Anak bisa bertanya apa saja ke ChatGPT dan mendapat jawaban dalam hitungan detik. PR bisa dikerjakan AI. Essay bisa ditulis AI. Lalu apa yang tersisa untuk dipelajari anak? Pertanyaan ini mungkin terdengar menakutkan — tapi jawabannya justru membuka peluang baru. Di era AI, yang paling berharga bukan kemampuan menjawab — mesin sudah bisa. Yang paling berharga adalah kemampuan bertanya dengan cara yang belum pernah ditanyakan sebelumnya. Kreativitas. Berpikir kritis. Empati. Kepemimpinan. Semua ini belum bisa digantikan AI.
Ini tantangan yang dihadapi hampir semua orang tua di era modern. Bukan masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan satu solusi. Tapi ada prinsip-prinsip yang cukup konsisten dan bisa membantu.
Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, pahami bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan anak. Lingkungan dan zaman berperan besar. Yang bisa kita lakukan adalah membekali anak dengan keterampilan untuk menavigasi tantangan ini secara bijak. Kedua, jadi contoh. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang didengar. Ketiga, ciptakan lingkungan yang mendukung — baik di rumah maupun di lingkungan pendidikan. Keempat, diskusikan secara terbuka. Anak yang terbiasa berdiskusi tentang topik-topik yang sulit punya kemampuan berpikir yang lebih matang. Kelima, bersabar. Perubahan butuh waktu, dan setiap langkah kecil sudah bermakna.
Bagaimana lingkungan pendidikan berperan?
Pesantren, dengan tradisi fathul kutub yang melatih riset mandiri dan munaqasyah yang melatih debat dan berpikir kritis, secara tidak sengaja sudah melatih keterampilan yang paling dibutuhkan di era AI: kemampuan berpikir original, berargumen, dan mengevaluasi informasi secara kritis.
Tentu ini bukan solusi untuk semua keluarga, dan pesantren sendiri masih terus memperbaiki banyak hal. Tapi prinsip-prinsipnya bisa diadopsi di konteks mana pun.
Bagi yang tertarik melihat pendekatan pesantren secara langsung, Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat terbuka untuk kunjungan kapan saja. Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, pesantren ini terus berusaha memberikan pendidikan yang utuh bagi setiap santri.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Mendidik anak di zaman ini memang tidak mudah. Tapi setiap usaha yang kita lakukan — meskipun terasa kurang — sudah jauh lebih bermakna dari tidak berusaha sama sekali.