Setiap sore drama yang sama. Orang tua menyuruh belajar, anak menunda, berakhir dengan perdebatan yang melelahkan kedua pihak. Atau lebih parah: anak duduk di meja belajar tapi matanya kosong, pikirannya entah di mana. Siklus ini bisa diputus — bukan dengan memaksa lebih keras, tapi dengan mengubah cara pandang tentang belajar itu sendiri.
Kenapa anak tidak suka belajar?
Sebelum menyimpulkan anak malas, coba pahami dulu perspektifnya. Bagi banyak anak, belajar identik dengan duduk diam, membaca hal yang membosankan, lalu diuji. Tidak ada yang menyenangkan dari itu. Yang membuat anak tidak suka bukan belajarnya — tapi caranya yang tidak menarik.
Ditambah, belajar sering dikaitkan dengan tekanan. Harus dapat nilai bagus. Harus masuk ranking. Harus membanggakan orang tua. Ketika belajar hanya diasosiasikan dengan tekanan, wajar kalau anak menghindarinya. Sama seperti orang dewasa menghindari pekerjaan yang hanya menghasilkan stres tanpa kepuasan.
Bagaimana membuat belajar terasa menarik?
Pertama, hubungkan pelajaran dengan hal yang anak pedulikan. Anak yang suka game mungkin tertarik belajar logika dan coding. Yang suka memasak mungkin tertarik pada kimia. Yang suka sepak bola mungkin tertarik pada fisika gerakan. Menemukan koneksi ini membuat pelajaran terasa relevan — bukan sekadar teori abstrak. Kedua, ubah suasana. Belajar tidak harus selalu di meja. Kadang di taman, di perpustakaan, atau sambil berjalan. Perubahan suasana merangsang otak dan mengurangi kebosanan. Ketiga, buat belajar menjadi pengalaman, bukan kewajiban. Kunjungan ke museum, eksperimen sederhana di dapur, atau diskusi tentang berita terkini — semua ini belajar tanpa terasa seperti belajar.
Keempat, kurangi tekanan hasil. Anak yang belajar untuk memahami — bukan untuk nilai — biasanya lebih menikmati prosesnya. Dan ironisnya, pemahaman yang tulus akhirnya menghasilkan nilai yang baik juga. Kelima, berikan otonomi. Biarkan anak menentukan kapan dan bagaimana ia belajar, selama targetnya tercapai. Anak yang merasa punya kontrol atas proses belajarnya lebih termotivasi dari yang dijadwalkan setiap menitnya.
Pesantren, dengan pendekatan belajar yang berbeda dari sekolah konvensional — tradisi fathul kutub yang menuntut riset mandiri, debat yang merangsang pemikiran, dan lingkungan di mana belajar menjadi aktivitas kolektif yang dijalani bersama — kadang berhasil membuat anak yang tadinya tidak suka belajar menemukan motivasi baru. Bukan karena dipaksa lebih keras, tapi karena konteksnya berubah.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menjalankan pendekatan belajar yang memadukan akademik dengan pengalaman langsung. Hasilnya bervariasi, tapi bagi sebagian anak, perubahan lingkungan ini menjadi pemicu motivasi yang baru.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang suka belajar bukan anak yang tidak pernah merasa bosan. Ia anak yang sudah menemukan alasan yang cukup kuat untuk terus mencoba meskipun kadang membosankan.