Bagaimana Membantu Anak yang Terlalu Banyak Berpikir dan Sulit Tidur

Lampu sudah dimatikan. Selimut sudah ditarik. Tapi anak masih terjaga. Bukan karena tidak mengantuk — tapi karena pikirannya tidak mau berhenti. Besok ada presentasi di depan kelas. Tadi teman berkata sesuatu yang menyakitkan dan ia masih memikirkannya. Bagaimana kalau besok ia melakukan kesalahan lagi. Satu pikiran menghubungkan ke pikiran berikutnya, dan berikutnya lagi, seperti rantai yang tidak ada ujungnya.

Apakah overthinking pada anak itu umum?

Lebih umum dari yang disadari banyak orang tua. Anak-anak — terutama yang cerdas dan sensitif — bisa sangat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mereka memikirkan hal-hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh anak seusianya: apakah teman-temannya benar-benar menyukainya, apakah ia cukup pintar, apakah sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang tuanya.

Yang membuat ini semakin rumit: anak sering tidak tahu bahwa yang dialaminya itu overthinking. Ia hanya tahu bahwa ia tidak bisa tidur, atau bahwa perutnya sakit setiap malam, atau bahwa ada rasa tidak tenang yang tidak bisa ia jelaskan.

Kenapa malam hari sering menjadi waktu terburuk?

Karena di malam hari tidak ada distraksi. Siang hari, anak sibuk dengan sekolah, teman, dan kegiatan. Pikiran-pikiran yang mengganggu tertutup oleh kesibukan. Tapi begitu lampu mati dan dunia sunyi, pikiran itu muncul — lebih keras dari biasanya karena tidak ada lagi yang bersaing dengannya.

Ditambah, malam hari adalah waktu di mana otak memproses pengalaman hari itu. Kalau ada sesuatu yang belum terselesaikan — konflik dengan teman, tugas yang belum selesai, ketakutan tentang besok — otak akan terus berusaha memprosesnya, dan itu muncul sebagai pikiran yang berputar-putar.

Apa yang bisa dilakukan?

Pertama, buat ritual sebelum tidur yang menenangkan. Bukan langsung dari layar ke tempat tidur. Tapi ada jeda: membaca buku ringan, berdoa bersama, atau sekadar mengobrol pelan tentang hari yang sudah dijalani. Ritual ini memberi sinyal ke otak bahwa waktunya beralih dari mode aktif ke mode istirahat.

Kedua, ajarkan teknik “worry time.” Sisihkan waktu khusus — mungkin lima belas menit di sore hari — di mana anak boleh menuliskan atau membicarakan semua kekhawatirannya. Dengan begitu, ketika malam datang dan pikiran mulai berputar, ia bisa mengatakan pada dirinya sendiri: “Ini sudah aku pikirkan tadi sore. Sekarang waktunya istirahat.”

Ketiga, ajarkan teknik grounding. Saat pikiran mulai berputar di malam hari: sebutkan lima hal yang bisa didengar, empat yang bisa dirasakan, tiga yang bisa dilihat. Teknik ini membawa pikiran kembali ke saat ini — alih-alih terbang ke skenario masa depan yang mungkin tidak akan pernah terjadi.

Keempat, normalisasi. “Mama juga kadang susah tidur karena mikirin banyak hal. Itu wajar. Yang penting kita punya cara untuk mengatasinya.” Anak yang tahu bahwa pengalamannya bukan hal aneh merasa lebih tenang.

Kelima, kurangi stimulasi di malam hari. Layar yang memancarkan cahaya biru mengganggu produksi melatonin. Berita yang menegangkan memberi bahan tambahan untuk overthinking. Percakapan tentang masalah berat sebaiknya tidak dilakukan menjelang tidur. Malam hari seharusnya menjadi waktu yang paling tenang — bukan paling intens.

Dan kalau susah tidur karena overthinking sudah berlangsung lama dan mengganggu fungsi anak di siang hari, ini saatnya konsultasi ke profesional. Kadang ada kecemasan yang lebih dalam yang perlu ditangani.

Bagaimana lingkungan berperan?

Lingkungan yang memiliki rutinitas malam yang jelas membantu anak yang overthinking. Ketika jadwal menjelang tidur sudah pasti — mengaji, berdoa, istirahat — otak punya kerangka yang membantu transisi dari aktif ke istirahat.

Di pesantren, rutinitas malam cukup terstruktur. Setelah belajar malam, ada sholat isya berjamaah, lalu persiapan tidur di waktu yang sudah ditentukan. Ritual kolektif ini — doa bersama, ketenangan masjid, suasana asrama yang mulai sunyi — memberikan transisi yang cukup natural menuju tidur. Dan karena semua teman sekamar mengikuti ritme yang sama, ada rasa kebersamaan yang menenangkan.

Tapi perlu diakui: ada juga santri yang justru overthinking-nya muncul di lingkungan baru pesantren — terutama di awal. Rindu rumah, kecemasan adaptasi, dan ketidakpastian bisa memperburuk pikiran yang berputar di malam hari. Pendampingan wali kamar yang peka di momen-momen ini sangat penting.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menjalankan rutinitas malam yang terstruktur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Suasana malam di pesantren yang berada di dataran tinggi — udara sejuk, ketenangan setelah isya — cukup mendukung untuk istirahat. Meskipun tentu pendampingan emosional malam hari masih perlu ditingkatkan.

Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.

Pikiran yang berputar di malam hari bukan musuh. Ia sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diproses. Dan anak yang diajari cara memproses itu — bukan mengabaikannya — tidur lebih nyenyak dan bangun lebih siap.