV, bagaimana membagi tugas — semua ini negosiasi. Anak yang tidak bisa bernegosiasi hanya punya dua respons: memaksa atau menyerah. Keduanya tidak produktif.
Negosiasi juga mengajarkan empati. Untuk bernegosiasi dengan baik, anak harus memahami apa yang diinginkan pihak lain — bukan hanya apa yang ia inginkan. Ini memaksa anak keluar dari egosentrismenya dan melihat situasi dari perspektif yang berbeda.
Bagaimana mengajarkannya?
Pertama, beri ruang untuk negosiasi di rumah. Bukan negosiasi tentang hal-hal prinsipil — sholat tetap wajib, sekolah tetap wajib. Tapi untuk hal-hal yang memang bisa dinegosiasikan: jam bermain gadget, menu makan malam, destinasi liburan keluarga. Anak yang merasa suaranya didengar dalam keputusan belajar bahwa negosiasi itu mungkin dan bermartabat.
Kedua, ajarkan cara menyampaikan keinginan dengan argumen. Bukan “aku mau!” tapi “aku ingin ini karena..” Anak yang terbiasa memberikan alasan di balik keinginannya sedang berlatih keterampilan argumentasi yang sangat berguna.
Ketiga, tunjukkan cara berkompromi. “Kamu ingin A, mama ingin B. Bagaimana kalau kita coba C yang di tengah-tengah?” Anak yang melihat orang tuanya berkompromi belajar bahwa tidak selalu harus menang sepenuhnya untuk mendapatkan sesuatu.
Keempat, biarkan anak bernegosiasi antar mereka. Saudara yang berebut mainan bisa diajak bernegosiasi sendiri. “Kalian berdua inginnya sama. Coba cari solusi yang adil buat dua-duanya.” Ini lebih mendidik dari orang tua yang langsung menentukan siapa yang benar.
Kelima, ajarkan kapan negosiasi tidak berlaku. Ada hal-hal yang tidak bisa dinegosiasikan — keselamatan, ibadah, hukum. Anak perlu tahu batasannya, supaya negosiasi tidak berubah menjadi pembangkangan terhadap hal-hal yang memang bukan tempatnya.
Apa peran lingkungan?
Lingkungan di mana anak tinggal bersama banyak orang secara natural menuntut negosiasi setiap hari. Siapa yang tidur di mana. Siapa yang pakai fasilitas duluan. Bagaimana membagi tugas piket. Dalam komunitas besar, kemampuan bernegosiasi bukan sekadar keterampilan — ini kebutuhan survival.
Pesantren, dengan banyak santri yang hidup bersama, menyediakan latihan negosiasi harian yang sangat intens. Tradisi musyawarah mengajarkan cara mencapai keputusan bersama secara sistematis. Organisasi santri mengharuskan koordinasi dan kompromi di antara banyak pihak. Bahkan hal sesederhana mengatur jadwal mandi di kamar bersama sudah menjadi latihan negosiasi yang nyata.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menempatkan banyak santri dalam komunitas besar yang menuntut negosiasi dan musyawarah setiap hari. Tradisi ini sudah berjalan puluhan tahun. Masih banyak yang perlu diperbaiki, tapi latihan negosiasinya cukup intensif.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang bisa bernegosiasi dengan baik tidak selalu mendapat semua yang ia inginkan. Tapi ia selalu punya cara untuk memperjuangkannya dengan bermartabat.