Ada fase yang dialami banyak keluarga Muslim: anak yang dulu rajin sholat mulai malas. Yang dulu nurut kalau diajak mengaji mulai sering alasan. Yang dulu tidak pernah mempertanyakan mulai bertanya “kenapa harus begini?” Fase ini bisa sangat mengkhawatirkan bagi orang tua. Tapi sebelum panik, ada baiknya memahami bahwa ini sebenarnya bagian normal dari proses tumbuh dewasa.
Kenapa remaja mulai mempertanyakan agama?
Karena remaja sedang dalam proses membentuk identitasnya sendiri. Ia tidak lagi menerima sesuatu hanya karena “kata orang tua” atau “dari dulu memang begitu.” Ia ingin tahu alasannya. Ini bukan pembangkangan — ini perkembangan kognitif yang sehat. Anak yang tidak pernah bertanya justru yang perlu diwaspadai — karena mungkin ia hanya patuh di permukaan tanpa pemahaman yang mendalam.
Di era digital, pertanyaan-pertanyaan ini semakin intens karena anak terpapar pada begitu banyak perspektif yang berbeda. Ia melihat teman-temannya yang tidak menjalankan agama tapi terlihat bahagia. Ia membaca argumen yang menantang keyakinan yang selama ini diterimanya. Ia bertemu dengan cara pandang yang sama sekali berbeda dari lingkungan rumahnya.
Menghadapi ini dengan memaksa, memarahi, atau mengancam biasanya kontraproduktif. Anak yang dipaksa cenderung menjauh lebih jauh. Yang dimarahi cenderung menyembunyikan keraguan dan menjalani ibadah secara mekanis tanpa penghayatan.
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Pertama, dengarkan pertanyaannya tanpa langsung menghakimi. Ketika anak bertanya “kenapa harus sholat lima waktu?” — tahan diri untuk tidak menjawab “karena wajib, titik.” Dengarkan apa yang ada di balik pertanyaan itu. Mungkin ia benar-benar ingin tahu. Mungkin ia sedang berjuang. Mungkin ia butuh didengar, bukan diceramahi.
Kedua, berikan jawaban yang jujur dan sesuai kapasitas berpikirnya. Remaja butuh jawaban yang masuk akal — bukan sekadar “pokoknya harus.” Kalau orang tua tidak tahu jawabannya, akui saja dan cari bersama. Kejujuran ini justru membangun kepercayaan.
Ketiga, jadilah contoh, bukan penegak aturan. Anak remaja lebih terpengaruh oleh apa yang dilihat daripada yang didengar. Orang tua yang menjalani ibadahnya sendiri dengan konsisten dan ikhlas — tanpa perlu memamerkan atau memaksa — memberikan contoh yang jauh lebih kuat dari ceramah mana pun.
Keempat, berikan ruang. Iman yang tumbuh dari pemahaman sendiri jauh lebih kuat dari iman yang dipaksakan. Proses mencari, bertanya, bahkan ragu — ini bagian dari perjalanan spiritual yang sehat. Orang tua tidak perlu mengontrol setiap tahapnya, cukup mendampingi.
Bagaimana lingkungan berperan?
Lingkungan sangat menentukan — terutama di usia remaja di mana pengaruh teman sebaya sering lebih kuat dari pengaruh orang tua. Anak yang berada di lingkungan di mana ibadah adalah kebiasaan bersama — bukan paksaan individu — cenderung menjalani ibadah dengan lebih natural.
Di rumah, menciptakan lingkungan ini tidak selalu mudah — terutama kalau hanya anak sendiri yang diajak sementara saudaranya tidak, atau kalau lingkungan sekitar tidak mendukung. Ini tantangan nyata yang dihadapi banyak keluarga.
Beberapa keluarga menemukan bahwa menempatkan anak di lingkungan yang secara kolektif menjalani ibadah membantu proses internalisasi nilai agama. Bukan karena dipaksa, tapi karena menjadi bagian dari ritme kehidupan bersama.
Pesantren adalah salah satu lingkungan seperti itu. Ribuan anak sholat berjamaah, mengaji, dan menjalani ibadah bersama setiap hari — bukan karena diawasi, tapi karena itu sudah menjadi kebiasaan kolektif. Apakah semua santri langsung khusyuk? Tentu tidak. Ada yang masih berjuang, ada yang masih bertanya-tanya. Tapi lingkungan yang konsisten perlahan membantu kebiasaan itu terinternalisasi.
Apakah pesantren menjamin anak menjadi religius? Tidak ada yang bisa menjamin itu. Iman adalah perjalanan personal yang tidak bisa dipaksakan oleh lembaga mana pun. Yang bisa dilakukan pesantren adalah menyediakan lingkungan yang mendukung dan kebiasaan yang konsisten. Selebihnya — antara anak dan Tuhannya.
Apa yang perlu diingat?
Remaja yang bertanya bukan berarti kehilangan iman. Kadang justru ia sedang mencari iman yang lebih dalam — yang benar-benar miliknya, bukan sekadar warisan yang diterima tanpa pemahaman. Proses ini perlu didampingi dengan sabar, bukan dikontrol dengan panik.
Dan kalau anak akhirnya kembali ke ibadah setelah melewati fase pertanyaan — imannya biasanya lebih kuat dan lebih personal dibandingkan sebelumnya. Karena ia kembali bukan karena dipaksa, tapi karena menemukan alasannya sendiri.
Bagi yang merasa anak membutuhkan lingkungan spiritual yang lebih mendukung, Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menyediakan lingkungan di mana ibadah menjadi kebiasaan harian yang dijalani bersama banyak santri. Bukan jaminan kesempurnaan spiritual — tapi fondasi kebiasaan yang insya Allah cukup kuat untuk dibawa ke kehidupan selanjutnya.
Untuk informasi, hubungi WhatsApp 0812111180. Atau kunjungi langsung kapan saja.
Iman yang dipaksa rapuh. Iman yang tumbuh dari pemahaman — meskipun prosesnya lebih lama — biasanya yang paling bertahan.